Shalat Jenazah

penulis Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husen
Al-Atsariyyah
Sakinah Wanita dlm Sorotan 30 - Januari - 2006 23:26:25

Bahasan selanjut setelah tatacara memandikan jenazah adl shalat
jenazah. Barangkali sebagian kita telah berulang kali
mengamalkannya.
Namun kajian ini insya Allah tetap memiliki nuansa lain krn kita
diajak utk menyelami dalil-dalilnya.

Purna sudah tugas memandikan dan mengafani jenazah. Yang tertinggal
sekarang adl menshalati mengantarkan ke pekuburan dan
memakamkannya. Untuk mengantarkan ke pekuburan dan memakamkan
merupakan tugas laki2 krn Rasulullah n
telah melarang wanita utk mengikuti jenazah sebagaimana diberitakan
Ummu ‘Athiyyah x
:

كُنَّا
نُنْهَى
عَنِ
اتِّبَاعِ
الْجَنَائِزِ،
وَلَمْ
يُعْزَمْ
عَلَيْنَا

“Kami dilarang utk mengikuti jenazah namun tdk ditekankan
terhadap kami.”1
Al-Imam Ibnul Daqiqil ‘Ied v
berkata:“Hadits ini mengandung dalil dibenci wanita mengikuti
jenazah namun tdk sampai pada keharaman. Demikian yg dipahami dari
ucapan Ummu ‘Athiyyah x
:
وَلَمْ
يُعْزَمْ
عَلَيْنَا
krn ‘azimah menunjukkan ta`kid .”
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani v
berkata: “Seakan-akan Ummu ‘Athiyyah x
hendak menyatakan bahwa: ‘Beliau n
benci bila kami mengikuti jenazah namun beliau tdk
mengharamkannya’.” Al-Qurthubi v
berkata: “Yang tampak dari konteks ucapan Ummu
‘Athiyyah x
adl larangan tersebut merupakan nahi tanzih . Demikian pendapat
jumhur ahlul ilmi2.” .
Sementara ulama Madinah membolehkan termasuk Al-Imam Malik v
namun utk wanita yg masih muda/ remaja beliau
memakruhkannya.”
Dengan demikian keutamaan mengikuti jenazah seperti ditunjukkan dlm
hadits Abu Hurairah z
3 hanya berlaku utk lelaki secara khusus .

Shalat Jenazah
Menshalati jenazah seorang muslim hukum fardhu/ wajib kifayah4 krn
ada perintah Nabi n
dalam beberapa hadits. Di antara hadits Abu Qatadah z
ia menceritakan:

أَنَّ
رَسُوْلَ
اللهِ
صَلَّى
اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
أُتِيَ
بِرَجُلٍ
مِنَ
اْلأَنْصَارِ
لِيُصَلِّيَ
عَلَيْهِ،
فَقَالَ
النَّبِيُّ
صَلَّى
اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ:
صَلُّوْا
عَلى
صَاحِبِكُمْ،
فَإِنََّ
عَلَيْهِ
دَيْنًا.
قَالَ
أَبُوْ
قَتَادَةَ:
هُوَ
عَلَيَّ.
قَالَ
النَّبِيُّ
صَلَّى
اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ:
بِالْوَفَاءِ؟
قَالَ:
بِالْوَفاَءِ.
فَصَلَّى
عَلَيْهِ

Didatangkan jenazah seorang lelaki dari kalangan Anshar di hadapan
Rasulullah n
agar beliau menshalati ternyata beliau n
bersabda: “Shalatilah teman kalian ini krn ia meninggal dgn
menanggung hutang.” Mendengar hal itu berkatalah Abu Qatadah:
“Hutang itu menjadi tanggunganku.” Nabi n
bersabda: “Janji ini akan disertai dgn penunaian?”.
“Janji ini akan disertai dgn penunaian“ jawab Abu
Qatadah. mk Nabi pun menshalatinya.”5
Dikecualikan dlm hal ini dua jenis jenazah yg tdk wajib dishalati
yaitu:
1. Anak kecil yg belum baligh krn Nabi n
tak menshalati putra beliau Ibrahim ketika wafat sebagaimana
diberitakan ‘Aisyah x
:

مَاتَ
إِبْرَاهِيْمُ
ابْنُ
النَّبِيِّ
صَلَّى
اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
وَهُوَ
ابْنُ
ثَمَانِيَةَ
عَشْرَ
شَهْرًا،
فَلَمْ
يُصَلِّ
عَلَيْهِ
رَسُوْلُ
اللهِ
صَلَّى
اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ

“Ibrahim putra Nabi n
meninggal dunia dlm usia 18 bulan beliau n tdk
menshalatinya.”6
2. Orang yg gugur fi sabilillah krn Nabi n
tak menshalati syuhada perang Uhud dan selain mereka. Anas bin
Malik z
mengabarkan:

أَنَّ
شُهَدَاءَ
أُحُدٍ
لَمْ
يُغَسَّلُوْا،
وَدُفِنُوا
بِدِمَائِهِمْ،
وَلَمْ
يُصَلَّ
عَلَيْهِمْ
غَيْرُ
حَمْزَةُ

“Syuhada perang Uhud tdk dimandikan dan mereka dimakamkan dgn
darah-darah mereka juga tdk dishalati kecuali jenazah
Hamzah.”7
Kedua golongan di atas kalaupun hendak dishalati mk tdk menjadi
masalah bahkan hal ini disyariatkan. Namun pensyariatan tidaklah
wajib. Kenapa kita katakan hal ini disyariatkan? Karena Nabi n
pernah pula menshalati jenazah anak kecil seperti tersebut dlm
hadits Aisyah x
:

أُتِيَ
رَسُوْلُ
اللهِ
صَلَّى
اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
بِصَبِيٍّ
مِنْ
صِبْيَانِ
الأَنْصَارِ،
فَصَلَّى
عَلَيْهِ

“Didatangkan kepada Rasulullah n
jenazah anak kecil dari kalangan Anshar beliau pun
menshalatinya…”8
Sebagaimana Nabi n
pernah menshalati jenazah seorang A‘rabi yg gugur di medan
jihad. Syaddad ibnul Haad berkisah:
“Seorang lelaki dari kalangan A‘rabi datang menemui
Nabi n
. Ia pun beriman dan mengikuti beliau. Kemudian ia berkata:
“Aku berhijrah bersamamu.” Nabi n
berpesan kepada beberapa shahabat utk memperhatikan A‘rabi
ini. Ketika perang Khaibar Nabi n
mendapatkan ghanimah beliau membagi dan memberikan bagian kepada
A‘rabi tersebut dgn menyerahkan lewat sebagian shahabat
beliau. Saat itu si A‘rabi ini sedang menggembalakan
tunggangan mereka. Ketika ia kembali mereka menyerahkan bagian
ghanimah tersebut kepadanya.
“Apa ini ?” ta A’rabi tersebut.
“Bagian yg diberikan Nabi n
untukmu” jawab mereka.
A‘rabi ini mengambil harta tersebut lalu membawa ke hadapan
Nabi n
seraya bertanya: “Harta apa ini?”
“Aku membagi untukmu” sabda Nabi n
.
“Bukan utk ini aku mengikutimu akan tetapi aku mengikutimu
agar aku dipanah di sini – ia memberi isyarat ke
tenggorokannya– hingga aku mati lalu masuk surga” kata
A’rabi.
Nabi n
bersabda: “Bila engkau jujur terhadap Allah niscaya Dia akan
menepatimu.”
Mereka tinggal sejenak. Setelah mereka bangkit utk memerangi musuh
Ia dibopong ke hadapan Nabi n
setelah sebelum ia terkena panah pada bagian tubuh yg telah
diisyaratkannya.
“Apakah ini A’rabi itu?” ta Nabi n
.
“Ya“ jawab mereka yg ditanya.
“Dia jujur kepada Allah mk Allah pun menepati
keinginannya” kata Nabi n
. Kemudian Nabi n
mengafani dgn jubah beliau. Setelah beliau meletakkan di hadapan
beliau utk dishalati. Di antara doa Nabi n
dalam shalat jenazah tersebut: “Ya Allah inilah hamba-Mu dia
keluar dari negeri utk berhijrah di jalan-Mu lalu ia terbunuh
sebagai syahid aku menjadi saksi atas semua itu.”9
Ibnul Qayyim v
berkata: “Yang benar dlm masalah ini seseorang diberi pilihan
antara menshalati mereka atau tdk krn masing-masing ada atsarnya.
Demikian salah satu riwayat dari pendapat Al-Imam Ahmad v
. Dan pendapat inilah yg paling mencocoki ushul dan
madzhabnya.”

Apakah Disyariatkan Menshalati Janin yg Gugur?
Janin yg gugur dishalati apabila telah ditiupkan ruh kepada yakni
ketika telah genap usia 4 bulan. Hal ini ditunjukkan dlm hadits
Ibnu Mas‘ud z
secara marfu‘:

إِنَّ
أَحَدَكُمْ
يُجْمَعُ
خَلْقُهُ
فِي بَطْنِ
أُمِّهِ
أَرْبَعِيْنَ
يَوْمًا،
ثُمَّ
يَكُوْنُ
عَلَقَةً
مِثْلَ
ذَلِكَ،
ثُمَّ
يَكُوْنُ
مُضْغَةً
مِثْلَ
ذَلِكَ،
ثُمَّ
يَبْعَثُ
اللهُ
مَلَكًا
يُؤْمَرُ
بِأَرْبَعِ
كَلِمَاتٍ
وَيُقَالُ
لَهُ:
اكْتُبْ
عَمَلَهُ
وَرِزْقَهُ
وَشَقِيٌّ
أَوْ
سَعِيْدٌ.
ثُمَّ
يُنْفَخُ
فِيْهِ
الرُّوْحُ..

“Sesungguh salah seorang dari kalian dikumpulkan penciptaan
di perut ibu selama 40 hari kemudian menjadi ‘alaqah selama
40 hari juga kemudian menjadi mudhghah selama 40 hari juga. Setelah
itu Allah mengutus seorang malaikat yg diperintah dgn empat kata
dikatakan kepada malaikat tersebut: “Tulislah amal dan
rizkinya. apakah ia bahagia atau sengsara. Kemudian ditiupkan ruh
pada janin tersebut..”10
Adapun bila janin itu gugur sebelum 4 bulan mk tdk dishalati krn
janin tersebut tdk bisa dianggap sebagai mayat .

Shalat Jenazah Dilakukan Secara Berjamaah
Disyariatkan shalat jenazah secara berjamaah sebagaimana shalat
lima waktu dgn dalil:
1. Nabi n
senantiasa melaksanakan secara berjamaah.
2. Nabi n
telah bersabda:

صَلُّوا
كَمَا
رَأَيْتُمُوْنِي
أُصَلِّي

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat.”
11
Namun bila mereka mengerjakan sendiri-sendiri mk telah tertunaikan
kewajiban sebagaimana kata Al-Imam An-Nawawi v
: “Tidak ada perbedaan pendapat bahwa shalat jenazah boleh
dilakukan sendiri-sendiri. Namun yg sunnah shalat jenazah itu
dilakukan secara berjamaah. Karena demikianlah yg ditunjukkan dlm
hadits-hadits masyhur yg ada dlm kitab Ash-Shahih bersamaan dgn ada
ijma’ kaum muslimin dlm masalah ini.”
Semakin banyak jamaah yg menshalati jenazah tersebut semakin afdhal
dan bermanfaat bagi si mayat12 krn Nabi n
bersabda:

مَا مِنْ
مَيِّتٍ
تُصَلِّي
عَلَيْهِ
أُمَّةٌ
مِنَ
الْمُسْلِمِيْنَ
يَبْلُغُوْنَ
مِئَةً
كُلُّهُمْ
يَشْفَعُوْنَ
لَهُ،
إِلاَّ
شُفِّعُوْا
فِيْهِ

“Tidak ada satu mayat pun yg dishalati oleh suatu umat dari
kaum muslimin yg mencapai jumlah 100 orang di mana mereka
memberikan syafaat kepada si mayat melainkan mayat tersebut
disyafaati.”13
Bahkan jumlah yg kurang dari 100 pun bermanfaat bagi si mayat dgn
syarat mereka yg menshalati itu dari kalangan muwahhidin . Seperti
tersebut dlm sabda Nabi n
:

مَا مِنْ
رَجُلٍ
مُسْلِمٍ
يَمُوْتُ،
فَيَقُوْمُ
عَلىَ
جَنَازَتِهِ
أَرْبَعُوْنَ
رَجُلاً،
لاَ
يُشْرِكُوْنَ
بِاللهِ
شَيْئًا
إِلاَّ
شَفَّعَهُمُ
اللهُ
فِيْهِ

“Tidak ada seorang muslimpun yg meninggal lalu 40 orang yg
tdk berbuat syirik terhadap Allah sedikit pun menshalati jenazah
melainkan Allah memberikan syafaat mereka itu
terhadapnya.”14
Disunnahkan makmum yg ikut shalat jenazah tersebut membentuk tiga
shaf atau lbh di belakang imam15 sebagaimana ditunjukkan dlm hadits
dari Abu Umamah z
ia berkata:

صَلَّى
رَسُوْلُ
اللهِ
صَلَّى
اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
عَلىَ
جَنَازَةٍ
وَمَعَهُ
سَبْعَةُ
نَفَرٍ،
فَجَعَلَ
ثَلاثَةً
صَفًّا،
وَاثْنَيْنِ
صَفًّا
وَاثْنَيْنِ
صَفًّا

“Rasulullah n
pernah shalat jenazah bersama tujuh orang mk beliau menjadikan tiga
orang berada dlm satu shaf dua orang yg lain dlm satu shaf dan dua
orang yg tersisa dlm satu shaf.”16
Yang afdhal pelaksanaan shalat jenazah itu di luar masjid di tempat
yg memang khusus disiapkan utk shalat jenazah sebagaimana hal ini
dilakukan di masa Nabi n
.

Masbuq dlm Shalat Jenazah
Ibnu Hazm v
berkata: “Bila seseorang luput dari mendapatkan beberapa
takbir dlm shalat jenazah mk ia langsung bertakbir ketika tiba di
tempat shalat tersebut tanpa menanti takbir imam yg berikutnya.
Apabila imam telah salam ia menyempurnakan apa yg luput dari takbir
dan berdoa di antara takbir yg satu dgn takbir yg lain sebagaimana
yg ia perbuat bersama imam. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah
n
terhadap orang yg mendatangi shalat berjamaah agar ia mengerjakan
apa yg sempat ia dapatkan bersama imam dan ia sempurnakan apa yg
tertinggal….”

Posisi Berdiri Imam
Ketika jenazah diletakkan utk dishalati bila jenazah lelaki imam
berdiri di belakang pada posisi kepala. Adapun jika jenazah wanita
mk imam berdiri pada posisi tengahnya. Hal ini ditunjukkan dlm
hadits Samurah bin Jundab z
yg dikelu-arkan dlm Shahihain17. Samurah berkata:
“Aku pernah menjadi makmum di belakang Nabi n
ketika menshalati seorang wanita bernama Ummu Ka’ab yg
meninggal krn melahirkan. Nabi n
berdiri pada posisi tengah jenazah dan beliau bertakbir empat
kali.”18
Abu Ghalib Al-Khayyath v
berkisah: “Aku pernah menyaksikan Anas bin Malik z
menshalati jenazah seorang lelaki ia berdiri di bagian yg bersisian
dgn kepala jenazah. Ketika jenazah tersebut telah diangkat
didatangkan jenazah seorang wanita dari Anshar mk dikatakan kepada
Anas: ‘Wahai Abu Hamzah tolong shalatilah.’ Anas pun
menshalati dan ia berdiri pada posisi tengah jenazah.
Di antara kami ketika itu ada Al-’Ala` bin Ziyad
Al-’Adawi . Ketika melihat perbedaan berdiri Anas tersebut ia
berkata: ‘Wahai Abu Hamzah apakah demikian Rasulullah n
berdiri sebagaimana engkau berdiri ketika menshalati jenazah laki2
dan ketika menshalati jenazah wanita?’ Anas menjawab:
‘Iya’.”19

Wanita Menshalati Jenazah
Al-Imam An-Nawawi v
berkata: “Apabila tdk ada yg menghadiri jenazah kecuali para
wanita mk tdk ada perbedaan pendapat tentang wajib mereka
menshalati jenazah tersebut. Dan tdk ada perbedaan pendapat bahwasa
ketika itu gugurlah kewajiban dgn apa yg mereka lakukan. Dan mereka
menshalati jenazah tersebut secara sendiri-sendiri. Namun tdk
apa-apa bila mereka mengerjakan secara berjamaah .”

Tata Cara Shalat Jenazah
Shalat jenazah memiliki tata cara yg berbeda dgn shalat yg lain krn
shalat ini dilaksanakan tanpa ruku’ tanpa sujud tanpa duduk
dan tanpa tasyahhud . Berikut perinciannya:
1. Bertakbir 4 kali20 demikian pendapat mayoritas shahabat jumhur
tabi‘in dan madzhab fuqaha seluruhnya.
2. Takbir pertama dgn mengangkat tangan lalu tangan kanan
diletakkan di atas tangan kiri sebagaimana hal ini dilakukan pada
shalat-shalat lain. Al-Imam Al-Hafizh Ibnul Qaththan v
berkata: “Ulama bersepakat bahwa orang yg menshalati jenazah
ia bertakbir dan mengangkat kedua tangan pada takbir yg
awal.”
Ibnu Hazm v
menyatakan: “Adapun mengangkat tangan ketika takbir dlm
shalat jenazah mk tdk ada keterangan yg menunjukkan bahwa Nabi
n
melakukan kecuali hanya pada awal takbir saja.”
Asy-Syaikh Al-Albani v
berkata: “Tidak didapatkan dlm As-Sunnah ada dalil yg
menunjukkan disyariatkan mengangkat tangan pada selain takbir yg
pertama. Sehingga kita memandang mengangkat tangan di selain takbir
pertama tidaklah disyariatkan. Demikianlah pendapat madzhab
Hanafiyyah dan selain mereka. Pendapat ini yg dipilih oleh
Asy-Syaukani v
21 dan lain dari kalangan muhaqqiq.”
3. Setelah berta‘awwudz lalu membaca Al-Fatihah22 dan surah
lain dari Al-Qur`an23. Thalhah bin Abdillah bin ‘Auf berkata:
“Aku pernah shalat jenazah di belakang Ibnu ‘Abbas
c
ia membaca Al-Fatihah dan surah lain. Ia mengeraskan bacaan hingga
terdengar oleh kami. Ketika selesai shalat aku memegang tangan
seraya berta tentang jahr tersebut. Beliau menjawab:
“Hanyalah aku menjahrkan bacaanku agar kalian mengetahui
bahwa itu adl sunnah24 dan haq 25”.
Sebenar bacaan dlm shalat jenazah tidaklah dijahrkan namun dgn sirr
berdasarkan keterangan yg ada dlm hadits Abu Umamah bin Sahl ia
berkata: “Yang sunnah dlm shalat jenazah pada takbir pertama
membaca Al-Fatihah dgn perlahan kemudian bertakbir tiga kali dan
mengucapkan salam setelah takbir yg akhir.”26
Ibnu Qudamah v
berkata: “Bacaan dan doa dlm shalat jenazah dibaca secara
sirr. Kami tdk mengetahui ada perbedaan pendapat dlm masalah ini di
kalangan ahlul ilmi. Adapun riwayat dari Ibnu ‘Abbas c
di atas mk kata Al-Imam Ahmad v
: ‘Hanyalah beliau melakukan hal itu utk mengajari
mereka’.”
Al-Imam Asy-Syaukani v
berkata: “Jumhur ulama berpendapat tdk disunnahkan menjahrkan
bacaan dlm shalat jenazah.”
4. Takbir kedua lalu bershalawat utk Nabi n
sebagaimana lafadz shalawat dlm tasyahhud.
5. Takbir ketiga lalu berdoa secara khusus utk si mayat secara sirr
menurut pendapat jumhur ulama. Nabi n
bersabda:

إِذَا
صَلَّيْتُمْ
عَلىَ
الْمَيِّتِ
فَأَخْلِصُوْا
لَهُ
الدُّعَاءَ

“Apabila kalian menshalati mayat khususkanlah doa
untuknya.”27
Kata Al-Munawi v
menerangkan makna hadits di atas: “Yakni doakanlah si mayat
dgn ikhlas dan menghadirkan hati krn maksud dari shalat jenazah
tersebut adl utk memintakan ampun dan syafaat bagi si mayat.
Diharapkan permintaan tersebut akan dikabulkan dgn terkumpul
keikhlasan dan doa dgn sepenuh hati.”
Dalam hal ini mengucapkan doa yg pernah diajarkan Nabi n
lbh utama daripada mengamalkan yg selainnya.

Di antara sekian doa yg pernah diucapkan Nabi n
utk jenazah adalah:

اللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لَهُ
وَارْحَمْهُ،
وَعَافِهِ
وَاعْفُ
عَنْهُ،
وَأَكْرِمْ
نُزُلَهُ،
وَوَسِّعْ
مُدْخَلَهُ،
وَاغْسِلْهُ
بِالْماَءِ
وَالثَّلْجِ
وَالْبَرَدِ،
وَنَقِّهِ
مِنَ
الْخَطَايَا
كَمَا
نَقَّيْتَ
الثَّوْبَ
اْلأَبْيَضَ
مِنَ
الدَّنَسِ،
وَ
أَبْدِلْهُ
دَارًا
خَيْرًا
مِنْ
دَارِهِ،
وَأَهْلاً
خَيْرًا
مِنْ
أَهْلِهِ،
وَزَوْجًا
خَيْرًا
مِنْ
زَوْجِهِ،
وَأَدْخِلْهُ
الْجَنَّةَ،
وَأَعِذْهُ
مِنْ
عَذَابِ
الْقَبْرِ،
وَمِنْ
عَذَابِ
النَّارِ

“Ya Allah ampuni dan rahmatilah dia. Lindungilah dia dari
perkara yg tdk baik dan maafkanlah dia muliakanlah tempat tinggal
luaskan/ lapangkanlah tempat masuknya. Basuhlah ia dgn air salju
dan es. Sucikanlah dia dari kesalahan-kesalahan sebagaimana engkau
mensucikan pakaian putih dari noda. Gantikanlah untuk negeri yg lbh
baik daripada negeri keluarga yg lbh baik daripada keluarga dan
pasangan yg lbh baik daripada pasangan hidupnya. Masukkanlah ia ke
dlm surga lindungilah dia dari adzab kubur dan adzab
neraka.”29

اللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لِحَيِّنَا
وَمَيِّتِنَا،
وَشَاهِدِنَا
وَغَائِبِنَا،
وَصَغِيْرِنَا
وَكَبِيْرِنَا،
وَذَكَرِنَا
وَأُنْثَانَا،
اللَّهُمَّ
مَنْ
أَحْيَيْتَهُ
مِنَّا
فَأَحْيِهِ
عَلَى
اْلإِسْلاَمِ،
وَمَنْ
تَوَفَّيْتَهُ
مِنَّا
فَتَوَفَّهُ
عَلَى
اْلإِيْمَانِ،
اللَّهُمَّ
لاَ
تَحْرِمْناَ
أَجْرَهُ،
وَلاَ
تُضِلَّنَا
بَعْدَهُ

“Ya Allah ampunilah orang yg masih hidup di antara kami dan
orang yg sudah meninggal orang yg sekarang ada dan orang yg tdk
hadir anak kecil di antara kami dan orang besar laki2 dan wanita
kami. Ya Allah siapa yg engkau hidupkan di antara kami mk
hidupkanlah ia di atas Islam dan siapa yg engkau wafatkan di antara
kami mk wafatkanlah dia di atas iman. Ya Allah janganlah engkau
haramkan bagi kami pahala dan jangan engkau sesatkan kami
sepeninggalnya.”30
Bila mayat itu anak kecil mk disenangi utk mendoakan kedua orang
tuanya31 agar mendapatkan ampunan dan rahmah seperti tersebut dlm
hadits Al-Mughirah bin Syu‘bah z
.32
Ulama menganggap baik utk mengucapkan doa berikut ini:

اللَّهُمَّ
اجْعَلْهُ
فَرَطًا
لِوَالِدَيْهِ،
ذُخْرًا
وَسَلَفًا
وَأَجْرًا،
اللَّهُمَّ
ثَقِّلْ
بِهِ
مَوَازِيْنَهُمَا،
وَأَعْظِمْ
بِهِ
أُجُوْرَهُمَا،
اللَّهُمَّ
اجْعَلْهُ
فِيْ
كَفَالَةِ
إِبْرَاهِيْمَ
وَأَلْحِقْهُ
بِصَالِحِ
سَلَفِ
الْمُؤْمِنِيْنَ،
وَأَجِرْهُ
بِرَحْمَتِكَ
مِنْ
عَذَابِ
الْجَحِيْمِ،
وَأَبْدِلْهُ
دَارًا
خَيْرًا
مِنْ
دَارِهِ،
وَأَهْلاً
خَيْرًا
مِنْ
أَهْلِهِ،
اللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لأَسْلاَفِنَا
وَأَفْرَاطِنَا
وَمَنْ
سَبَقَنَا
بِالإِيْمَانِ

“Ya Allah jadikanlah anak ini sebagai pendahulu bagi kedua
orang tua tabungan/ simpanan dan pahala bagi keduanya. Ya Allah
beratkanlah timbangan kedua dgn kematian si anak besarkanlah pahala
keduanya. Ya Allah jadikanlah anak ini dlm tanggungan Nabi
Ibrahim33 dan gabungkanlah dia dgn pendahulu yg shalih dari
kalangan kaum mukminin. Lepaskanlah dia dari adzab neraka Jahim dgn
rahmat-Mu34. Gantikanlah untuk rumah/ negeri yg lbh baik daripada
rumah/ negeri keluarga yg lbh baik daripada keluarganya. Ya Allah
ampunilah salaf kami orang2 yg mendahului kami dan orang2 yg
mendahului kami dlm keimanan.”35
6. Pada takbir terakhir disyariatkan berdoa sebelum mengucapkan
salam dgn dalil hadits Abu Ya‘fur dari Abdullah bin Abi Aufa
z
ia berkata: “Aku menyaksikan Nabi n
beliau bertakbir empat kali kemudian beliau berdiri sesaat
–untuk berdoa–.”36
Al-Imam Ahmad v
berpendapat disunnahkan berdoa setelah takbir terakhir ini
sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dawud dlm Masa`il Al-Imam Ahmad .
Demikian pula pendapat dlm madzhab Asy-Syafi‘iyyah.
7. Kemudian salam seperti salam dlm shalat lima waktu dan yg sunnah
diucapkan secara sirr baik ia imam ataupun makmum.
Demikian yg bisa kami susun utk pembaca yg mulia. Semoga Allah
k
menjadikan bermanfaat utk kami pribadi dan orang yg membacanya.
Amin.
Kebenaran itu datang dari Allah k
. Adapun bila ada kesalahan dan kekeliruan mk hal itu semata krn
kebodohan kami. Kami istighfar karena kepada At-Tawwabur Rahim
.
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

1 HR. Al-Bukhari no. 1278 kitab Al-Jana`iz bab Ittiba‘in
Nisa` Al-Jana`iz dan Muslim no. 2163 2164 kitab Al-Jana`iz bab
Nahyin Nisa` ‘an Ittiba’il Jana`iz
2 Di antara yg memakruhkan adl Ibnu Mas‘ud Ibnu ‘Umar
Abu Umamah ‘Aisyah Masruq Al-Hasan An-Nakha’i
Al-Auza’i dan Ishaq.
3 Abu Hurairah z
berkata: Aku mendengar Nabi n
bersabda:

مَنْ
شَهِدَ
الْجَنَازَةَ
حَتَّى
يُصَلّى
فَلَهُ
قِيْرَاطٌ،
وَمَنْ
شَهِدَ
حَتَّى
تُدْفَنَ
كَانَ لَهُ
قِيْرَاطَانِ.
قِيْلَ:
وَمَا
الْقِيْرَاطَانِ؟
قَالَ:
مِثْلُ
الْجَبَلَيْنِ
الْعَظِيْمَيْنِ

“Siapa yg menyaksikan jenazah sampai dishalatkan mk ia
mendapatkan satu qirath. Dan siapa yg menyaksikan jenazah sampai
dimakamkan mk ia mendapat dua qirath.” Ditanyakan kepada
beliau: “Apakah dua qirath itu?” Beliau menjawab:
“Semisal dua gunung yg besar.”
Dalam riwayat Muslim disebutkan: “Siapa yg keluar bersama
jenazah dari rumah jenazah tersebut dan menshalati kemudian
mengikuti sampai dimakamkan mk ia mendapatkan dua qirath dari
pahala. Masing-masing qirath semisal gunung Uhud. Dan siapa yg
menshalati kemudian kembali/ pulang mk ia mendapat pahala semisal
gunung Uhud.”
4 Al-Hawil Kabir 3/52 Al-Majmu’ 5/169 Al-Minhaj 7/22
At-Ta’liqat Ar-Radhiyyah ‘ala Ar-Raudhatin Nadiyyah
1/439 Asy-Syarhul Mumti’ 2/523.
5 HR. An-Nasa`i no. 1960 kitab Al-Jana`iz bab Ash-Shalah ‘ala
man ‘alaihi Dainun. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani v
dalam Shahih An-Nasa`i.
6 HR. Abu Dawud no. 3187 kitab Al-Jana`iz bab Fish Shalah
‘alath Thifl dihasankan sanad oleh Asy-Syaikh Al-Albani v
dalam Shahih Abu Dawud dan Ahkamul Jana`iz hal. 104 mengikuti
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani v
dalam Al-Ishabah.
7 HR. Abu Dawud no. 3135 bab Fisy Syahid Yughassal. Asy-Syaikh
Al-Albani berkata: “Hadits ini hasan menurutku di atas syarat
Muslim.”
8 HR. An-Nasa`i no. 1947 kitab Al-Jana`iz bab Ash-Shalah
‘alash Shibyan dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani v
dalam Shahih An-Nasa`i.
9 HR. Abdurrazzaq no. 6651 An-Nasa`i no. 1953 Ath-Thahawi dlm Syarh
Ma’anil Atsar no. 2818 dan selainnya. Asy-Syaikh Al-Albani
v
berkata: “Isnad shahih semua rijal di atas syarat Muslim
kecuali Syaddad ibnul Had. Al-Imam Muslim v
tak mengeluarkan satu hadits pun darinya. Namun ini tdk menjadi
masalah krn Syaddad adl shahabat Nabi yg dikenal. Adapun ucapan
Asy-Syaukani v
dalam Nailul Authar yg mengikuti Al-Imam Nawawi dlm Al-Majmu’
bahwa Syaddad ini seorang tabi‘in merupakan ucapan yg sangat
keliru mk jangan terkecoh dengannya.”
10 HR. Al-Bukhari no. 3208 kitab Bad’ul Khalq bab Dzikrul
Mala`ikah dan Muslim no. 6665 kitab Al-Qadar bab Kaifiyyatul Khalq
Al-’Adami fi Bathni Ummihi…
11 HR. Al-Bukhari no. 631 kitab Al-Adzan bab Al-Adzan lil Musafirin
Idza Kanu Jama‘atan wal Iqamah.
12 Al-Majmu’ 5/172 Al-Muhalla 3/389 Subulus Salam 2/162
Nailul Authar 4/73 Taudhihul Ahkam 3/194.
13 HR. Muslim no. 2195 kitab Al-Jana`iz bab Man Shalla
‘alaihi Mi`ah Syuffi’u fihi.
14 HR. Muslim no. 2196 pada kitab dan bab yg sama dgn di atas.
15 Al-Majmu’ 5/172 Taudhihul Ahkam 3/195
16 HR. Ath-Thabrani dlm Al-Kabir dan Al-Haitsami dlm
Al-Majma’ pada sanad ada Ibnu Lahi’ah sementara beliau
ini diperbincangkan. Namun kata Asy-Syaikh Al-Albani v
dalam Ahkamul Jana`iz hadits bisa dijadikan syahid bagi hadits
Malik bin Hubairah berikut ini:
Rasulullah n
bersabda: “Tidak ada seorang muslim pun yg meninggal lalu ia
dishalati oleh tiga shaf kaum muslimin melainkan ia
diampuni.”
17 HR. Al-Bukhari no. 1332 bab Aina Yaqumu minal Mar`ah war Rajul
dan Muslim no. 2232 bab Aina Yaqumul Imam minal Mayyit lish Shalah
‘alaihi.
18 Al-Hawil Kabir 3/50 Al-Majmu’ 5/183 Al-Muhalla 3/345 382
Fathul Bari 3/257 Asy-Syarhul Mumti’ 2/524 Taisirul
‘Allam Syarhu ‘Umdatil Ahkam 1/372.
19 Kelengkapan hadits bisa dilihat dlm riwayat Abu Dawud no. 3194
kitab Al-Jana`iz bab Aina Yaqumul Imam minal Mayyit idza Shalla
‘alaihi.
20 Boleh pula dilakukan 5-9 kali semua ada keterangan dari Nabi
n
. Namun jumlah 4 kali takbir paling banyak disebutkan dlm hadits .
Adapun pernyataan ada ijma’ ulama yg menetapkan takbir shalat
jenazah hanya 4 kali dan tdk lebih merupakan anggapan yg batil.
Sebagaimana hal ini ditegaskan Ibnu Hazm v
dalam Al-Muhalla . Sedangkan hadits yg menyatakan:

كَانَ
آخِرُ مَا
كَبَّرَ
رَسُوْلُ
اللهِ
صَلَّى
اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
عَلَى
الْجَنَازَةِ
أَرْبَعًا

“Akhir takbir yg dilakukan Rasulullah n
terhadap jenasah adl sebanyak empat kali.”
yang dijadikan sebagai dalil pembatasan takbir hanya 4 kali adl
hadits yg dha’if. Al Hafizh Ibnu Hajar v
berkata dlm At-Talkhish : “Hadits ini diriwayatkan lbh dari
satu jalan namun semua jalan dhaif.”
21 Sebagaimana dlm Nailul Authar 4/83.
22 Tidak disyariatkan membaca doa istiftah demikian pendapat
madzhab Asy-Syafi‘iyyah dan selain mereka.
23 Nailul Authar 4/82 At-Ta‘liqat Ar-Radhiyyah 1/443
Asy-Syarhul Mumti‘ 2/525 Taudhihul Ahkam 3/205.
24 Yakni Sunnah Nabi n
dan jalan beliau bukan sunnah dlm pengertian hukum fiqih yg lima
.
25 HR. Al-Bukhari no. 1335 bab Qira`ati Fatihatil Kitab ‘alal
Janazah An-Nasa`i no. 1987 1988 bab Ad-Du’a` dishahihkan
Asy-Asy-Syaikh Al-Albani v
dalam Shahih An-Nasa`i.
26 HR. An-Nasa`i no. 1989 bab Ad-Du’a` dishahihkan Asy-Syaikh
Al-Albani v
dalam Shahih Nasa’i.
27 HR. Abu Dawud no. 3199 bab Ad-Du’a lil Mayyit dihasankan
Asy-Syaikh Al-Albani v
dalam Shahih Abi Dawud.
28 Bila mayat seorang wanita mk semua dhamir
الهاء
seperti dlm lafadz:
اللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لَهُ
وَارْحَمْهُ
diganti dgn ta`nits sehingga kita mengucapkan:
اللَّهُمَّ
اغْفِرْ
لَهَا
وَارْحَمْهَا

29 HR. Muslim no. 2229 2231 bab Ad-Du’a` lil Mayyit fish
Shalah.
30 HR. Ibnu Majah no. 1498 bab Ma Ja`a fid Du’a` fish Shalah
‘alal Janazah dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dlm Shahih
Ibnu Majah dan Al-Misykat no. 1675.
31 Nailul Authar 4/85
32 HR. Abu Dawud no. 3180 bab Al-Masy-yu Amamal Janazah dishahihkan
Asy-Syaikh Al-Albani dlm Shahih Abu Dawud.
33 Nabi Muhammad n
pernah bermimpi melihat Nabi Ibrahim p
di sebuah taman yg besar lagi indah di sekitar beliau ada anak-anak
kecil yg meninggal di atas fithrah.
34 Bagaimana anak yg belum baligh bisa diadzab sementara ia belum
berdosa? mk dijawab bahwa tiap hamba Allah pasti akan mendatangi
neraka sebagaimana dlm ayat:

وَإِنْ
مِنْكُمْ
إِلاَّ
وَارِدُهَا
كَانَ
عَلَى
رَبِّكَ
حَتْمًا
مَقْضِيًّا

“Tidak ada seorang pun dari kalian melainkan pasti akan
mendatangi neraka yg demikian itu bagi Rabbmu adl suatu kemestian
yg sudah ditetapkan.”
Dengan demikian doa seperti itu ditujukan utk si anak agar Allah
k
menjaga dari adzab neraka apabila nanti pada hari kiamat ia
mendatanginya.
35 Doa ini diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari hadits Abu Hurairah
z
. Yang semisal juga diriwayatkan oleh Sufyan dari Al-Hasan.
Asy-Syaikh Al-Albani berkata: “Hadits Abu Hurairah z
yg diriwayatkan Al-Baihaqi tersebut isnad hasan dan tdk apa-apa
diamalkan dlm hal seperti ini walaupun hadits mauquf. Namun tdk
boleh dijadikan sebagai sunnah dgn menganggap bahwa doa itu datang
dari Nabi n
. Adapun doa yg aku pilih utk dipanjatkan ketika menshalati anak
kecil adl doa yg kedua krn di dlm ada lafadz:

وَصَغِيْرِنَا
..
اللََّهُمَّ
لاَ
تَحْرِمْناَ
أَجْرَهُ،
وَلاَ
تُضِلَّنَا
بَعْدَهُ

“…anak kecil di antara kami … Ya Allah janganlah
engkau haramkan bagi kami pahala dan jangan engkau sesatkan kami
sepeninggalnya.”
36 Dikeluarkan oleh Al-Baihaqi dgn sanad yg shahih kata Asy-Syaikh
Al-Albani dlm Ahkamul Jana`iz hal. 160.

Sumber: www.asysyariah.com