Mengenal Jenis-jenis Haji dan Miqatnya

penulis Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Lc.
Syariah Kajian Utama 18 - Desember - 2006 08:39:14

Seorang calon jamaah haji sudah seharus mengenali jenis-jenis haji
dan miqatnya. Agar dia bisa melihat dan memilih jenis haji apakah
yg paling tepat bagi dan dari miqat manakah dia harus
melakukannya.

Jenis-jenis Haji
Berdasarkan riwayat-riwayat yg shahih dari Nabi shallallah
‘alahi wa sallam ada tiga jenis haji yg bisa diamalkan.
Masing-masing mempunyai nama dan sifat yg berbeda. Tiga jenis haji
tersebut adl sebagai berikut:
1. Haji Tamattu’
Haji Tamattu’ adl berihram utk menunaikan umrah di
bulan-bulan haji dan diselesaikan umrah pada waktu-waktu tersebut1.
Kemudian pada hari Tarwiyah berihram kembali dari Makkah utk
menunaikan haji hingga sempurna. Bagi yg berhaji Tamattu’
wajib bagi menyembelih hewan kurban pada tanggal 10 Dzul Hijjah
atau di hari-hari tasyriq . Bila tdk mampu menyembelih mk wajib
berpuasa 10 hari; 3 hari di waktu haji dan 7 hari setelah pulang ke
kampung halamannya.

2. Haji Qiran
Haji Qiran adl berihram utk menunaikan umrah dan haji sekaligus dan
menetapkan diri dlm keadaan berihram hingga hari nahr . Atau
berihram utk umrah dan sebelum memulai thawaf umrah dia masukkan
niat haji pada . Kemudian melakukan thawaf qudum lalu shalat dua
rakaat di belakang maqam Ibrahim. Setelah itu bersa’i di
antara Shafa dan Marwah utk umrah dan haji sekaligus dgn satu
sa’i kemudian masih dlm kondisi berihram hingga datang masa
tahallul di hari nahr . Boleh pula bagi utk mengakhirkan sa’i
dari thawaf qudum yg nanti akan dikerjakan setelah thawaf haji .
Terlebih bila kedatangan di Makkah agak terlambat dan khawatir tdk
bisa tuntas mengerjakan haji bila disibukkan dgn sa’i. Untuk
haji Qiran ini wajib menyembelih hewan kurban pada tanggal 10 Dzul
Hijjah atau di hari-hari tasyriq . Bila tdk mampu menyembelih mk
wajib berpuasa 10 hari; 3 hari di waktu haji dan 7 hari setelah
pulang ke kampung halamannya.

3. Haji Ifrad
Haji Ifrad adl melakukan ihram utk berhaji saja di bulan-bulan
haji. Setiba di Makkah melakukan thawaf qudum kemudian shalat dua
rakaat di belakang maqam Ibrahim. Setelah itu bersa’i di
antara Shafa dan Marwah utk haji tersebut kemudian menetapkan diri
dlm kondisi berihram hingga datang masa tahallul di hari nahr .
Boleh pula bagi utk mengakhirkan sa’i dari thawaf qudum dan
dikerjakan setelah thawaf haji . Terlebih ketika kedatangan di
Makkah agak terlambat dan khawatir tdk bisa tuntas mengerjakan haji
bila disibukkan dgn kegiatan sa’i sebagaimana haji Qiran.
Untuk haji Ifrad ini tdk ada kewajiban menyembelih hewan
kurban.

Jenis Haji Apakah yg Paling Utama ?
Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Berdasarkan
penelitian mk keutamaan tersebut tergantung pada kondisi orang yg
akan melakukannya. Jika dia safar utk umrah secara tersendiri
kemudian safar kembali utk berhaji atau dia bersafar ke Makkah
sebelum bulan-bulan haji utk berumrah lalu tinggal di sana mk para
ulama sepakat bahwa yg afdhal bagi adl haji Ifrad. Adapun jika dia
bersafar ke Makkah pada bulan-bulan haji utk melakukan umrah dan
haji dgn membawa hewan kurban mk yg afdhal bagi adl haji Qiran. Dan
bila tdk membawa hewan kurban mk yg afdhal bagi adl haji
Tamattu’.”
Sebagian ulama ada yg berpendapat bahwa haji Tamattu’ lbh
utama dari semua jenis haji secara mutlak. Bahkan Asy-Syaikh
Al-Albani rahimahullah berpendapat bahwa hukum haji Tamattu’
adl wajib sebagaimana dlm kitab beliau Hajjatun Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam . Namun demikian beliau rahimahullah
mengatakan: “Mungkin ada yg berkata ‘Sesungguh apa yg
engkau sebutkan tentang wajib haji Tamattu’ dan bantahan
terhadap yg mengingkari sangatlah jelas dan bisa diterima. Namun
masih ada ganjalan manakala ada yg mengatakan bahwa
Al-Khulafa’ Ar-Rasyidun justru melakukan haji Ifrad.
Bagaimanakah solusinya?’ Jawabannya: ‘Dalam bahasan yg
lalu telah kami jelaskan bahwasa haji Tamattu’ itu hukum
wajib bagi seseorang yg tdk membawa hewan kurban. Adapun bagi
seseorang yg membawa hewan kurban mk tdk wajib bagi berhaji
Tamattu’. Bahkan tdk boleh bagi utk berhaji Tamattu’.
Yang afdhal bagi adl haji Qiran atau haji Ifrad. Sehingga apa yg
telah disebutkan bahwa Al-Khulafa’ Ar-Rasyidun berhaji Ifrad
dimungkinkan krn mereka membawa hewan kurban. Dengan demikian
masalah bisa dikompromikan walhamdulillah.”

Miqat Haji
Miqat haji ada dua macam:
1. Miqat zamani: Yaitu batasan-batasan waktu di mana dilakukan
ibadah haji. Batasan waktu tersebut adl bulan-bulan haji .
Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

الْحَجُّ
أَشْهُرٌ
مَّعْلُوْمَاتٌ

“Haji itu pada bulan-bulan yg telah ditentukan.”
2. Miqat makani: Yaitu sebuah tempat yg telah ditentukan dlm
syariat utk memulai niat ihram haji dan umrah.
Miqat Makani tersebut ada lima3 yaitu:
Pertama: Dzul Hulaifah . Tempat ini adl miqat bagi penduduk kota
Madinah dan yg datang melalui rute mereka. Jarak dgn kota Makkah
sekitar 420 km.
Kedua: Al-Juhfah. Tempat ini adl miqat penduduk Saudi Arabia bagian
utara dan negara-negara Afrika Utara dan Barat serta penduduk
negeri Syam . Jarak dgn kota Makkah kurang lbh 208 km. Namun tempat
ini telah ditelan banjir dan sebagai ganti adl daerah Rabigh yg
berjarak kurang lbh 186 km dari kota Makkah.
Ketiga: Qarnul Manazil yg berjarak kurang lbh 78 km dari Makkah
atau Wadi Muhrim yg berjarak kurang lbh 75 km dari kota Makkah.
Tempat ini merupakan miqat penduduk Najd dan yg setelah dari
negara-negara Teluk Irak Iran dll. Demikian pula penduduk bagian
selatan Saudi Arabia yg berada di seputaran pegunungan Sarat.
Keempat: Yalamlam yg berjarak kurang lbh 120 km dari kota Makkah .
Ini adl miqat penduduk negara Yaman Indonesia Malaysia dan
sekitarnya.
Kelima: Dzatu ‘Irqin yg berjarak kurang lbh 100 km dari kota
Makkah. Ini adl miqat penduduk negeri Irak dan penduduk
negara-negara yg melewatinya. Awal mula direalisasikan Dzatu
‘Irqin sebagai miqat adl di masa khalifah ‘Umar bin
Al-Khaththab. Yaitu ketika penduduk Kufah dan Bashrah merasa
kesulitan utk pergi ke miqat Qarnul Manazil dan mengeluhkan kepada
khalifah. Mereka pun diperintah utk mencari tempat yg sejajar
dengannya. Dan akhir dijadikanlah Dzatu ‘Irqin sebagai miqat
mereka dgn kesepakatan dari khalifah Umar bin Al-Khaththab
radhiyallahu ‘anhu yg ternyata mencocoki sabda Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana dlm Shahih Muslim
dari hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma.
Wallahu a’lam.

1 Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz berkata: “Seseorang dikatakan
berhaji tamattu’ ketika dia datang ke Baitullah utk berumrah
kemudian tinggal di sana utk menunaikan haji .”
2 Berdasarkan riwayat Al-Bukhari dari ‘Aisyah dan Ibnu Umar
radhiyallahu ‘anhum bahwasa Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam tdk membolehkan bershaum di hari Tasyriq kecuali bagi
seseorang yg berhaji dan tdk mampu menyembelih hewan kurban.
3 Sebagaimana dlm hadits Abdullah bin Abbas radhiallahu
‘anhuma yg diriwayatkan Al-Bukhari no. 1524 dan Muslim no.
1811 dan penentuan khalifah Umar bin Al-Khaththab radhiallahu
‘anhu tentang Dzatu ‘Irqin yg terdapat dlm riwayat
Al-Bukhari no. 1531 yg mencocoki sabda Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam dari hadits Jabir bin Abdillah radhiallahu
‘anhuma.

Sumber: www.asysyariah.com