Shalat Tarawih

penulis Al-Ustadz Hariyadi Lc.
Syariah Kajian Khusus Ramadhan 17 - September - 2005 18:30:29

Tarawih dlm bahasa Arab adl bentuk jama’
dari
تَرْوِيْحَةٌ
yg berarti waktu sesaat utk istirahat.
Dan
تَرْوِيْحَةٌ
pada bulan Ramadhan dinamakan demikian krn para jamaah beristirahat
setelah melaksanakan shalat tiap-tiap 4 rakaat.
Shalat yg dilaksanakan secara berjamaah pada malam-malam bulan
Ramadhan dinamakan tarawih. . Karena para jamaah yg pertama kali
bekumpul utk shalat tarawih beristirahat setelah dua kali salam
.

Hukum Shalat Tarawih
Hukum shalat tarawih adl mustahab sebagaimana yg dikatakan oleh
Al-Imam An-Nawawi t
ketika menjelaskan tentang sabda Nabi n
yg diriwayatkan oleh Abu Hurairah z
:

مَنْ قَامَ
رَمَصَانَ
إِيْمَانًا
وَاحْتِسَابًا
غُفِرَ
لَهُ مَا
تَقَدَّمَ
مِنْ
ذَنْبِهِ

“Barangsiapa menegakkan Ramadhan dlm keadaan
beriman dan mengharap balasan dari Allah k
niscaya diampuni dosa yg telah lalu.â€
“Yang dimaksud dgn qiyamu Ramadhan adl shalat
tarawih dan ulama telah bersepakat bahwa shalat tarawih hukum
mustahab .†. Dan beliau menyatakan pula tentang
kesepakatan para ulama tentang sunnah hukum shalat tarawih ini dlm
Syarh Shahih Muslim dan Al-Majmu’ .
Ketika Al-Imam An-Nawawi t
menafsirkan qiyamu Ramadhan dgn shalat tarawih mk Al-Hafizh Ibnu
Hajar t
memperjelas kembali tentang hal tersebut:
“Maksud bahwa qiyamu Ramadhan dapat diperoleh
dgn melaksanakan shalat tarawih dan bukanlah yg dimaksud dgn qiyamu
Ramadhan hanya diperoleh dgn melaksanakan shalat tarawih saja
.â€
Mana yg lbh utama dilaksanakan secara berjamaah di masjid atau
sendiri-sendiri di rumah?
Dalam masalah ini terdapat dua pendapat:
Pendapat pertama yg utama adl dilaksanakan secara berjamaah.
Ini adl pendapat Al-Imam Asy-Syafi’i dan
sebagian besar sahabat juga pendapat Abu Hanifah dan Al-Imam Ahmad
dan disebutkan pula oleh Ibnu Qudamah dlm Al-Mughni dan Al-Mirdawi
dlm Al-Inshaf serta sebagian pengikut Al-Imam Malik dan lain
sebagaimana yg telah disebutkan Al-Imam An-Nawawi t
dalam Syarh Shahih Muslim .
Pendapat ini merupakan pendapat jumhur ulama dan pendapat ini pula
yg dipegang Asy-Syaikh Nashiruddin Al-Albani t
beliau berkata: “Disyariatkan shalat berjamaah
pada qiyam bulan Ramadhan bahkan dia lbh utama daripada
sendirian†.
Pendapat kedua yg utama adl dilaksanakan sendiri-sendiri.
Pendapat kedua ini adl pendapat Al-Imam Malik dan Abu Yusuf serta
sebagian pengikut Al-Imam Asy-Syafi’i. Hal ini
sebutkan pula oleh Al-Imam An-Nawawi .
Adapun dasar masing-masing pendapat tersebut adl sebagai
berikut:
Dasar pendapat pertama:
1. Hadits ‘Aisyah x
beliau berkata:

أَنَّ
رَسُوْلَ
اللهِ
صَلَّى
اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
ذَاتَ
لَيْلَةٍ
فِي
الْمَسْجِدِ
فَصَلَّى
بِصَلاَتِهِ
نَاسٌ،
ثُمَّ
صَلَّى
مِنَ
الْقَابِلَةِ
فَكَثُرَ
النَّاسُ،
ثُمَّ
اجْتَمَعُوا
مِنَ
اللَّيْلَةِ
الثَّالِثَةِِ
أَوِ
الرَّابِعَةِ
فَلَمْ
يَخْرُجْ
إِلَيْهِمْ
رَسُوْلُ
اللهِ
صَلَّى
اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ.
فَلَمَّا
أَصْبَحَ
قَالَ: قَدْ
رَأَيْتُ
الَّذِي
صَنَعْتُمْ،
وَلَمْ
يَمْنَعْنِي
مِنَ
الْخُرُوْجِ
إِلَيْكُمْ
إِلاَّ
أَنِّي
خَشِيْتُ
أَنْ
تُفْرَضَ
عَلَيْكُمْ.
وَذَلِكَ
فِيْ
رَمَضَانَ

“Sesungguh Rasulullah n
pada suatu malam shalat di masjid lalu para shahabat mengikuti
shalat beliau n
kemudian pada malam berikut beliau shalat mk manusia semakin banyak
kemudian mereka berkumpul pada malam ketiga atau malam keempat. mk
Rasulullah n
tak keluar pada mereka lalu ketika pagi hari beliau n
bersabda: ‘Sungguh aku telah melihat apa yg
telah kalian lakukan dan tidaklah ada yg mencegahku keluar kepada
kalian kecuali sesungguh aku khawatir akan diwajibkan pada
kalian’ dan itu terjadi di bulan
Ramadhan.â€
• Al-Imam An-Nawawi t
berkata: “Dalam hadits ini terkandung boleh
shalat nafilah secara berjamaah akan tetapi yg utama adl shalat
sendiri-sendiri kecuali pada shalat-shalat sunnah yg khusus seperti
shalat ‘Ied dan shalat gerhana serta shalat
istisqa’ dan demikian pula shalat tarawih
menurut jumhur ulama.â€
• Tidak ada pengingkaran Nabi n
terhadap para shahabat yg shalat bersama pada beberapa malam bulan
Ramadhan.
2. Hadits Abu Dzar z
beliau berkata Rasulullah n
bersabda:

إِنَّ
الرَّجُلَ
إِذَا
صَلَّى
مَعَ
اْلإِمَامِ
حَتَّى
يَنْصَرِفَ
حُسِبَ
لَهُ
قِيَامُ
لَيْلَةٍ

“Sesungguh seseorang apabila shalat bersama imam
sampai selesai mk terhitung bagi qiyam satu malam
penuh.â€
Hadits ini dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t
dalam Shahih Sunan Abi Dawud . Berkenaan dgn hadits di atas Al-Imam
Ibnu Qudamah mengatakan: “Dan hadits ini adl
khusus pada qiyamu Ramadhan .â€
Asy-Syaikh Al-Albani t
berkata: “Apabila permasalahan seputar antara
shalat yg dilaksanakan pada permulaan malam secara berjamaah dgn
shalat pada akhir malam secara sendiri-sendiri mk shalat dgn
berjamaah lbh utama krn terhitung bagi qiyamul lail yg
sempurna.â€
3. Perbuatan ‘Umar bin Al-Khaththab z
dan para shahabat lain g
ketika ‘Umar bin Al-Khaththab z
melihat manusia shalat di masjid pada malam bulan Ramadhan mk
sebagian mereka ada yg shalat sendirian dan ada pula yg shalat
secara berjamaah kemudian beliau mengumpulkan manusia dlm satu
jamaah dan dipilihlah Ubai bin Ka’b z
sebagai imam .
4. Karena shalat tarawih termasuk dari syi’ar
Islam yg tampak mk serupa dgn shalat ‘Ied.
5. Karena shalat berjamaah yg dipimpin seorang imam lbh bersemangat
bagi keumuman orang2 yg shalat.
Dalil pendapat kedua:
Hadits dari shahabat Zaid bin Tsabit z
sesungguh Nabi n
bersabda: “Wahai manusia shalatlah di rumah
kalian! Sesungguh shalat yg paling utama adl shalat seseorang yg
dikerjakan di rumah kecuali shalat yg diwajibkan.â€
Dengan hadits inilah mereka mengambil dasar akan keutamaan shalat
tarawih yg dilaksanakan di rumah dgn sendiri-sendiri dan tdk
dikerjakan secara berjamaah.
Pendapat yg rajih dlm masalah ini adl pendapat pertama krn
hujjah-hujjah yg telah tersebut di atas. Adapun jawaban pemegang
pendapat pertama terhadap dasar yg digunakan oleh pemegang pendapat
kedua adalah:
• Bahwasa Nabi n
memerintahkan para shahabat utk mengerjakan shalat malam pada bulan
Ramadhan di rumah mereka krn kekhawatiran beliau n
akan diwajibkan shalat malam secara berjamaah dan kalau tdk krn
kekhawatiran ini niscaya beliau akan keluar menjumpai para shahabat
. Dan sebab ini sudah tdk ada dgn wafat Nabi n
. krn dgn wafat beliau n
maka tdk ada kewajiban yg baru dlm agama ini.
Dengan demikian mk pemegang pendapat pertama telah menjawab
terhadap dalil yg digunakan pemegang pendapat kedua. Wallahu
a’lam.

Waktu Shalat Tarawih
Waktu shalat tarawih adl antara shalat ‘Isya
hingga terbit fajar sebagaimana sabda Rasulullah n
:

إِنَّ
اللهَ
زَادَكُمْ
صَلاَةً
وَهِيَ
الْوِتْرُ
فَصَلُّوْهَا
فِيْمَا
بَيْنَ
صَلاَةِ
الْعِشَاءِ
إِلَى
صَلاَةِ
الْفَجْرِ

“Sesungguh Allah telah menambah shalat pada
kalian dan dia adl shalat witir. mk lakukanlah shalat witir itu
antara shalat ‘Isya hingga shalat
fajar.†ini sanad shahih†sebagaimana dlm
Ash-Shahihah 1/221 no.108}

Jumlah Rakaat dlm Shalat Tarawih
Kemudian utk jumlah rakaat dlm shalat tarawih adl 11 rakaat
berdasarkan:
1. Hadits yg diriwayatkan dari Abu Salamah bin
‘Abdurrahman beliau berta pada
‘Aisyah x
tentang sifat shalat Rasulullah n
pada bulan Ramadhan beliau menjawab:

مَا كَانَ
يَزِيْدُ
فِيْ
رَمَضَانَ
وَلاَ فِيْ
غَيْرِهِ
عَلَى
إِحْدَى
عَشْرَةَ
رَكْعَةً ..

“Tidaklah melebihkan pada bulan Ramadhan dan tdk
pula pada selain bulan Ramadhan dari 11 rakaat.â€
‘Aisyah x
dalam hadits di atas mengisahkan tentang jumlah rakaat shalat malam
Rasulullah n
yg telah beliau saksikan sendiri yaitu 11 rakaat baik di bulan
Ramadhan atau bulan lainnya. “Beliaulah yg
paling mengetahui tentang keadaan Nabi n
di malam hari dari lainnya.â€
Asy-Syaikh Nashiruddin Al-Albani t
berkata: “ rakaat adl 11 rakaat dan kami memilih
tdk lbh dari krn mengikuti Rasulullah n
maka sesungguh beliau n
tak melebihi 11 rakaat sampai beliau n
wafat.â€
2. Dari Saaib bin Yazid beliau berkata:

أَمَرَ
عُمَرُ
بْنُ
الْخَطَّابِ
أُبَيَّ
بْنَ
كَعْبٍ
وَتَمِيْمًا
الدَّارِيَّ
أَنْ
يَقُوْمَا
لِلنَّاسِ
بِإِحْدَى
عَشْرَةَ
رَكْعَةً

“’Umar bin Al-Khaththab
z
memerintahkan pada Ubai bin Ka’b dan Tamim
Ad-Dari utk memimpin shalat berjamaah sebanyak 11
rakaat.â€
Asy-Syaikh Nashiruddin Al-Albani t
berkata dlm Al-Irwa tentang hadits ini: “ ini
isnad sangat shahih.†Asy-Syaikh Muhammad
Al-‘Utsaimin t
berkata: “Dan ini merupakan nash yg jelas dan
perintah dari ‘Umar z
dan sesuai dengan z
krn beliau termasuk manusia yg paling bersemangat dlm berpegang
teguh dgn As Sunnah apabila Rasulullah n
tak melebihkan dari 11 rakaat mk sesungguh kami berkeyakinan bahwa
‘Umar z
akan berpegang teguh dgn jumlah ini .â€
Adapun pendapat yg menyatakan bahwa shalat tarawih itu jumlah 23
rakaat adl pendapat yg lemah krn dasar yg digunakan oleh pemegang
pendapat ini hadits-hadits yg lemah. Di antara hadits-hadits
tersebut:
1. Dari Yazid bin Ruman beliau berkata:

كَانَ
النَّاسُ
يَقُوْمُوْنَ
فِيْ
زَمَانِ
عُمَرَ
بْنِ
الْخَطَّابِ
فِيْ
رَمَضَانَ
بِثَلاَثٍ
وَعِشْرِيْنَ
رَكْعَةً

“Manusia menegakkan di bulan Ramadhan pada masa
‘Umar bin Al-Khaththab z
23 rakaat.â€
Al-Imam Al-Baihaqi t
berkata: “Yazid bin Ruman tdk menemui masa
‘Umar z
â€.

Asy-Syaikh Nashiruddin Al-Albani t
men-dha’if-kan hadits ini sebagaimana dlm
Al-Irwa .
2. Dari Abu Syaibah Ibrahim bin ‘Utsman dari
Hakam dari Miqsam dari Ibnu ‘Abbas c
:

أَنَّ
النَّبِيَّ
صَلَّى
اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
كَانَ
يُصَلِّى
فِيْ
رَمَضَانَ
عِشْرِيْنَ
رَكَعَةَ
وَالْوِتْرَ

“Sesungguh Nabi n
shalat di bulan Ramadhan 20 rakaat dan witir.â€
Al-Imam Ath-Thabrani t
berkata: “Tidak ada yg meriwayatkan hadits ini
dari Hakam kecuali Abu Syaibah dan tidaklah diriwayatkan dari Ibnu
‘Abbas kecuali dgn sanad ini
saja.â€
Dalam kitab Nashbur Rayah dijelaskan: “Abu
Syaibah Ibrahim bin ‘Utsman adl perawi yg lemah
menurut kesepakatan dan dia telah menyelisihi hadits yg shahih
riwayat Abu Salamah sesungguh beliau berta pada
‘Aisyah x
: “Bagaimana shalat Rasulullah n
di bulan Ramadhan? .†Asy-Syaikh Nashiruddin Al-Albani
t
menyatakan bahwa hadits ini maudhu’ .
Sebagai penutup kami mengingatkan tentang kesalahan yg terjadi pada
pelaksanaan shalat tarawih yaitu dgn membaca dzikir-dzikir atau
doa-doa tertentu yg dibaca secara berjamaah pada tiap-tiap dua
rakaat setelah salam. Amalan ini adl amalan yg
bid’ah .
Wallohu a’lam

Sumber: www.asysyariah.com