“Sesungguhnya orang-orang yg menukar janji Allah dan
sumpah-sumpah mereka dgn harga murah mereka tidak akan mendapat
bagian pahala di akhirat bahkan Allah tidak akan berkata-kata pada
mereka dan tidak akan melihat dgn rahmat padanya dan tidak pula
menyucikan mereka dari tuntutan dan bagi mereka tetap siksa yg
sangat pedih.”
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yg kamu
tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran
penglihatan dan hati semuanya itu akan dimintai
pertanggungjawabannya.”
Kebiasaan berbohong atau berdusta
menjadi saksi palsu dgn bersumpah palsu agaknya sudah merupakan
budaya yg tidak asing lagi bagi masyarakat bahkan para tokohnya
pada saat ini. Rasanya mereka tidak pernah mempunyai beban padahal
mereka melaksanakan hal-hal yg menurut ajaran Islam itu harus
benar-benar dijauhi. Disharmonis kehidupan akan senantiasa terwujud
di tengah-tengah masyarakat jika memang kebiasaan tersebut tidak
segera dihentikan. Padahal ketenangan hidup akan tercapai bilamana
elemen masyarakat antara yg satu dgn yg lainnya saling menaruh rasa
percaya diri dan jujur dalam kesehariannya. Ketenangan akan berubah
menjadi kerunyaman dan ketidakdisiplinan manakala sifat jujur sudah
tidak menjiwai masyarakat lagi seperti kondisi yg terjadi pada saat
ini. Para pejabat sudah tidak mendapat hati di mata masyarakat.
Masyarakat sudah tidak percaya lagi kepada mereka. Hal ini bukan
terjadi pada para pejabat saja melainkan sudah merasuki kepada para
tokoh masyarakat - sebut saja para guru agama dan kyai - yg nota
benenya para pemimpin informal/spiritual mereka. Persoalan ini lbh
disebabkan krn mereka terlalu mengumbar kata-kata mengumbar
nasihat-nasihat dan mengumbar janji-janji tetapi tak satu pun kata
nasihat atau janji tersebut terbukti dalam kenyataan. Oleh krn itu
melalui ayat ini Allah SWT kembali mengingatkan kepada para
hamba-Nya akan bahaya perbuatan tersebut dan implikasinya dalam
kehidupan di dunia dan di akhirat. Satu implikasi yg logis dalam
kehidupan duniannya adl terjadinya penghalalan segala cara yg
timbul akibat kesaksian palsu dan kedustaan seorang hamba.
Kesaksian palsu dan dusta tidak akan terjadi bila dibalik perbuatan
tersebut tidak ada segepok uang/hadiah atau setumpuk jabatan.
Lantaran adanya iming-iming ini maka seseorang akan sangat mudah
tergiur utk melaksanakan perbuatan tersebut . Sebagai seorang
muslim kita seharusnya sadar akan buruknya perbuatan tersebut serta
akibat yg ditimbulkannya sadar pula akan ancaman yg diberikan Allah
kepada kita. Pendengaran yg kita gunakan utk mendengarkan informasi
dan berita yg ada ini mata yg kita gunakan utk melihat apa yg ada
dihadapan kita ini dan hati yg kita gunakan utk untuk memahami dan
menyelami kehidupan ini semuanya masing-masing akan dimintai
pertanggungjawabannya oleh Allah SWT kelak di hari kiamat. Apa saja
yg dilakukan organ tubuh kita ini Allah senantiasa mengontrolnya
sebagaimana yg Allah jelaskan dalam ayat ke-18 dari surat Qaaf
“Tiada suatu ucapan pun yg diucapkannya melainkan ada di
dekatnya malaikat pengawas yg selalu hadir.”
Berangakat dari
ayat ini sudah saatnya seorang muslim memperhatikan hal-hal berikut
ini

Menghindar menjadi saksi palsu atau
berlaku dusta. Saksi palsu termasuk salah satu dosa besar yg harus
bersama-sama kita jauhi. Dalam hal ini Rasulullah saw menjelaskan
dalam sabdanya Dari Abu Bakrah ra berkata Rasulullah saw bersabda
“Maukah kalian aku ceritai tentang dosa besar yg paling
besar?”
Kami menjawab “Ya wahai Rasulullah.” Dia bersabda
“Menyekutukan Allah dan mendurhakai kedua orang tua” Rasul
ketika itu bersandar lalu duduk kemudian bersabda “Ingatlah dan
kesaksian palsu.”
Rasul terus-menerus mengulang-ulang perkataan
itu sehingga kami berkata mudah-mudahan Rasul diam.
Jika kita menghindari perbuatan
tersebut berarti kita mencoba menerapkan salah satu sifat-sifat
orang mukmin yg dikasihi dan disayangi Allah sebagaimana yg
dijelaskan dalam surat al-Furqan ayat 63 - 74. Adapun ayat yg
menekankan penghindaran dari perbuatan tersebut adl seperti “Dan
orang-orang yg tidak memberikan kesaksian palsu dan apabila mereka
bertemu dgn yg mengerjakan perbuatan-perbuatan yg tidak berfaedah
maka mereka lalui dgn menjaga kehormatan dirinya.”
Jika kita menjauhi perbuatan tersebut
berarti kita telah memenangkan sebuah pertempuran yg dahsyat dgn
setan/iblis dan kita keluar dari sebuah pusaran penyakit yg telah
tumbuh kuat dalam tubuh kita. Sikap seperti ini biasanya gampang
tumbuh lantaran ada satu target yg diinginkan oleh setan/iblis
yaitu terpecah belahnya hubungan umat Islam dgn sesamanya.
Mudah-mudahan Allah SWT memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada
kita sehingga kita mampu menerapkan sifat-sifat yg terpuji dalam
kehidupan kita dan mampu menjauhi sifat-sifat yg tercela. Al-Islam
- Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

sumber file al_islam.chm