Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi LcTaat kepada pemerintah dalam perkara kebaikan. Inilah salah satu prinsip agama yg kini telah banyak dilupakan dan ditinggalkan umat. Yang kini banyak dilakukan justru berupaya mencari keburukan pemerintah sebanyak-banyaknya utk kemudian disebarkan ke masyarakat. Akibat buruk dari ditinggalkannya prinsip ini sudah banyak kita rasakan. Satu di antaranya adl munculnya perpecahan di kalangan umat Islam saat menentukan awal Ramadhan atau Hari Raya.Bulan suci Ramadhan merupakan bulan istimewa bagi umat Islam. Hari-harinya diliputi suasana ibadah; shaum shalat tarawih bacaan Al-Qur`an dan sebagainya. Sebuah fenomena yg tak didapati di bulan-bulan selainnya. Tak ayal bila kedatangannya menjadi dambaan dan kepergiannya meninggalkan kesan yg mendalam. Tak kalah istimewanya ternyata bulan suci Ramadhan juga sebagai salah satu syi’ar kebersamaan umat Islam. Secara bersama-sama mereka melakukan shaum Ramadhan; dgn menahan diri dari rasa lapar dahaga dan dorongan hwa nfsu (**) sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari serta mengisi malam- malamnya dgn shalat tarawih dan berbagai macam ibadah lainnya. Tak hanya kita umat Islam di Indonesia yg merasakannya. Bahkan seluruh umat Islam di penjuru dunia pun turut merasakan dan memilikinya.Namun syi’ar kebersamaan itu kian hari semakin pudar manakala elemen-elemen umat Islam di banyak negeri saling berlomba merumuskan keputusan yg berbeda dalam menentukan awal dan akhir bulan Ramadhan. Keputusan itu terkadang atas nama ormas terkadang atas nama parpol dan terkadang pula atas nama pribadi. Masing-masing mengklaim keputusannya yg paling benar. Tak pelak shaum Ramadhan yg merupakan syi’ar kebersamaan itu diawali dan diakhiri dgn fenomena perpecahan di tubuh umat Islam sendiri. Tentunya ini merupakan fenomena menyedihkan bagi siapa pun yg mengidamkan persatuan umat.Mengapa hal ini bisa terjadi? Mungkin anda akan berkata: “Itu krn adanya perbedaan pendapat di antara elemen umat Islam apakah awal masuk dan keluarnya bulan Ramadhan itu ditentukan oleh ru`yatul hilal ataukah dgn ilmu hisab?”. Bisa juga anda mengatakan: “Karena adanya perbedaan pendapat apakah di dunia ini hanya berlaku satu mathla’ ataukah masing-masing negeri mempunyai mathla’ sendiri- sendiri?”Bila kita mau jujur soal penyebab pudarnya syi’ar kebersamaan itu lepas adanya realita perbedaan pendapat di atas utamanya disebabkan makin tenggelamnya salah satu prinsip penting agama Islam dari hati sanubari umat Islam. Prinsip itu adl memuliakan dan menaati penguasa umat Islam dalam hal yg ma’ruf .Mungkin timbul tanda tanya: “Apa hubungannya antara ketaatan terhadap penguasa dgn pelaksanaan shaum Ramadhan?”Layak dicatat hubungan antara keduanya sangat erat. Hal itu karena:1. Shaum Ramadhan merupakan syi’ar kebersamaan umat Islam dan suatu kebersamaan umat tidaklah mungkin terwujud tanpa adanya ketaatan terhadap penguasa.2. Penentuan pelaksanaan shaum Ramadhan merupakan perkara yg ma’ruf dan bukan kemaksiatan. Sehingga menaati penguasa dalam hal ini termasuk perkara yg diperintahkan dalam agama Islam. Terlebih ketika penentuannya setelah melalui sekian proses dari pengerahan tim ru‘yatul hilal di sejumlah titik di negerinya hingga digelarnya sidang-sidang istimewa.3. Realita juga membuktikan dgn menaati keputusan penguasa dalam hal pelaksanaan shaum Ramadhan dan penentuan hari raya ‘Idul Fithri benar-benar tercipta suasana persatuan dan kebersamaan umat. Sebaliknya ketika umat Islam berseberangan dgn penguasanya perpecahan di tubuh mereka pun sangat mencolok. Maka dari itu menaati penguasa dalam hal ini termasuk perkara yg diperintahkan dalam agama Islam.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللهَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَىاللهَ، وَمَنْ أَطَاعَ أَمِيْرِي فَقَدْ أَطَاعَنِي، وَمَنْ عَصَى أَمِيْرِي فَقَدْ عَصَانِي“Barangsiapa menaatiku berarti telah menaati Allah. Barangsiapa menentangku berarti telah menentang Allah. Barangsiapa menaati pemimpin ku berarti telah menaatiku dan barangsiapa menentang pemimpin ku berarti telah menentangku.” {HR. Al-Bukhari dan Muslim dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu}Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani berkata: “Di dalam hadits ini terdapat keterangan tentang kewajiban menaati para penguasa dalam perkara-perkara yg bukan kemaksiatan. Adapun hikmahnya adl utk menjaga persatuan dan kebersamaan krn di dalam perpecahan terdapat kerusakan.” Mungkin ada yg bertanya “Adakah untaian fatwa dari para ulama seputar permasalahan ini?” Maka jawabnya ada sebagaimana berikut ini:Fatwa Para Ulama Seputar Shaum Ramadhan Bersama Penguasa Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Seseorang bershaum bersama penguasa dan jamaah umat Islam baik ketika cuaca cerah ataupun mendung.” Beliau juga berkata: “Tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala bersama Al-Jama’ah.” {Majmu’ Fatawa karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah juz 25 hal. 117} Al-Imam At-Tirmidzi berkata: “Sebagian ahlul ilmi menafsirkan hadits ini1 dgn ucapan : ‘Sesungguhnya shaum dan berbukanya itu bersama Al-Jama’ah dan mayoritas umat Islam’.” {Tuhfatul Ahwadzi juz 2 hal. 37. Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah jilid 2 hal. 443} Al-Imam Abul Hasan As-Sindi berkata: “Yang jelas makna hadits ini adl bahwasanya perkara-perkara semacam ini {menentukan pelaksanaan shaum Ramadhan berbuka puasa/Iedul Fithri dan Iedul Adha -pen.} keputusannya bukanlah di tangan individu. Tidak ada hak bagi mereka utk melakukannya sendiri-sendiri. Bahkan permasalahan semacam ini dikembalikan kepada penguasa dan mayoritas umat Islam. Dalam hal ini tiap individu pun wajib utk mengikuti penguasa dan mayoritas umat Islam. Maka dari itu jika ada seseorang yg melihat hilal namun penguasa menolak persaksiannya sudah sepatutnya utk tidak dianggap persaksian tersebut dan wajib baginya utk mengikuti mayoritas umat Islam dalam permasalahan itu.” {Hasyiyah ‘ala Ibni Majah lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah jilid 2 hal.

443} Asy-Syaikh Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani2 berkata: “Dan selama belum bersatunya negeri-negeri Islam di atas satu mathla’ {dalam menentukan pelaksanaan shaum Ramadhan -pen.} aku berpendapat bahwa tiap warga negara hendaknya melaksanakan shaum Ramadhan bersama negaranya masing-masing dan tidak bercerai-berai dalam perkara ini yakni shaum bersama pemerintah dan sebagian lainnya shaum bersama negara lain baik mendahului pemerintahnya atau pun belakangan. Karena yg demikian itu dapat mempertajam perselisihan di tengah masyarakat muslim sendiri.

Sebagaimana yg terjadi di sebagian negara Arab sejak beberapa tahun yg lalu. Wallahul Musta’an.”  Beliau juga berkata: “Inilah yg sesuai dgn syariat yg toleran yg di antara misinya adl mempersatukan umat manusia menyatukan barisan mereka serta menjauhkan mereka dari segala pendapat pribadi yg memicu perpecahan. Syariat ini tidak mengakui pendapat pribadi –meski menurut yg bersangkutan benar– dalam ibadah yg bersifat kebersamaan seperti; shaum Ied dan shalat berjamaah. Tidakkah engkau melihat bahwa sebagian shahabat radhiallahu ‘anhum shalat bermakmum di belakang shahabat lainnya padahal sebagian mereka ada yg berpendapat bahwa menyentuh wanita menyentuh kemaluan dan keluarnya darah dari tubuh termasuk pembatal wudhu sementara yg lainnya tidak berpendapat demikian?! Sebagian mereka ada yg shalat secara sempurna dalam safar dan di antara mereka pula ada yg mengqasharnya . Namun perbedaan itu tidaklah menghalangi mereka utk melakukan shalat berjamaah di belakang seorang imam {walaupun berbeda pendapat dengannya -pen.} dan tetap berkeyakinan bahwa shalat tersebut sah. Hal itu karena adanya pengetahuan mereka bahwa bercerai-berai dalam urusan agama lbh buruk daripada sekedar berbeda pendapat. Bahkan sebagian mereka mendahulukan pendapat penguasa daripada pendapat pribadinya pada momen berkumpulnya manusia seperti di Mina.

Hal itu semata-mata utk menghindari kesudahan buruk bila dia tetap mempertahankan pendapatnya. Sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Imam Abu Dawud bahwasanya Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan radhiallahu ‘anhu shalat di Mina 4 rakaat {Zhuhur ‘Ashar dan Isya’ -pen}. Maka shahabat Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu mengingkarinya seraya berkata: “Aku telah shalat bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam Abu Bakr ‘Umar dan di awal pemerintahan ‘Utsman 2 rakaat dan setelah itu ‘Utsman shalat 4 rakaat. Kemudian terjadilah perbedaan di antara kalian {sebagian shalat 4 rakaat dan sebagian lagi 2 rakaat -pen.} dan harapanku dari 4 rakaat shalat itu yg diterima adl yg 2 rakaat darinya.”Namun ketika di Mina shahabat Abdullah bin Mas’ud justru shalat 4 rakaat. Maka dikatakanlah kepada beliau: “Engkau telah mengingkari ‘Utsman atas shalatnya yg 4 rakaat kemudian engkau shalat 4 rakaat pula?!” Abdullah bin Mas’ud berkata: “Perselisihan itu jelek.” Sanadnya shahih. Diriwayatkan pula oleh Al-Imam Ahmad seperti riwayat di atas dari shahabat Abu Dzar radhiallahu ‘anhu.Maka dari itu hendaknya hadits dan atsar ini benar-benar dijadikan bahan renungan oleh orang- orang yg berpecah-belah dalam urusan shalat mereka serta tidak mau bermakmum kepada sebagian imam masjid khususnya shalat witir di bulan Ramadhan dgn dalih beda madzhab. Demikian pula orang-orang yg bershaum dan berbuka sendiri baik mendahului mayoritas kaum muslimin atau pun mengakhirkannya dgn dalih mengerti ilmu falaq tanpa peduli harus berseberangan dgn mayoritas kaum muslimin. Hendaknya mereka semua mau merenungkan ilmu yg telah kami sampaikan ini. Dan semoga ini bisa menjadi obat bagi kebodohan dan kesombongan yg ada pada diri mereka. Dengan harapan agar mereka selalu dalam satu barisan bersama saudara-saudara mereka kaum muslimin krn tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala bersama Al-Jama’ah.” {Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah jilid 2 hal.

444-445} Asy-Syaikh Al-Allamah Abdul Aziz bin Baz rahimahullahu pernah ditanya: “Jika awal masuknya bulan Ramadhan telah diumumkan di salah satu negeri Islam semisal kerajaan Saudi Arabia namun di negeri kami belum diumumkan bagaimanakah hukumnya? Apakah kami bershaum bersama kerajaan Saudi Arabia ataukah bershaum dan berbuka bersama penduduk negeri kami manakala ada pengumuman? Demikian pula halnya dgn masuknya Iedul Fithri apa yg harus kami lakukan bila terjadi perbedaan antara negeri kami dgn negeri yg lainnya? Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas engkau dgn kebaikan.”Beliau menjawab “Setiap muslim hendaknya bershaum dan berbuka bersama negerinya masing-masing. Hal itu berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُوْمُوْنَ، وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُوْنَ، وَاْلأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّوْنَ“Waktu shaum itu di hari kalian bershaum berbuka adl pada saat kalian berbuka dan berkurban/Iedul Adha di hari kalian berkurban.”Wabillahit taufiq.  Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu ditanya: “Umat Islam di luar dunia Islam sering berselisih dalam menyikapi berbagai macam permasalahan seperti masuk dan keluarnya bulan Ramadhan serta saling berebut jabatan di bidang dakwah.

Fenomena ini terjadi tiap tahun. Hanya saja tingkat ketajamannya berbeda-beda tiap tahunnya.

Penyebab utamanya adl minimnya ilmu agama mengikuti hwa nfsu (**) dan terkadang fanatisme madzhab atau partai tanpa mempedulikan rambu-rambu syariat Islam dan bimbingan para ulama yg kesohor akan ilmu dan wara’-nya. Maka adakah sebuah nasehat yg kiranya bermanfaat dan dapat mencegah sekian kejelekan? Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan taufiq dan penjagaan-Nya kepada engkau.”Beliau berkata: “Umat Islam wajib bersatu dan tidak boleh berpecah-belah dalam beragama.

Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّيْنِ مَا وَصَّى بِهِ نُوْحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيْمَ وَمُوْسَى وَعِيْسَى أَنْ أَقِيْمُوا الدِّيْنَ وَلاَ تَتَفَرَّقُوا فِيْهِ“Dia telah mensyariatkan bagi kalian tentang agama apa yg telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yg telah Kami wasiatkan kepadamu Ibrahim Musa dan Isa yaitu:’ Tegakkanlah agama dan janganlah kalian berpecah-belah tentangnya’.” وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا“Dan berpegang-teguhlah kalian semua dgn tali Allah dan janganlah kalian bercerai- berai.” وَلاَ تَكُوْنُوا كَالَّذِيْنَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُوْلَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيْمٌ“Dan janganlah kalian seperti orang-orang yg berpecah-belah dan berselisih setelah keterangan datang kepada mereka dan bagi mereka adzab yg pedih.” Sehingga umat Islam wajib utk menjadi umat yg satu dan tidak berpecah-belah dalam beragama. Hendaknya waktu shaum dan berbuka mereka satu dgn mengikuti keputusan lembaga/departemen yg menangani urusan umat Islam dan tidak bercerai-berai {dalam masalah ini} walaupun harus lbh tertinggal dari shaum kerajaan Saudi Arabia atau negeri Islam lainnya.”  Fatwa Al-Lajnah Ad-Da`imah Lil-Buhuts Al-‘Ilmiyyah wal-Ifta`: “…Dan tidak mengapa bagi penduduk negeri manapun jika tidak melihat hilal di tempat tinggalnya pada malam ke-30 utk mengambil hasil ru`yatul hilal dari tempat lain di negerinya. Jika umat Islam di negeri tersebut berbeda pendapat dalam hal penentuannya maka yg harus diikuti adl keputusan penguasa di negeri tersebut bila ia seorang muslim krn keputusannya akan sirnalah perbedaan pendapat itu. Dan jika si penguasa bukan seorang muslim maka hendaknya mengikuti keputusan majelis/departemen pusat yg membidangi urusan umat Islam di negeri tersebut. Hal ini semata-mata utk menjaga kebersamaan umat Islam dalam menjalankan shaum Ramadhan dan shalat Id di negeri mereka. Wabillahit taufiq washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa alihi wa shahbihi wasallam.”Pemberi fatwa: Asy-Syaikh Abdur Razzaq ‘Afifi Asy-Syaikh Abdullah bin Ghudayyan dan Asy- Syaikh Abdullah bin Mani’. Demikianlah beberapa fatwa para ulama terdahulu dan masa kini seputar kewajiban bershaum bersama penguasa dan mayoritas umat Islam di negerinya. Semoga menjadi pelita dalam kegelapan dan ibrah bagi orang-orang yg mendambakan persatuan umat Islam.Mungkin masih ada yg mengatakan bahwasanya kewajiban menaati penguasa dalam perkara semacam ini hanya berlaku utk seorang penguasa yg adil. Adapun bila penguasanya dzalim atau seorang koruptor tidak wajib taat kepadanya walaupun dalam perkara-perkara kebaikan dan bukan kemaksiatan termasuk dalam hal penentuan masuk dan keluarnya bulan Ramadhan ini.Satu hal yg perlu digarisbawahi dalam hal ini jika umat dihadapkan pada polemik atau perbedaan pendapat prinsip ‘berpegang teguh dan merujuk kepada Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam’ haruslah senantiasa dikedepankan. Sebagaimana bimbingan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam kalam-Nya nan suci:وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا“Dan berpegang-teguhlah kalian semua dgn tali Allah dan janganlah kalian bercerai- berai.” Al-Imam Al-Qurthubi berkata: “Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan kepada kita agar berpegang teguh dgn Kitab-Nya dan Sunnah Nabi-Nya serta merujuk kepada keduanya di saat terjadi perselisihan. Sebagaimana Dia memerintahkan kepada kita agar bersatu di atas Al-Qur`an dan As-Sunnah baik secara keyakinan atau pun amalan…” {Tafsir Al- Qurthubi 4/105}Para pembaca yg mulia bila anda telah siap utk merujuk kepada Al-Qur`an dan As-Sunnah maka simaklah bimbingan dari Al-Qur`an dan As-Sunnah berikut ini:Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:يَا أَيَّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا أَطِيْعُوا اللهَ وَأَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَأُوْلِي اْلأَمْرِ مِنْكُمْ“Wahai orang-orang yg beriman taatilah Allah dan Rasul-Nya dan Ulil Amri di antara kalian.” Al-Imam An-Nawawi berkata: “Yang dimaksud dgn Ulil Amri adl orang-orang yg Allah Subhanahu wa Ta’ala wajibkan utk ditaati dari kalangan para penguasa dan pemimpin umat.

Inilah pendapat mayoritas ulama terdahulu dan sekarang dari kalangan ahli tafsir dan fiqih serta yang lainnya.”Adapun baginda Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka beliau seringkali mengingatkan umatnya seputar permasalahan ini. Di antaranya dalam hadits-hadits beliau berikut ini:1. Shahabat ‘Adi bin Hatim radhiallahu ‘anhu berkata:يَا رَسُوْلَ اللهِ! لاَ نَسْأَلُكَ عَنْ طَاعَةِ مَنِ اتَّقَى، وَلَكِنْ مَنْ فَعَلَ وَفَعَلَ- فَذَكَرَ الشَّرَّ- فَقَالَ: اتَّقُوا اللهَ وَاسْمَعُوا وَأَطِيْعُوا“Wahai Rasulullah kami tidak bertanya kepadamu tentang ketaatan yg bertakwa. Yang kami tanyakan adl ketaatan terhadap penguasa yg berbuat demikian dan demikian .” Maka Rasulullah bersabda: “Bertakwalah kalian kepada Allah dengarlah dan taatilah .” {HR. Ibnu Abi ‘Ashim dalam Kitab As- Sunnah dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Zhilalul Jannah Fitakhrijis Sunnah 2/494 no. 1064}2. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:يَكُوْنُ بَعْدِيْ أَئِمَّةٌ، لاَيَهْتَدُوْنَ بِهُدَايَ، وَلاَ يَسْتَنُّوْنَ بِسُنَّتِيْ، وَسَيَقُوْمُ فِيْهِمْ رِجَالٌ، قُلُوْبُهُمْ قُلُوْبُ الشَّيَاطِيْنِ فِيْ جُثْمَانِ إِنْسٍ. قَالَ : قُلْتُ: كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ؟ قَالَ: تَسْمَعُ وَتُطِيْعُ لِلأَمِيْرِ، وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ، فَاسْمَعْ وَأَطِعْ!“Akan ada sepeninggalku nanti para imam/penguasa yg mereka itu tidak berpegang dgn petunjukku dan tidak mengikuti cara/jalanku. Dan akan ada di antara para penguasa tersebut orang-orang yg berhati setan namun berbadan manusia.” Hudzaifah berkata: “Apa yg kuperbuat bila aku mendapatinya?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hendaknya engkau mendengar dan menaati penguasa tersebut walaupun punggungmu dicambuk dan hartamu dirampas olehnya maka dengarkanlah dan taatilah .” 3. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:شِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِيْنَ تُبْغِضُوْنَهُمْ وَيُبْغِضُوْنَكُمْ وَتَلْعَنُوْنَهُمْ وَيَلْعَنُوْنَكُمْ. قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهُ! أَفَلاَ نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ؟ فَقَالَ: لاَ، مَا أَقَامُوا فِيْكُمُ الصَّلاَةَ، وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلاَتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُوْنَهُ فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ وَلاَ تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ“Seburuk-buruk penguasa kalian adl yg kalian benci dan mereka pun membenci kalian kalian mencaci mereka dan mereka pun mencaci kalian.” Lalu dikatakan kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah bolehkah kami memerangi mereka dgn pedang ?” Beliau bersabda: “Jangan selama mereka masih mendirikan shalat di tengah-tengah kalian. Dan jika kalian melihat mereka mengerjakan perbuatan yg tidak kalian sukai maka bencilah perbuatannya dan jangan mencabut/meninggalkan ketaatan .” {HR. Muslim dari shahabat ‘Auf bin Malik 3/1481 no. 1855}Para ulama kita pun demikian adanya. Mereka {dengan latar belakang daerah pengalaman dan generasi yg berbeda-beda} telah menyampaikan arahan dan bimbingannya yg amat berharga seputar permasalahan ini sebagaimana berikut: Shahabat Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu berkata: “Urusan kaum muslimin tidaklah stabil tanpa adanya penguasa yg baik atau yg jahat sekalipun.” Orang-orang berkata: “Wahai Amirul Mukminin kalau penguasa yg baik kami bisa menerimanya lalu bagaimana dgn yang jahat?” Ali bin Abi Thalib berkata: “Sesungguhnya penguasa itu jahat namun Allah Subhanahu wa Ta’ala tetap memerankannya sebagai pengawas keamanan di jalan-jalan dan pemimpin dalam jihad…” {Syu’abul Iman karya Al-Imam Al-Baihaqi juz 13 hal.187 dinukil dari kitab Mu’amalatul Hukkam karya Asy-Syaikh Abdus Salam bin Barjas hal. 57} Al-Imam Ibnu Abil ‘Iz Al-Hanafi berkata: “Adapun kewajiban menaati mereka tetaplah berlaku walaupun mereka berbuat jahat. Karena tidak menaati mereka dalam hal yg ma’ruf akan mengakibatkan kerusakan yg jauh lbh besar dari apa yg ada selama ini. Dan di dalam kesabaran terhadap kejahatan mereka itu terdapat ampunan dari dosa-dosa serta pahala yg berlipat.”  Al-Imam Al-Barbahari berkata: “Ketahuilah bahwa kejahatan penguasa tidaklah menghapuskan kewajiban yg Allah Subhanahu wa Ta’ala wajibkan melalui lisan Nabi- Nya. Kejahatannya akan kembali kepada dirinya sendiri sedangkan kebaikan-kebaikan yg engkau kerjakan bersamanya akan mendapat pahala yg sempurna insya Allah. Yakni kerjakanlah shalat berjamaah shalat Jum’at dan jihad bersama mereka dan juga berpartisipasilah bersamanya dalam semua jenis ketaatan .” {Thabaqat Al- Hanabilah karya Ibnu Abi Ya’la 2/36 dinukil dari Qa’idah Mukhtasharah hal. 14} Al-Imam Ibnu Baththah Al-Ukbari berkata: “Telah sepakat para ulama ahli fiqh ilmu dan ahli ibadah dan juga dari kalangan Ubbad dan Zuhhad sejak generasi pertama umat ini hingga masa kita ini: bahwa shalat Jum’at Idul Fitri dan Idul Adha hari-hari Mina dan Arafah jihad haji serta penyembelihan qurban dilakukan bersama penguasa yang baik ataupun yg jahat.” {Al-Ibanah hal. 276-281 dinukil dari Qa’idah Mukhtasharah hal.

16} Al-Imam Al-Bukhari berkata: “Aku telah bertemu dgn 1.000 orang lbh dari ulama Hijaz Kufah Bashrah Wasith Baghdad Syam dan Mesir….” Kemudian beliau berkata: “Aku tidak melihat adanya perbedaan di antara mereka tentang perkara berikut ini –beliau lalu menyebutkan sekian perkara di antaranya kewajiban menaati penguasa {dalam hal yang ma’ruf}–.”  Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani berkata: “Di dalam hadits ini {riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari shahabat Abu Hurairah di atas -pen.} terdapat keterangan tentang kewajiban menaati para penguasa dalam perkara-perkara yg bukan kemaksiatan. Adapun hikmahnya adl utk menjaga persatuan dan kebersamaan krn di dalam perpecahan terdapat kerusakan.” Para pembaca yg mulia dari bahasan di atas dapatlah diambil suatu kesimpulan bahwasanya:1. Shaum Ramadhan merupakan syi’ar kebersamaan umat Islam yg harus dipelihara.2. Syi’ar kebersamaan tersebut akan pudar manakala umat Islam di masing-masing negeri bercerai-berai dalam mengawali dan mengakhiri shaum Ramadhannya.3. Ibadah yg bersifat kebersamaan semacam ini keputusannya berada di tangan penguasa umat Islam di masing-masing negeri bukan di tangan individu.4. Shaum Ramadhan bersama penguasa dan mayoritas umat Islam merupakan salah satu prinsip agama Islam yg dapat memperkokoh persatuan mereka baik si penguasa tersebut seorang yg adil ataupun jahat. Karena kebersamaan umat tidaklah mungkin terwujud tanpa adanya ketaatan terhadap penguasa. Terlebih manakala ketentuannya itu melalui proses ru‘yatul hilal di sejumlah titik negerinya dan sidang-sidang istimewa.5. Realita membuktikan bahwa dgn bershaum Ramadhan dan berhari-raya bersama penguasa benar-benar tercipta suasana persatuan dan kebersamaan umat. Sebaliknya ketika umat Islam berseberangan dgn penguasanya suasana perpecahan di tubuh umat pun demikian mencolok. Yang demikian ini semakin menguatkan akan kewajiban bershaum Ramadhan dan berhari-raya bersama penguasa .Wallahu a’lam bish-shawab.1 Hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu:الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُوْمُوْنَ وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُوْنَ وَاْلأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّوْنَ“Shaum itu di hari kalian bershaum berbuka adl pada saat kalian berbuka dan berkurban/ Iedul Adha di hari kalian berkurban.”2 Beliau merupakan salah satu ulama yg berpendapat bahwasanya pelaksanaan shaum Ramadhan dan Idul Fithri di dunia ini hanya dgn satu mathla’ saja sebagaimana yg beliau rinci dalam kitab Tamamul Minnah hal. 398. Walaupun demikian beliau sangat getol mengajak umat Islam utk melakukan shaum Ramadhan dan Iedul Fithri bersama penguasanya sebagaimana perkataan beliau di atas.http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=370
sumber : file chm Darus Salaf 2