Penting Shalat Berjamaah

penulis Al-Ustadz Saifuddin Zuhri
Syariah Khutbah 30 - Agustus - 2007 08:57:42

الْحَمْدُ لِلهِ عَلَى فَضْلِهِ وَإِحْسَانِهِ جَعَلَ الصَّلاَةَ عَمُوْدَ اْلإِسْلاَمِ وَأَحَدَ مَبَانِيْهِ الْعِظَامِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ فِي رُبُوْبِيَّتِهِ وَأُلُوْهِيَّتِهِ وَأَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ (الرحمن: 78) وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ مِنْ بَيْنِ سَائِرِ اْلأَنَامِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْبَرَرَةِ اْلكِرَامِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ:

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dgn sebenar-benar takwa. Dan marilah kita selalu menjalankan dan menjaga kewajiban-Nya yg paling besar setelah dua kalimat syahadat yaitu kewajiban shalat. Karena agung serta butuh seseorang terhadap kewajiban ini Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan utk mengerjakan tdk hanya sekali dlm sehari. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mewajibkan kepada kita utk menjalankan lima waktu dlm sehari semalam pada waktu-waktu yg tdk merugikan sedikit pun bagi aktivitas kita. Bahkan sangat membantu dan menguntungkan kegiatan kita sehari-hari.

Hadirin rahimakumullah
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyebutkan ancaman yg sangat keras bagi orang2 yg meremehkan kewajiban shalat. Tentu saja ini menunjukkan betapa besar kewajiban ini di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana tersebut dlm firman-Nya:
فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلاَةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا. إِلاَّ مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُولَئِكَ يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يُظْلَمُوْنَ شَيْئًا
”Maka datanglah sesudah mereka pengganti yg menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hwa nfsu (**) mk mereka kelak akan menemui siksa yg sangat keras dan berlipat-lipat. Kecuali orang yg bertaubat beriman dan beramal saleh mk mereka itu akan masuk surga dan tdk dianiaya sedikit pun.”
Di antara hal yg juga menunjukkan betapa agung keutamaan shalat adl apa yg disebutkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim rahimahumallah dlm Shahih kedua yaitu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerupakan shalat lima waktu dgn sungai yg mengalir di depan pintu seorang muslim dan digunakan utk mandi sebanyak lima kali dlm sehari sehingga akan menghilangkan kotoran-kotoran yg melekat di badannya. Begitu pula shalat lima waktu akan menghapus dosa-dosa seorang muslim yg selalu menjalankan dan menjaganya. Ha saja dosa-dosa yg dihapus adl dosa-dosa kecil. Adapun dosa-dosa besar seperti durhaka kepada orangtua mencuri riba memakan harta anak yatim berdusta menipu dlm jual beli dan semisal mk tdk akan terhapus kecuali dgn bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Maka sungguh merupakan kenyataan yg sangat mengherankan dan menyedihkan ketika kita dapatkan sebagian kaum muslimin tdk memerhatikan bahkan seolah-olah tdk tahu kewajiban shalat lima waktu ini. Sehingga di mata mereka shalat lima waktu seperti amalan yg tdk ada nilainya. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya telah menjelaskan bahwa orang yg tdk mengerjakan shalat adl bukan saudara kita seiman. Begitupula shalat adl perkara yg membedakan antara seorang muslim dgn orang non muslim. Hal ini disebutkan di dlm firman-Nya:
فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّيْنِ ..
”Dan jika mereka mau bertaubat dan menegakkan shalat serta menunaikan zakat mk mereka adl saudara kalian seagama.”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلاَةِ
”Sesungguh antara seseorang dgn kesyirikan dan kekufuran adl meninggalkan shalat.”
Bahkan Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu mengatakan: ”Sungguh Al-Kitab dan As-Sunnah serta ijma’ shahabat telah menunjukkan kafir orang yg meninggalkan shalat.”

Saudara-saudaraku kaum muslimin rahimakumullah
Oleh krn itu orang yg sama sekali tdk mau mengerjakan shalat dan tdk mau diingatkan utk menjalankan dihukumi sebagai orang non muslim yg keluar dari Islam. Sehingga sebagai akibat dari hukum tersebut kita tdk boleh lagi memakan daging hewan sembelihannya. Tidak boleh pula kita menikahkan anak-anak perempuan kita dengan serta tdk berhak bagi utk menerima harta warisan serta konsekuensi-konsekuensi lainnya. Begitu pula sudah seharus kita membenci dan meninggalkan serta menjauhi selama dia tdk mau menerima nasihat dan terus-menerus dlm keadaan demikian. Apabila dia mati dan belum juga bertaubat mk mayat tdk perlu dimandikan dikafani dan dishalati serta tdk dikubur di pemakaman kaum muslimin.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Ketahuilah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala yg telah memerintahkan kepada kita shalat lima waktu juga mewajibkan bagi kita utk menjalankan secara berjamaah. Hal ini sebagaimana disebutkan di dlm ayat-ayat-Nya dan hadits-hadits Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan dalil-dalil yg ada menunjukkan bahwa meninggalkan kewajiban ini tanpa ada sebab yg syar’i adl dosa besar. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَأَقِيمُوا الصَّلاَةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِيْنَ
”Dan tegakkanlan shalat dan tunaikanlah zakat dan rukuklah bersama-sama orang yg ruku’.”
Maka tentu saja merupakan kenyataan yg memprihatinkan ketika kita dapatkan banyak di antara kaum muslimin yg meremehkan kewajiban ini. Mereka mendengar adzan dikumandangkan namun tdk mau memenuhi panggilan adzan tersebut utk segera menuju ke masjid. Padahal dia dlm keadaan sehat dan kuat. Seakan-akan dia mengatakan: ”Aku mendengar panggilan utk menghadap-Mu ya Allah namun aku tdk akan memenuhinya.” Bahkan hal ini terjadi pada sebagian orang yg bertempat tinggal di sekitar masjid. Rumah mereka di dekat masjid namun hati jauh dari masjid. Wal ‘iyadzubillah .

Saudara-saudaraku kaum muslimin rahimakumullah
Sebagian yg lain dari kaum muslimin ada yg berangkat ke masjid namun diiringi rasa malas. Mereka tdk segera mempersiapkan diri utk pergi ke masjid namun menunda sampai menjelang atau saat iqamah dikumandangkan. Sehingga mereka terburu-buru ketika menuju masjid. Hal ini tentu menyelisihi aturan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dlm adab berjalan ke masjid. Yaitu berjalan dgn tenang tanpa melakukan gerakan yg tdk diperlukan ataupun melihat ke kanan dan kiri tanpa ada keperluan dan menghadirkan hati utk menghadap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. mk terluput pula dari mereka keutamaan yg besar bagi orang2 yg menunggu shalat di masjid. Yaitu malaikat akan memintakan ampun dan rahmat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk selama dia tdk terkena hadats. Hal ini sebagaimana tersebut di dlm hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yg diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim.
Padahal kami yakin bahwa apabila mereka dipanggil utk mendapatkan dunia tentu mereka akan segera mendatangi kapan saja tanpa ada rasa malas. Begitu pula mereka akan mau menunggu tanpa rasa bosan meskipun harus antri dan memakan waktu berjam-jam. Yang demikian ini tentu menunjukkan lemah iman dan menunjukkan bahwa dunia lbh mereka utamakan daripada akhirat.

Hadirin rahimakumullah
Selanjut ketahuilah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dlm hadits-hadits telah menjelaskan kepada kita tentang aturan-aturan yg berkaitan dgn shalat berjamaah. Di antara adl kewajiban meluruskan dan merapatkan shaf. Banyak hadits-hadits yg menunjukkan kewajiban ini. Di antara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَتُسَوُّوْنَ صُفُوْفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللهُ بَيْنَ وُجُوْهِكُمْ
”Sungguh luruskanlah shaf-shaf kalian atau kalau tdk demikian sungguh Allah akan menjadikan wajah-wajah kalian saling berpaling.”
Maka sudah semesti bagi imam dgn dibantu oleh para makmum utk memerhatikan kewajiban ini.

Hadirin rahimakumullah
Di antara aturan yg juga harus diperhatikan dlm shalat berjamaah adl tdk diperbolehkan bagi seseorang utk berdiri sendiri di belakang shaf ketika sedang menjalankan shalat berjamaah. Hal ini sebagaimana tersebut di dlm hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى رَجُلاً يُصَلِّي خَلْفَ الصَّفِّ وَحْدَهُ فَأَمَرَهُ أَنْ يُعِيْدَهَا
”Bahwasa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang laki2 shalat sendirian di belakang shaf mk beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan utk mengulanginya.”
Dan di antara kewajiban yg juga harus diperhatikan berkaitan dgn shalat berjamaah adl kewajiban bagi makmum utk mengikuti gerakan imam. Sehingga tdk boleh bagi utk mendahului imam ketika ruku’ sujud dan gerakan lainnya. Begitu pula tdk mendahului ketika mengucapkan takbir dan tdk terburu-buru mengucapkan amin sebelum imam menyempurnakan bacaan Al-Fatihah.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَمَا يَخْشَى أَحَدُكُمْ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ قَبْلَ اْلإِمَامِ أَنْ يَجْعَلَ اللهُ رَأْسَهُ رَأْسَ حِمَارٍ أَوْ يَجْعَلَ اللهُ صُوْرَتَهُ صُوْرَةَ حِمَارٍ
”Tidakkah salah seorang dari kalian takut apabila mengangkat kepala mendahului imam sehingga Allah akan mengubah kepala menjadi kepala keledai atau Allah akan mengubah tubuh menjadi tubuh keledai?”

Hadirin rahimakumullah
Akhir marilah kita berusaha utk menjaga kewajiban shalat lima waktu secara berjamaah di masjid. Karena shalat merupakan penghubung antara seorang hamba dgn Rabbnya. Sehingga shalat adl tolok ukur yg menunjukkan tingkatan keislaman seseorang. Janganlah kita menjadi orang2 yg tertipu oleh godaan setan sehingga melupakan kita dari menjalankan dan menjaga kewajiban-kewajiban-Nya. Allah berfirman
اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ فَأَنْسَاهُمْ ذِكْرَ اللهِ أُولَئِكَ حِزْبُ الشَّيْطَانِ أَلاَ إِنَّ حِزْبَ الشَّيْطَانِ هُمُ الْخَاسِرُوْنَ
”Setan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa dari mengingat Allah mereka itulah golongan yg mengikuti setan. Ketahuilah bahwa sesungguh golongan setan itulah golongan yg merugi.”
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ مَا تَسْمَعُوْنَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَلاَ عُدْوَانَ إِلاَّ عَلَى الظَّالِمِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ:

Saudara-saudaraku kaum muslimin rahimakumullah
Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai bekal yg akan kita bawa utk kehidupan yg sesungguh nanti di akhirat. Kehidupan yg Allah Subhanahu wa Ta’ala telah janjikan bagi orang2 yg bertakwa dgn keni’matan surga di sana. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala sediakan neraka sebagai tempat utk mengadzab hamba-hamba-Nya yg bermaksiat kepada-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى
”Berbekallah kalian dan sesungguh sebaik-baik bekal adl takwa.”

Hadirin rahimakumullah
Sesungguh keutamaan yg besar yg telah Allah Subhanahu wa Ta’ala janjikan bagi orang2 yg menjalankan kewajiban shalat akan diperoleh apabila shalat tersebut dilakukan dgn mencontoh tata cara shalat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yaitu dgn memerhatikan syarat-syarat rukun-rukun dan kewajiban yg berkaitan dgn shalat serta sunnah-sunnahnya. Begitu pula dilakukan dgn penuh khusyuk yg di antara tanda adl tenang anggota badan hadir hati dan memerhatikan serta merasa ni’mat ketika membaca ayat-ayat dan berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan khusyuk adl ruh shalat. Sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengaitkan keberuntungan bagi orang2 yg shalat apabila dilakukan dgn khusyuk sehingga orang yg melakukan shalat tanpa khusyuk tdk termasuk orang2 yg dijanjikan akan mendapatkan keberuntungan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْنَ. الَّذِيْنَ هُمْ فِي صَلاَتِهِمْ خَاشِعُوْنَ
”Sungguh beruntung orang2 yg beriman. Yaitu orang2 yg khusyuk di dlm shalatnya.”

Hadirin rahimakumullah
Sungguh berbahagialah orang2 yg mencintai shalat. Yaitu orang2 yg merasakan shalat itu sebagai penyejuk matanya. Dan menjadikan seakan-akan keni’matan surga bagi hatinya. Sehingga ketika menjalankan dia merasa berat utk keluar darinya. Karena ketika menjalankan dia menjadikan shalat sebagai saat beristirahat dari capai urusan dunia. Dia merasa telah keluar dari kesempitan kehidupan dunia yg seakan-akan merupakan penjara bagi dirinya.
Dan sebalik sungguh celakalah orang2 yg tdk mencintai dgn sebenar-benar kewajiban yg besar ini. Yaitu orang2 yg merasa sangat berat utk menjalankannya. Sehingga dia pun selalu menjalankan di akhir waktu bahkan mungkin di luar waktu. Ketika menjalankan pun tdk memerhatikan rukun-rukun dan ingin segera selesai serta keluar darinya. Itupun ketika dia mengerjakan dgn tdk menghadirkan hatinya. Bahkan yg hadir saat itu adl hal-hal yg berkaitan dgn dunianya.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وَعَنْ جَمِيْعِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ في كُلِّ مَكاَنٍ. رَبِّ اجْعَلْنَا مُقِيْمَ الصَّلاَةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا. اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُبِكَ مِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَدُعَاءٍ لاَ يُسْمَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ وَمِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ. رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ .. اذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ الْجَلِيْلَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.

Sumber: www.asysyariah.com