Menurut Biro Pusat Statistik (2000) sekitar 585% dari luas daratan Indonesia (1114 juta hektar) merupakan lahan kering. Lahan kering adl lahan yg dapat digunakan utk usaha pertanian dan membutuhkan air dalam jumlah yg terbatas. Sebagian besar lahan kering bergantung pada hujan utk memenuhi kebutuhan air bagi tanaman.

Sifat fisik tanah pada lahan kering kurang baik yaitu berstruktur padat kelembapan lapisan tanah atas (top soil) maupun lapisan tanah bawah (sub soil) rendah sirkulasi udara agak terhambat dan kemampuan tanah utk menyimpan air relatif rendah (Mahadelswara 2004).
Menurut Semaoen et al. (1991) dalam Guritno et al. (1997) ciri utama yg menonjol di lahan kering adl terbatas air makin menurun produktifitas lahan tinggi variabilitas kesuburan tanah dan macam spesies tanaman yg ditanam serta aspek sosial ekonomi dan budaya. Sedangkan Dudung (1991) dalam Guritno et al. (1997) berpendapat bahwa keadaan lahan kering umum adl lahan tadah hujan yg lbh peka terhadap erosi terutama jika keadaan tanah miring dan tak tertutup vegetasi.

Lahan kering sebagian besar terdiri dari tanah-tanah ultisol inceptisol/aluvial alfisol dan oksisol namun tetap berpotensi utk dikembangakan sebagai lahan yg produktif dgn pemilihan teknologi dan jenis komoditi yg sesuai (Mahadelswara 2004).

Alluvial merupakan tanah yg berkembang dari bahan alluvium muda (recen) mempunyai susunan berlapis atau kadar C-organik tak teratur dgn kadar fraksi pasir kurang dari 60% pada kedalaman antara 25 – 100cm dari permukaan tanah mineral (Pusat Penelitian Tanah 1993). Tanah aluvial hanya meliputi lahan yg sering atau baru saja mengalami banjir atau merupakan hasil endapan bahan-bahan koluvial akibat angkutan dari daerah di atasnya.

Tanah Aluvial dgn warna kelabu kekuningan (disebut Aluvial Kelabu Kekuningan) berkembang di daerah dgn tingkat drainasi yg baik. Tanah Aluvial Kelabu Kekuningan pada umum mempunyai masalah dgn kekurangan air.