NIFAQ

penulis Al-Ustadz Qomar Suaidi Lc.
new Khazanah 14 - Agustus - 2003 06:29:16

Nifaq atau kemunafikan berasal dari bahasa Arab {} yg berarti salah
satu liang binatang yarbu’ yaitu hewan semacam
tikus yg memiliki lbh dari satu liang sehingga tatkala dia dikejar
melalui satu liang akan lari menuju liang yg lain.

Dalam istilah syariat berarti perbuatan menampakkan keislaman dan
kebaikan namun menyembunyikan kekafiran serta kejelekan.
Diistilahkan demikian krn pelaku masuk ke dlm agama Islam dari
sebuah pintu dan keluar dari melalui pintu lain. dlm istilah bahasa
Indonesia nifaq sering disebut kemunafikan.

Macam-macam nifaq:

1. Nifaq i’tiqadi yakni kemunafikan yg bersifat
keyakinan. Ini merupakan nifaq besar. Yaitu seseorang yg
menyembunyikan keyakinan kafir lalu menampakkan keislaman.
Seolah-olah ia beriman padahal dlm hati menyimpan keyakinan kafir.
Nifaq i’tiqadi ada enam macam:
• tdk mempercayai Rasulullah
• tdk mempercayai sebagian yg dibawa
Rasulullah
• membenci Rasulullah
• membenci sebagian yg dibawa oleh
Rasulullah
• merasa senang saat direndahkan agama
Rasulullah
• benci ketika menang agama Rasulullah

2. Nifaq ‘amali yakni kemunafikan yg bersifat
amalan. Bentuk bisa berupa perbuatan yg biasa dilakukan orang
munafik atau salah satu sifat mereka yg dilakukan orang yg masih
beriman dan tdk memiliki keyakinan-keyakinan kekafiran seperti di
atas. Misal berkata dusta ingkar janji khianat terhadap yg memberi
amanat kepada atau berbuat curang tatkala bertikai. Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Empat hal yg barangsiapa keempat ada pada mk
dia seorang munafik yg murni dan barangsiapa yg terdapat pada diri
salah satu dari berarti ada pada diri sebuah kemunafikan: jika
dipercaya berkhianat jika berbicara berdusta jika berjanji tdk
menepati dan jika bertikai ia berbuat curang.â€

Kesalahan Memahami Istilah Nifaq

Sebagian orang memahami bahwa kemunafikan hanya ada satu macam
yaitu nifaq i’tiqadi saja sehingga dari situ
timbul kesalahan dlm menetapkan sebuah hukum. Misal dlm menafsirkan
surat An-Nisa’: 145 :
“Sesungguh orang2 munafik itu pada tingkatan yg
paling bawah dari an-naar . Dan kamu sekali-kali tdk akan
mendapatkan seorang penolong pun bagi mereka.â€

Mereka tetapkan hukum ini juga pada orang yg
‘sekedar’ punya sifat
kemunafikan padahal dia masih beriman.

Sumber Bacaan
1 Kitabut Tauhid Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hal: 17-19
2 Al-Haqiqatusy Syariyyah Muhammad ‘Umar Bazmul
hal: 165
3 Tafsir As-Sa’di edisi revisi cet. Ar-Risalah
hal: 944

Sumber: www.asysyariah.com