“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat haluu’a . Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir. Kecuali orang-orang yg mengerjakan salat. Yang mereka itu tetap mengerjakan salatnya. Dan orang-orang yg dalam hartanya tersedia bagian tertentu. Bagi orang yg meminta dan orang yg tidak mempunyai apa-apa .” . Manusia cenderung bersikap haluu’a . Apakah itu? Ia ditafsirkan dgn dua ayat berikutnya sebuah perangai buruk suka berkeluh kesah lagi kikir. Ketika ia tertimpa kesulitan hatinya terasa sempit goncang dan mudah berputus asa.

Ketika beroleh ni’mat dan kebaikan ia bersikap kikir. Yaitu kikir dari hak Allah dan kikir dari hak sesama. Tentu tidak semua manusia berperilaku demikian. Seorang muslim semestinya tidak haluu’a mengapa? Karena seorang muslim itu ajeg menjaga salatnya. “Kecuali orang-orang yg mengerjakan salat yg mereka itu tetap mengerjakan salatnya .” Dengan salat hati menjadi tenteram. Juga dgn salat perbuatan keji dan mungkar dapat ditahan.

Maka seorang mukmin yg salatnya ajeg dan benar ia tidak gampang berkeluh kesah. Karena kesulitan atau kemudahan baginya mengandung hikmah. Sebagian sahabat bahkan memandang kesulitan sebagai ni’mat seperti perkataan Abu Dzar al-Ghifari “Miskin lbh aku sukai daripada kaya dan sakit lbh aku sukai daripada sehat.” Seorang muslim semestinya tidak haluu’a mengapa? Karena seorang mukmin menyadari pada hartanya ada hak bagi orang yg meminta dan orang yg tidak mempunyai apa-apa . “Dan orang-orang yg dalam hartanya tersedia bagian tertentu bagi orang yg meminta dan orang yg tidak mempunyai apa-apa.” As-sail adl orang yg meminta. Terhadap orang semacam ini terdapat hak bagi dia seperti dalam sabda Rasulullah saw. “Bagi orang yg meminta-minta terdapat hak meskipun ia datang mengendarai kuda.”

Adapun al-mahrum seperti didefinisikan Ibnu Abbas adl orang yg bernasib buruk. Ia tidak memiliki bagian dalam baitul mal tidak memiliki pendapatan dan tidak memiliki pekerjaan yg dapat menopang. Rasulullah pernah bersabda “Orang miskin bukanlah orang yg keliling dan engkau memberinya sesuap atau dua suap makanan dan sebutir atau dua butir kurma akan tetapi orang miskin adl orang yg tidak memiliki kekayaan yg mencukupinya sedangkan orang lain tidak mengetahuinya sehingga bersedekah kepadanya.”

Jadi seorang muslim semestinya dermawan tidak kikir dan tidak bakhil, sikap kedemawanan atau filantropy ini tetap harus terus ditumbuhkan. Karena seorang muslim senantiasa merenungkan ayat-ayat Allah seperti dalam ayat berikut. Dan belanjakanlah sebagian dari apa yg telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata ‘Ya Rabku mengapa Engkau tidak menangguhkan ku sampai waktu yg dekat yg menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yg saleh.” . Suatu ketika Rasulullah saw. bertanya kepada para sahabatnya “Manakah yg lbh kalian cintai harta ahli waris atau harta sendiri?” Mereka menjawab “Wahai Rasulullah tentu tidak seorang pun di antara kita kecuali lbh mencintai hartanya sendiri.” Rasulullah meneruskan “Sesungguhnya harta seseorang ialah apa yg telah ia gunakan dan harta ahli waris adl apa yg belum ia gunakan.”

Abu Bakar al-Jazairi menceritakan sebuah kisah yg mengagumkan di dalam Minhajul Muslim Dikisahkan bahwa Ibunda Aisyah r.a. mendapat kiriman uang sebanyak 180.000 dirham dari Muawiyah bin Abi Sufyan. Oleh beliau uang itu disimpan di mangkuk dan dibagikan kepada manusia hingga tak tersisa. Pada sore harinya Aisyah berkata kepada budak wanitanya “Antarkan makanan berbuka untukku.” Budak wanita tersebut menghidangkan roti dan minyak kepada Aisyah. Beliau berkata kepada budak “Mengapa engkau tidak mengambil uang satu dirham dari uang yg aku bagikan tadi buat membeli daging utk buka puasa kita?” Budak tersebut menjawab “Jika engkau mengingatkanku sejak tadi aku pasti melakukan.” Dalam kekiniian betapa banyak kita temukan dua tipe masusia di atas. Tipe orang muskin meminta-minta krn kondisi memaksa juga tipe orang yg tidak memiliki kekayaan penghasilan pekerjaan namun ia enggan utk meminta.

Terhadap tipe pertama akan lbh mudah bagi kita utk mengetahuinya namun terhadap tipe kedua diperlukan sedikit perhatian utk mengetahuinya. Di sinilah perlunya sikap peka terhadap lingkungan.

Budaya modernisme sering berdampak pada menjadikan orang berperilaku egois tidak mengenal tetangga tidak mengenal lingkungan. Setiap hari ia makan enak namun ia tidak mengetahui bahwa orang-orang di sekitarnya tengah kelaparan.

Terlebih al-mahrum tidak mesti mereka kelompok marginal yg tidak mampu bekerja. Kadang mereka kelompok profesional yg tidak tertopang situasi dan sarana yg mendukung utk bekerja seperti tidak adanya lapangan pekerjaan atau tertimpa bencana perang. Dalam konteks ini perlu aktualisasi kedermawanan bagi muslim yg “kuat” tentu tidak sekadar berpikir memberi ikan melainkan harus juga berpikir bagaimana memberi kail. Kita harus terus berusaha muslim yang dermawan, meski tak mampu namun memiliki keinginan yang tinggi untuk berbagi. Wallahu a’lam bish-shawab .

Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Sumber file al_islam.chm