SUAPAN PERTAMA UNTUK ANAKKU

penulis Ummu “˜Abdirrahman Anisah bintu “˜Imran
Sakinah Permata Hati 29 - Juni - 2003 15:04:24

Ada banyak cara yg berkembang di masyarakat utk menyambut datang bayi. Islam mengajarkan agar bayi yg baru lahir ditahnik yaitu memberi kurma yg sudah dilumatkan lbh dulu.

Lahir seorang bayi merupakan awal dari kehidupan di dunia. Dia mulai merasakan aktivitas hidup di dunia ini. Tentu tdk patut ayah dan ibu yg menginginkan buah hati menjadi anak yg shalih membiarkan hari-hari pertama berjalan tanpa dihiasi tuntunan syariat yg mulia ini bahkan dikotori oleh hal-hal yg tdk diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya .

Banyak hal dipandang oleh masyarakat sebagai adat utk menyambut kelahiran seorang bayi. Ada yg memasang lentera di kuburan ari-ari bayi ada yg memasang gunting atau senjata tajam lain di dekat kepala bayi ada yg meletakkan rangkaian bawang dan cabai merah di atas kepala bayi ada pula yg memasang gelang dari benang utk penangkal bala”™ bagi si bayi. Bahkan sebagian orang meyakini kalau hal itu tdk dilakukan mk keselamatan si jabang bayi pun terancam. Kalau sudah begini dikhawatirkan kesyirikan akan masuk tanpa terhindarkan.

Sebenar apa yg harus dilakukan pada hari-hari pertama setelah kelahiran telah diajarkan oleh Allah . Melalui perbuatan Rasulullah  kita bisa melihat dgn jelas penetapan syariat dlm hal ini. Kita simak apa yg dilakukan oleh Rasulullah  terhadap seorang bayi yg baru saja lahir sebagaimana penuturan istri beliau “˜Aisyah bintu Abi Bakr Ummul Mukminin x :
Apabila didatangkan bayi yg baru lahir ke hadapan Rasulullah  mk beliau mendoakan barakah kepada dan mentahniknya.”

Tahnik adl mengunyah kurma sampai lumat hingga bisa ditelan kemudian menyuapkan ke mulut bayi. Apabila tdk didapatkan kurma mk diganti dgn makanan manis lain yg bisa digunakan utk mentahnik. Para ulama bersepakat bahwa istihbab melakukan tahnik pada hari kelahiran seorang anak. Demikian dijelaskan oleh Imam an-Nawawi t ketika menerangkan tentang tahnik ini.

Gambaran perbuatan Rasulullah  ini bisa kita lihat dlm hadits Anas bin Malik z :
“œAku membawa “˜Abdullah bin Abi Thalhah al-Anshari kepada Rasulullah  pada hari kelahiran dan waktu itu beliau mengenakan mantel sedang mengecat unta dgn ter. Lalu beliau berta “œApakah engkau membawa kurma?” Aku menjawab “œYa.” Kemudian kuberikan pada beliau beberapa buah kurma lalu beliau masukkan ke mulut dan mengunyahnya. Kemudian beliau membuka mulut bayi dan meludahkan kurma itu ke mulut bayi itu. Mulailah bayi itu menggerak-gerakkan lidah utk merasakan kurma tersebut. mk Rasulullah  bersabda “œKesukaan Anshar adl kurma.” dan beliau memberi nama “˜Abdullah.

Hadits Anas bin Malik di atas juga memberikan penjelasan kepada kita bahwa tahnik dilakukan dgn menggunakan kurma dan ini yg disenangi. Apabila dilakukan dgn selain kurma mk tahnik itu pun telah terlaksana namun kurma lbh utama. Dari sini pula kita memetik faidah bahwa tahnik dilakukan oleh orang yg shalih baik laki2 ataupun perempuan.

Begitu pula bisa kita simak kisah-kisah tentang pelaksanaan tahnik yg datang dari sahabat-sahabat yg lainnya. Abu Musa al-Asy”™ari z menceritakan:
Telah lahir anak laki-lakiku lalu aku membawa kepada Nabi  kemudian beliau memberi nama Ibrahim dan mentahnik dgn kurma.

Asma”™ bintu Abi Bakr c mengisahkan ketika dia mengandung anak “˜Abdullah ibnu az-Zubair di Mekkah :

“œDia mengatakan: Aku keluar sementara telah dekat waktuku melahirkan. mk aku pergi ke Madinah dan aku singgah di Quba”™ serta melahirkan di sana. Kemudian aku mendatangi Rasulullah  lalu beliau meletakkan anakku di pangkuannya. Kemudian beliau meminta kurma dan mengunyah lalu meludahkan ke dlm mulut anakku. mk yg pertama kali masuk ke perut adl ludah Rasulullah . Beliau mentahnik dgn kurma kemudian mendoakan dan memintakan barakah baginya. Dan dia adl bayi pertama yg dilahirkan dlm Islam .

Kisah Asma”™ x ini memberikan faidah kepada kita tentang disenangi mendoakan bayi yg dilahirkan itu ketika tahnik.

Tak luput dari perhatian kita semua yg kita simak dari Anas bin Malik Abu Musa al-Asy”™ari serta Asma”™ bintu Abi Bakr radhiallahu “˜anhum di atas menunjukkan boleh memberi nama anak pada hari kelahirannya. Ini pun diperkuat oleh penuturan sahabat yg mulia Sahl bin Sa”™d z :

“œDidatangkan al-Mundzir putra Abu Usaid ke hadapan Rasulullah  ketika dia dilahirkan. mk Nabi  meletakkan di atas pangkuan sedangkan Abu Usaid duduk. Pada waktu itu Rasulullah sedang sibuk sehingga Abu Usaid memerintahkan agar anak dibawa kembali mk anak itu diangkat dari pangkuan Rasulullah  dan mereka pun mengembalikan pada Abu Usaid. Ketika Rasulullah  selesai dari kesibukan beliau berta “œDi mana bayi tadi?” Abu Usaid pun menjawab “œKami membawa kembali ya Rasulullah!” Lalu beliau berta “œSiapa namanya?” Jawab Abu Usaid “œFulan ya Rasulullah!” Beliau pun bersabda “œTidak akan tetapi nama Al-Mundzir.” Kemudian pada hari itu beliau memberi nama Al-Mundzir.
Inilah tuntunan syariat bagi tiap orang tua yg mengharap kebaikan bagi anaknya. tdk layak semua ini dilewatkan begitu saja krn sebaik-baik petunjuk adl petunjuk Rasulullah .
Wallahu ta”™ala a”™lam. 

Sumber: www.asysyariah.com