Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz.Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kpd Rasulullah, keluarga, para sahabat beliau serta orang-orang yg mengikuti petunjuk beliau.

Amma ba’du

Telah diketahui bersama bagi orang-orang yg memiliki akal bahwa membajak pesawat dan menyandera orang mrpk bentuk tindakan kriminal yg menimbulkan kerugian dan bahaya yg besar serta menyusahkan orang-orang tak berdosa dan mengganggu mereka yg pelindung tdk lain ialah Allah. Seperti juga dipahami bahwasa dampak dari tindakan krminal tersebut tdk ha menimpa suatu negara dan satu kelompok saja, akan tetapi menimbulkan pengaruh bagi semuanya, apalagi jika tindakan kriminalitas yg keji seperti ini (pembajakan dan penyanderaan). Maka wajiblah bagi pemerintah dan pihak yg berwenang dari para ulama untuk memberikan perhatian yg sangat, dan bersungguh-sungguh untuk mencegah dampak buruk serta memberikan penyelesaian terhadapnya.

Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menurunkan kitabNya yg mulia sebagai penjelas bagi segala sesuatu, petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi kaum muslimin, dan Allah telah mengutus NabiNya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rahmat bagi sekalian alam, menjadikan beliau sebagai hujjah bagi sekalian makhluk dan Allah mewajibkan atas seluruh jin dan manusia untuk berhukum dgn syariatNya dan mengembalikan segala perselisihan yg terjadi di tengah mereka kpd kitabNya dan sunnah RasulNya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Arti : Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tdk beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yg mereka perlselisihkan, kemudian mereka tdk merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yg kamu berikan, dan mereka menerima dgn sepenuhnya [An-Nisa : 65]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman

Arti : Apakah hukum jahiliyah yg mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yg lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yg yakin ? [Al-Maidah : 50]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

Arti : Hai orang-orang yg beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah RasulNya, dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendpt tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kpd Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kpd Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya [An-Nisa : 59]

Para ulama semoga Allah merahmati mereka- telah sepakat bahwasa yg dimaksud dgn menentang Allah ialah dgn menentang kitabNya yg mulia dan bahwa menentang beliau pada masa hidup dan menentang sunnah beliau yg shahih setelah wafat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

Arti : Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusan (terserah) kpd Allah. [Asy-Syura : 10]

Ayat ini berserta makna menunjukkan wajib mengembalikan segala apa yg diperselisihkan kpd Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan kpd RasulNya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maksud ialah mengembalikan kpd hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala dan memperingatkan dari menyelisihiNya dalam segala perkara.

Pembajakan pesawat mrpk perkara yg paling penting yg bahaya dan kejelekan berlaku secara menyeluruh, maka wajib bagi negara yg menjadi tempat para pembajak untuk menghukum mereka dgn syari’at Allah mengingat dampak yg ditimbulkan dari tindakan kotor mereka yg melanggar hak-hak Allah, hak hambaNya, menimbulkan bahaya dan kerugian yg besar. Dan tdk ada solusi untuk menyelesaikan dan mencegah akibat buruk kecuali solusi yg telah diberikan oleh Yang Maha Bijaksana dan Maha Pemurah di dalam kitabNya yg Mulia dan apa yg digiatkan oleh orang-orang paling baik (dalam menasehati) dan paling mulia serta paling pemurah, penghulu manusia Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam atas sebaik-baik shalawat dan salam dari Rabbnya.

Itulah solusi yg wajib dipahami bagi si pembajak dan yg dibajak serta orang-orang yg mempunyai hubungan dgn hal itu, semoga pintu hati mereka terbuka jika mereka orang-orang yg beriman, jika bukan orang-orang yg beriman maka Allah telah memerintahkan kpd NabiNya Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menghukumi mereka dgn syari’at Islam seperti pada firmanNya.

Arti : Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yg diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hwa nfsu (**) mereka [A;-Maidah : 49]

Dan firmanNya

Arti : Dan jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah (perkara itu) di antara mereka dgn adil [Al-Maidah : 42]

Berdasarkan apa yg telah kami kemukakan, maka wajib bagi negara tempat berlindung para pembajak untuk melakukan hal-hal sebagai berikut : Membentuk lembaga yg tediri dari para ulama Islam untuk meneliti permasalahan ini, mempelajari dari segala aspek, kemudian memberikan putusan hukum yg sesuai dgn syariat Allah. Dan seyogya para ulama memberikan putusan hukum dgn dalil-dalil dari kitabullah dan Sunnah RasulNya, dan mengambil penjelasan para ulama berkenaan dgn ayat Al-Muharabah dalam surat Al-Maidah dan penjelasan para ulama madzhab mengenai (bab : hukum terhadap para pengacau atau perompak), setelah itu baru mengeluarkan hukuman bagi mereka sebagai bentuk penghormatan terhadap dalil-dalil syari’ah.

Dan bagi negara yg menjadi tempat berlindung para pembajak hendaklah melaksanakan hukum secara syari’ah (Islam) sebagai bentuk ketaatan kpd Allah, memuliakan perintahNya, mencegah menyebar tindakan kriminal ini, mewujudkan tercipta rasa aman serta sebagai bentuk kasih sayg kpd orang-orang yg dibajak dan memberikan keadilan kpd mereka.

Adapun undang-undang yg mrpk hasil karya manusia tanpa ada dasar dari kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Sunnah RasulNya Shallallahu ‘alaihi wa sallam tdk dibenarkan bagi umat Islam untuk berhukum dgnnya. Sebagian yg lain tdklah lebih mulia dari yg lainnya, krn semua mrpk hukum jahiliyah dan hukum thaghut yg Allah telah memperingatkan dan menisbatkan kpd kaum munafiq yg cenderung berhukum kpd thaghut seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Arti : Apakah kamu tdk memperhatikan orang-orang yg mengaku diri telah beriman kpd apa yg diturunkan kpdmu dan kpd apa yg diturunkan sebelum kamu ? Mereka hendak berhakim kpd thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaithan bermaksud menyesatkan mereka (dgn) penyesatan yg sejauh-jauhnya. Apabila dikatakan kpd mereka ; ‘Marilah kamu (tunduk) kpd hukum yg Allah telah turunkan dan kpd hukum Rasul, niscaya kalian lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dgn sekuat-kuat dari (mendekati) kamu [An-Nisa : 60-61]

Maka tdklah dibenarkan bagi umat Islam untuk menyerupai musuh-musuh Allah yaitu kaum munafiqin yg ingin berhukum kpd selain Allah dan juga menghalangi manusia dari hukum Allah dan RasulNya. Sumber : almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1478&bagian=0

Tidaklah dibenarkan beralasan dgn peruntukan kaum muslimin (secara mayoritas) pada masa sekarang untuk berhukum dgn undang-undang konvensional, peruntukan mereka bukan mrpk alasan untuk menjadi pembenaran dan pembolehan bahkan itu mrpk kemungkaran yg paling besar, walaupun orang banyak melakukannya. Peruntukan kebanyakan orang pada suatu hal tdk bisa dijadikan dalil untuk membenarkan hal tersebut, seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala. Arti : Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yg di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tdk lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tdk lain hanyalah berdusta (terhadap Allah) [Al-An’am : 116]

Setiap hukum yg menyelisihi syariat (hukum) Allah ialah hukum jahiliyah, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman. Arti : Apakah hukum jahiliyah yg mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yg lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yg yakin ? [Al-Maidah : 50]

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengabarkan bahwasa berhukum dgn selain yg diturunkan Allah mrpk kekufuran, kezhaliman dan kefasikan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

Arti : Barangsiapa yg tdk memutuskan menurut apa yg diturunkan Allah, maka mereka itu ialah orang-orang non muslim [Al-Maidah : 44] Arti : Barangsiapa yg tdk memutuskan perkara menurut apa yg diturunkan Allah, maka mereka itu ialah orang-orang yg zhlim [Al-Maidah : 45] Arti : Barangsiapa yg tdk memutuskan perkara menurut apa yg dirturunkan Allah, maka mereka itu ialah orang-orang yg fasik [Al-Maidah : 47]

Ayat-ayat di atas beserta makna mewajibkan kaum muslimin untuk berhati-hati dari berhukum dgn selain yg diturunkan oleh Allah, berlepas dari hukum selain Allah, berlomba-lomba melaksanakan hukum Allah dan RasulNya, melapangkan hati serta menerimanya. Dan jika bahaya mencakup secara menyeluruh seperti pembajakan (pesawat), maka wajib mengembalikan permasalahan tersebut kpd Allah dan RasulNya yg lebih utama dan paling ditekankan dari selain dan mrpk kewajiban yg paling besar krn Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui, Maha Pemurah dan yg paling mengetahui tentang hal-hal baik bagi hambaNya, serta Dialah yg menolak bahaya dan mencegah kerusakan masa sekarang dan masa akan datang.

Maka sudah sehrs untuk mengembalikan segala perselisihan kpd Kitabullah dan Sunnah NabiNya Shallallahu ‘alaihi wa sallam krn kedua telah mencukupi, menjawab secara tuntas, solusi bagi segala permasalahan, serta dpt memberikan penyelesaian dari segala kejahatan bagi orang yg berpegang teguh, istiqamah dan berhukum dgn keduanya, menjadikan kedua sebagai hakim sebagaimana telah dijelaskan pada ayat-ayat muhkamat (ayat-ayat yg terang dan tegas maksudnya, dpt dipahami dgn mudah). Karena besar dampak yg ditimbulkan oleh tindakan ini (pembajakan), saya berpendpt bahwasa wajib untuk mengeluarkan pernyataan sebagai sebuah nasehat, tanggung jawab, memperingatkan masyarakat umum dari hal ini serta sebagai bentuk tolong menolong dgn pihak yg berwenang dalam kebaikan dan ketakwaan.

Hanyalah Allah tempat memohon agar memperbaiki keadaan kaum muslimin, memberikan petunjuk kpd jalan yg lurus, dan memberikan taufiq kpd pemerintah untuk berhukum dgn syari’at Islam serta berpegang teguh dalam segala hal. Sesungguh Allah Maha Pemurah lagi Mahamulia. Shalawat dan salam semoga tercurah atas hamba-hamba sekaligus RasulNya Nabi kita Muhammad, keluarga serta para sahabat beliau.

HUKUM MENCELA PARA ULAMA

[Sa’ad bin Atiq, Muhammad bin Ibrahim, Umar bin Salim, Muhammad bin Abdul Latif, Abdullah Al-Anqori] berkata : Di antara perkara yg perlu diperingatkan ialah apa yg dilakukan oleh orang-orang jahil (terhadap para ulama) dgn melemparkan tuduhan terhadap ahli ilmu dan agama bahwa mereka (ahlu ilmu dan agama) suka menjilat dan merendahkan ahli ilmu, mengatakan bahwa mereka tdk mentaati perintah Allah yg telah diwajibkan atas mereka serta menyembunyikan kebenaran dan tdk menjelaskannya.

Orang-orang jahil ini tdk mengetahui bahwa tuduhan terhadap ahli ilmu dan agama serta merampas kehormatan kaum mukminin mrpk racun yg mematikan, penyakit yg tersembunyi dan dosa yg sangat nyata, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman. Arti : Dan orang-orang yg menyakiti orang-rang yg mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yg mereka peruntuk, maka sesungguh mereka telah memikul kebohongan dan dosa yg nyata [Al-Ahzab ; 58]

Rendahkan mereka, tdk ada tempat bagi ayah kalian untuk dicela atau istilah tempat yg telah mereka duduki.

Jika orang yg adil melihat ayat-ayat ini, haidts-hadits, atsar-atsar dan perkataan para muhaqqiq dari ahli ilmu dan petunjuk, serta mengetahui bahwasa ia akan berdiri dihadapan Allah dan mengetahui bahwa ia akan dita tentang apa yg ia ucapkan dan ia peruntuk, niscaya ia akan berhenti pada batas-batas serta tdk menyibukkan diri dgn aib orang lain. Adapun orang yg telah dirasuki dgn kebodohan dan hwa nfsu (**) , merasa kagum dgn pendpt maka tdk ada cara untuk menyelamatkannya, kita memohon kpd Allah dgn ampunanNya dan bagi saudara kita sesama muslim. Sesungguh Allah Maha Penolong dan Maha Berkuasa atasnya.

[Nashihatun Muhimmatun Fii Tsalatsati Qadaya] [Disalin dari kitab Fatawa Al-Aimmah Fil An-Nawazil Al-Mudlahimmah edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Seputar Terorisme, Penyusun Muhammad bin Husain bin Said Ali Sufran Al-Qathani, Terbitan Pustaka At-Tazkia]

Sumber : almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1480&bagian=0