Kurikulum pendidikan di pesantren saat ini tak
sekedar fokus pada kita kitab klasik (baca : ilmu agama) tetapi
juga memasukkan semakin banyak mata pelajaran dan keterampilan umum
di Pesantren saat ini dikhotomi ilmu mulai tak populer beberapa
pesantren bahkan mendirikan lembaga pendidikan umum yg berada
dibawah DIKNAS Misal Undar Jombang Pondok pesantren Iftitahul
Muallimin Ciwaringin Jawa barat dll.

Perkembangan yg begitu pesat dalam ilmu pengetahuan dan
tehnologi menyebabkan pengertian kurikulum selalu mengalami
perubahan dari waktu ke waktu namun demikian satu hal yg permanen
disepakati bahwa Istilah kurikulum berasal dari bahasa Yunani
semula populer dalam bidang olah raga yaitu Curere yg
berarti jarak terjauh yg harus ditempuh dalam olahraga lari mulai
start hingga finish. Kemudian dalam konteks pendidikan kurikulum
diartikan sebagai “circle of instruction
yaitu suatu lingkaran pengajaran dimana guru dan murid terlibat
didalamnya.

Dalam bahasa Arab Menurut Omar Muhammad (1979 :
478) term kurikulum dikenal dgn term manhaj yakni jalan
terang yg dilalui manusia dalam hidupanya. Dalam konteks pendidikan
kurikulum diartikan sebagai jalan terang yg dilalui oleh pendidik
dan peserta didik utk menggabungkan pengetahuan ketampilan sikap
dan seperangkat nilai.

Secara etimologi artikulasi kurikulum dapat dibedakan menjadi
dua pertama dalam pengertian yg sempit disebut juga
(pengertian tradisional) yakni sebagaimana dirumuskan Regan ( 1960
: 57) “ The curriculum has mean the subjects taught in
school or the course of study “
. Kurikulum adl mata
pelajaran yg diajarkan di sekolah atau bidang studi.
Kedua dalam pengertian yg luas disebut juga (pengertian
modern) yakni seperti dirumuskan Spear ( 1975 : 67) “The
curriculum is looked as being composed of all the actual experience
pupils have under school direction writing a courrse of study
become but small prt of curriculum program”.
Kurikulum
adl semua pengalaman aktual yg dimiliki siswa di bawah pengaruh
sekolah sementara bidang studi adl bagian kecil dari program
kurikulum secara keseluruhan.

Rumusan ini dijustifikasi oleh sejumlah pakar lain seperti
Saylor dan Alexander yg menyebutkan “The curriculum is
the sum total of the school’s effort to influence learning
whether in the calssroom on the playground or out of
shoo”
kurikulum adl keseluruhan usaha sekolah dalam
mempengaruhi belajar anak yg berlangsung di dalam kelas di sekolah
maupun di luar sekolah.

Melampaui pembagian diatas saat ini ada juga beberapa pakar
seperti Lee and Lee ( 1940 : 211) yg menyebutkan bahwa
Curricuum is the strategy which we use in adapting this
cultural geritage to the purpose of the shoo “
Kurikulum
adl strategi yg digunakan utk mengadaptasikan pewarisan kultural
dalam mencapai tujuan sekolah.

Berdasarkan literatur yg ada yg dimaksud dgn kurikulum adl salah
satu komponen utama yg diguanakan sebagai acuan utk menentukan isi
pengajaran mengarahkan proses mekanisme pendidikan tolak ukur
keberhasilan dan kualitas hasil pendidikan disamping fakyor-faktor
yg lain. Oleh sebab itu keberadan kurikulum dalam sebuah lembaga
pendidikan sangat penting. Kita selalu sering mendengar sorotan
tajam bahwa kurikulum selalu tertinggal dgn perkembangan zaman.
Dengan demikian pembenahan kurikulum harus senantiasa dilakukan
secara berkesinambungan. Dalam konteks pendidikan di pesantren
Nurcholis Madjid mengatakan yg dikutip oleh Abdurrahman
Mas’ud dkk bahwa istilah kurikulum tak terkenal di dunia
pesantren (masa pra kemerdekaan) walaupun sebenar materi pendidikan
sudah ada di dalam pesantren terutama pada praktek pengajaran
bimbingan rohani dan latihan kecakapan dalam kehidupan di
pesantren. Secara eksplisit pesantren tak merumuskan dasar dan
tujuan pesantren atau mengaplikasikan dalam bentuk kurikulum.
(2002:85)

Dewasa ini pesantren dihadapkan pada banyak tantangan termasuk
di dalam modernisasi pendidikan Islam. Dalam banyak hal sistem dan
kelembagaan pesantren telah dimodernisasi serta disesuaikan dgn
tuntutan pembangunan terutama dalam aspek-aspek kelembagaan
sehingga secara otomatis akan mempengaruhi ketetapan kurikulum.
Berdasarkan pendapat di atas bahwa kurikulum pada dasar merupakan
seperangkat perencanaan dan media utk mengantarkan lembaga
pendidikan dalam mewujudkan lembaga pendidikan yg diidamkan.
Pesantren dalam aspek kelembagaan mulai mengembangkan diri dgn
jenis dan corak pendidikan yg bermacam-macam. Seperti Pesantren
Tebuireng Jombang yg di dalam telah berkembang madrasah sekolah
umum sampai perguruan tinggi yg dalam proses pencapaian tujuan
institusional selalu menggunakan kurikulum. Tetapi pesantren yg
mengikuti pola salafi (tradisional) mungkin kurikulum belum
dimasukkan secara baik.

Maka dari pada itu kurikulum pondok pesantren
tradisional
status cuma sebagai lembaga pendidikan non
formal yg hanya mempelajari kitab-kitab klasik. Meliputi : nahwu
sorrof belaghoh tauhid tafsir hadist mantik tasawwuf bahasa arab
fiqih ushul fiqh dan akhlak. Dengan demikian pelaksanaan kurikulum
pendidikan pesantren ini berdasarkan kemudahan dan kompleksitas
ilmu atau masalah yg dibahas dalam kitab. Jadi ada tingkat awal
menengah dan lanjutan.
Jenjang pendidikan dalam pesantren tak dibatasi seperti dalam
lembaga-lembaga pendidikan yg memakai sistem klasikal. Umum
kenaikan tingkat seorang santri didasarkan kepada isi mata
pelajaran tertentu yg ditandai dgn tamat dan berganti kitab yg
dipelajarinya.

Apabila seorang santri telah mengusai satu kitab atau beberpa
kitab dan telah lulus ujian yg diuji oleh Kiai maka ia berpindah
kepada kitab lain yg lbh tinggi tingkatannya. Jelas penjenjangan
pendidikan pesantren tak berdasarkan usia tetapi berdasarkan
penguasaan kitab-kitab yg telah ditetapkan dari paling rendah
sampai paling tinggi.
Sebagai konsekuensi dari cara penjenjangan di atas pendidikan
pesantren biasa menyediakan beberapa cabang ilmu atau bidang-bidang
khusus yg merupakan fokus masing-masing pesantren utk dapat menarik
minat para santri menuntut ilmu di dalamnya. Biasa keunikan
pendidikan sebuah pesantren telah diketahui oleh calon santri yg
ingin mondok. (Sulthon dan Ridho 2006: 159-160)

Kendati beberapa pakar berbeda dalam merumuskan pengertian
kurikulum tetapi mereka tak berbeda mengenai fungsi kurikulum yakni
: sebagai sarana atau alat utk mencapai tujuan pendidikan sebagai
pelestari nilai nilai budaya dan sebagai pedoman tentang jenis
lingkup dan hirarki urutan isi dan proses pendidikan. Kurikulum
bagi pendidik berfungsi sebagai pedoman kerja dalam menyusun dan
mengorganisir pengalaman belajar peserta didik bagi tenaga
kependidikan berfungsi sebagai pedoman dalam mengadakan supervisi
bagi wali murid berfungsi utk memberikan informasi sekaligus
dorongan agar membantu menggiatkan belajar yg relevan di rumah dan
bagi perserta didik sendiri berfungsi sebagai informasi tentang
jenis pengetahuan nilai nilai dan keterampilan yg telah diperoleh
sebagai entri behaviornya.

Kurikulum Pendidikan pesantren menurut Hasan
(2001 : 6 ) paling tak memiliki beberapa komponen antara lain :
tujuan isi pengetahuan dan pengalaman belajar strategi dan
evaluasi. Biasa komponen tujuan tersebut terbagi dalam beberapa
tingkatan yakni tujuan pendidikan nasional tujuan institusional
tujuan kurekuler dan tujuan instruksional. Namun demikian berbagai
tingkat tujuan tersebut satu sama lain merupakan suatu kesatuan yg
tak terpisahkan.

Komponen isi meliputi pencapaian target yg jelas materi standart
standart hasil belajar siswa dan prosedur pelaksanaan pembelajaran.
kepribadian. Komponen strategi tergambar dari cara yg ditempuh di
dalam melaksanakan pengajaran cara di dalam mengadakan penilaian
cara dalam melaksanakan bimbingan dan penyuluhan dan cara mengatur
kegiatan sekolah secara keseluruhan. Cara dalam melaksanakan
pengajaran mencakup cara yg berlaku dalam menyajikan tiap bidang
studi termasuk cara mengajar dan alat pelajaran yg digunakan.

Komponen evaluasi berisi penilaian yg dilakukan secara terus
menerus dan bersifat menyeluruh terhadap bahan atau program
pengajaran yg dimaksudkan sebagai feedback terhadap tujuan materi
metode sarana dalam rangka membina dan mengembangkan kurikulum lbh
lanjut. Menurut Imam Bawani (1987 : 92) adl berbeda antara
pendidikan Islam dgn pendidikan agama Islam. Bila disebut
pendidikan Islam maka orientasi adl sistem yaitu sistem pendidikan
yg Islami yg teori-teori disusun berdasarkan alqur’an hadits.
Sedangkan pendidikan agama Islam adl nama kegiatan atau aktivitas
dalam mendidikkan agama Islam.

Dengan kata lain pendidikan agama Islam adl sejajar dgn mata
pelajaran lain di sekolah seperti pendidikan matematika ataupun
pendidikan biologi. Dalam kurikulum Pendidikan Agama
Islam
dijelaskan bahwa pendidikan agama Islam adl upaya
sadar dan terencana dalam mempersiapkan peserta didik utk mengenal
memahami menghayati hingga mengimani ajaran agama Islam dibarengi
dgn tuntunan utk menghormati penganut agama lain dalam hubungan dgn
kerukunan antar umat beragama hingga terwujud persatuan dan
kesatuan bangsa. Jadi kurikulum Pendidikan pesasntren adl
bahan-bahan pendidikan agama Islam di pesantren berupa kegiatan
pengetahuan dan pengalaman yg dgn sengaja dan sisteatis diberikan
kepada santri dalam rangka mencapai tujuan Pendidikan Agama Islam.
Kurikulum Pendidikan pesasntren merupakan alat utk mencapai tujuan
Pendidikan Agama Islam. Adapun lingkup materi pendidikan pesasntren
adl : Al-Qur’an dan Hadits Keimanan akhlak Fiqh/ibadah dan
sejarah dgn kata lain cakupan Pendidikan pesasntren ada keserasian
keselarasan dan keseimbangan hubungan manusia dgn Allah diri
sendiri sesama manusia makhluk lain maupun lingkungannya.

Untuk mencapai tujuan Pendidikan pesantren tersebut perlu
rekonstruksi kurikulum agar lbh riil. Rumusan tujuan Pendidikan
pesasntren yg ada selama ini masih bersifat general dan kurang mach
dgn realitas masyarakat yg terus mengalami transformasi.
Rekonstruksi disini dimaksudkan utk meningkatkan daya relevansi
rumusan tujuan Pendidikan pesasntren dgn persoalan riil yg dihadapi
masyarakat dalam hidup kesehariannya.

Prinsip pengembangan kurikulum Pendidikan pesasntren secara umum
dapat dikelompkkan menjadi dua yakni prinsip umum yg meliputi
prinsip relevansi prinsip fleksebelitas prinsip kontinoitas prinsip
praktis prinsip efektifitas dan prinsip efisiensi. Sedangkan
prinsip khusus mencakup prinsip yg berkenaan dgn tujuan Pendidikan
pesasntren prinsip yg berkenaan dgn pemilihan isi Pendidikan
pesasntren prinsip yg berkenaan dgn metode dan strategi proses
pembelajaran Pendidikan pesantren prinsip yg berkenaan dgn alat
evalusi dan penilaian Pendidikan pesasntren.
Mastuhu secara praktis memberikan konsep tentang model dan
paradigma Pendidikan pesantren yg diharapkan menjadi orientasi dan
landasan dalam kurikulum lembaga Pendidikan pesasntren yaitu :

  • Dasar Pendidikan Pendidikan pesasntren harus
    mendasarkan pada “teosentris’ dengan
    menjadikan “antroposentris” sebagai bagian
    esensial dari konsep teosentris. Hal ini berbeda dgn pendidikan
    sekuler yg hanya bersifat antroposentris semata.
  • Tujuan Pendidikan kerja membangun kehidupan
    duniawiyah melalui pendidikan sebagai perwujudan mengabdi
    kepada-Nya. Pembangunan kehidupan duniawiyah bukan menjadi tujuan
    final tetapi merupakan kewajiban yg diimani dan terkait kuat dgn
    kehidupan ukhrawiyah tujuan final adl kehidupan ukhrawi dgn ridla
    Allah SWT.
  • Konsep manusia Pendidikan Islam memandang
    manusia mempunyai fitrah yang harus dikembangkan tak
    seperti pendidikan sekuler yg memandang manusia dgn
    tabularasa-nya.
  • Nilai Pendidikan pesasntren berorientasi pada
    Iptek sebagai kebenaran relatif dan Imtaq sebagai kebenaran mutlak.
    Berbeda dgn pendidikan sekuler yg hanya berorientasi pada
    Iptek.

Pengembangan kurikulum Pendidikan pesantren yg terus menerus
menyangkut seluruh komponen merupakan sesuatu yg mutlak utk
dilakukan agar ia tak kehilangan relevansi dgn kebutuhan riil yg
dihadapi komonitas pendidikan islam yg kecenderungan terus
mengalami proses dinamika transformatif.

Pendidikan pesantren yg dibangun atas dasar pemikiran yg Islami
bertolak dari pandangan hidup dan pandangan tentang manusia serta
diarahkan kepada tujuan pendidikan yg dilandasi kaidah –
kaidah Islam. Kurikulum yg demikian biasa mengacu pada sembilan
prinsip utama sebagai berikut :

  • Sistem dan pengembangan kurikulum hendak memperhatikan fitrah
    manusia agar tetap berada dalam kesucia dan tak menyimpang.
  • Kurikulum hendak mengacu kepada pencapain tujuan akhir
    pendidikan Islam sambil memperhatikan tujuan – tujuan di
    bawahnya.
  • Kurikulum perlu disusun secara bertahap mengikuti periodisasi
    perkembangan peserta didik.
  • Kurikulum hendak memperhatikan kepentingan nyata masyarakat
    seperti kesehatan keamanan administrasi dan pendidikan. Kurikulum
    hendak pula disesuaikan dgn kondisi dan lingkungan seperti iklim
    dan kondisi alam yg memungkinkan ada perbedaan pola kehidupan
    agraris industri dan komersial.
  • Kuirikulum hendak terstruktur dan terorganisasi secara
    integral.
  • Kurikulum hendak realistis. Arti kurikulum dapat dilaksanakan
    sesuai dgn berbagai kemudahan yg dimiliki tiap negara yg
    melaksanakanya.
  • Metode pendidikan yg merupakan salah satu komponen kurikulum
    ini hendak bersifat fleksibel.
  • Kurikulum hendak efektif utk mencapai tingkah laku dan emosi yg
    positif.
  • Kurikulum hendak memperhatiakan tingkat perkembangan peserta
    didik baik fisik emosional ataupun intelektualnya; serta berbagai
    masalah yg dihadapi dalam tiap tingkat perkembangan seperti
    pertumbuhan bahasa kamatangan sosial dan kesiapan
    religiusitas.