Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Lc.Kelompok sempalan ini
didirikan di kota Al-Quds pada tahun 1372 H oleh seorang alumnus
Universitas Al-Azhar Kairo yg berakidah Maturidiyyah1 dalam masalah
asma` dan sifat Allah dan berpandangan Mu’tazilah dalam
sekian permasalahan agama. Dia adl Taqiyuddin An-Nabhani warga
Palestina yg dilahirkan di Ijzim Qadha Haifa pada tahun 1909.
Markas tertua mereka berada di Yordania Syiria dan Lebanon {Lihat
Mengenal HT hal. 22 Al-Mausu’ah Al-Muyassarah hal. 135 dan
Membongkar Selubung Hizbut Tahrir hal. 2 Asy-Syaikh Abdurrahman
Ad-Dimasyqi}. Bila demikian akidah dan pandangan keagamaan
pendirinya lalu bagaimana keadaan HT itu sendiri?!Apa Itu Hizbut
Tahrir?Hizbut Tahrir telah memproklamirkan diri sebagai kelompok
politik bukan kelompok yg berdasarkan kerohanian semata bukan
lembaga ilmiah bukan lembaga pendidikan dan bukan pula lembaga
sosial . Atas dasar itulah maka seluruh aktivitas yg dilakukan HT
bersifat politik baik dalam mendidik dan membina umat dalam aspek
pergolakan pemikiran dan dalam perjuangan politik. {Mengenal HT
hal. 16}Adapun aktivitas dakwah kepada tauhid dan
akhlak mulia sangatlah mereka
abaikan. Bahkan dengan terang-terangan mereka nyatakan:
“Demikian pula dakwah kepada akhlak
mulia
tidak dapat menghasilkan
kebangkitan… dakwah kepada akhlak
mulia
bukan dakwah menyelesaikan problematika
utama kaum muslimin yaitu menegakkan sistem
khilafah.”{Strategi Dakwah HT hal. 40-41}. Padahal dakwah
kepada tauhid dan akhlak mulia
merupakan misi utama para nabi dan rasul.Allah k
menegaskan:وَلَقَدْ
بَعَثْنَا
فِيْ كُلِّ
أُمَّةٍ
رَسُوْلاً
أَنِ
اُعْبُدُوا
اللهَ
وَاجْتَنِبُوا
الطَّاغُوْتَ“Dan
sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat :
‘Beribadahlah hanya kepada Allah dan jauhilah segala
sesembahan selain-Nya’.” Rasulullah n juga
menegaskan:بُعِثْتُ
لأُتَمِّمَ
مَكاَرِمَ
اْلأَخْلاَقِ“Aku
diutus utk menyempurnakan akhlak yg bagus.” {HR. Al-Bukhari
dalam Al- Adabul Mufrad Ahmad dan Al-Hakim. Dishahihkan oleh
Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash- Shahihah no. 45}Tujuan dan Latar
BelakangMewujudkan kembali Daulah Khilafah Islamiyyah di muka bumi
merupakan tujuan utama yg melatarbelakangi berdirinya HT dan segala
aktivitasnya. Yang dimaksud khilafah adl kepemimpinan umat dalam
suatu Daulah Islam yg universal di muka bumi ini dgn dipimpin
seorang pemimpin tunggal yg dibai’at oleh umat. Para pembaca
tahukah anda apa yg melandasi HT utk mewujudkan Daulah Khilafah
Islamiyyah di muka bumi? Landasannya adl bahwa semua negeri kaum
muslimin dewasa ini –tanpa kecuali– termasuk kategori
Darul Kufur sekalipun penduduknya kaum muslimin. Karena dalam kamus
HT yg dimaksud Darul Islam adl daerah yg di dalamnya diterapkan
sistem hukum Islam dalam seluruh aspek kehidupan termasuk dalam
urusan pemerintahan dan keamanannya berada di tangan kaum muslimin
sekalipun mayoritas penduduknya bukan muslim. Sedangkan Darul Kufur
adl daerah yg di dalamnya diterapkan sistem hukum kufur dalam
seluruh aspek kehidupan atau keamanannya bukan di tangan kaum
muslimin sekalipun seluruh penduduknya adl muslim. Padahal tolok
ukur suatu negeri adl keadaan penduduknya bukan sistem hukum yg
diterapkan dan bukan pula sistem keamanan yg mendominasi. Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Keberadaan suatu bumi sebagai
Darul Kufur Darul Iman atau Darul Fasiqin bukanlah sifat yg kontinu
bagi negeri tersebut namun hal itu sesuai dengan keadaan
penduduknya. Setiap negeri yg penduduknya adl orang-orang mukmin
lagi bertakwa maka ketika itu ia sebagai negeri wali-wali Allah.
Setiap negeri yg penduduknya orang-orang non muslim maka ketika itu
ia sebagai Darul Kufur dan tiap negeri yg penduduknya orang-orang
fasiq maka ketika itu ia sebagai Darul Fusuq. Jika penduduknya
tidak seperti yg kami sebutkan dan berganti dgn selain mereka maka
ia disesuaikan dgn keadaan penduduknya tersebut.” Para
pembaca mengapa –menurut HT– harus satu khilafah?
Jawabannya adalah krn seluruh sistem pemerintahan yg ada dewasa ini
tidak sah dan bukan sistem Islam. Baik itu sistem kerajaan republik
presidentil ataupun republik parlementer {dipimpin perdana
menteri}. Sehingga merupakan suatu kewajiban menjadikan Daulah
Islam hanya satu negara bukan negara serikat yg terdiri dari banyak
negara bagian. {Lihat Mengenal HT hal. 49-55}Ahlus Sunnah Wal
Jamaah berkeyakinan bahwa pada asalnya Daulah Islam hanya satu
negara dan satu khalifah. Namun jika tidak memungkinkan maka tidak
mengapa berbilangnya kekuasaan dan pimpinan.
Al-’Allamah Ibnul Azraq Al-Maliki Qadhi Al-Quds berkata:
“Sesungguhnya persyaratan bahwa kaum muslimin harus dipimpin
oleh seorang pemimpin semata bukanlah suatu keharusan bila memang
tidak memungkinkan.”  Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul
Wahhab berkata: “Para imam dari tiap madzhab bersepakat bahwa
seseorang yg berhasil menguasai sebuah negeri atau beberapa negeri
maka posisinya seperti imam dalam segala hal. Kalaulah tidak
demikian maka dunia ini tidak akan tegak krn kaum muslimin sejak
kurun waktu yg lama sebelum Al-Imam Ahmad sampai hari ini tidak
berada di bawah kepemimpinan seorang pemimpin semata.”
 Al-Imam Asy-Syaukani berkata: “Adapun setelah
tersebarnya Islam dan semakin luas wilayahnya serta
perbatasan-perbatasannya berjauhan maka dimaklumilah bahwa
kekuasaan di masing-masing daerah itu di bawah seorang imam atau
penguasa yg menguasainya demikian pula halnya daerah yg lain.
Perintah dan larangan sebagian penguasapun tidak berlaku pada
daerah kekuasaan penguasa yg lainnya. Oleh karenanya tidak mengapa
berbilangnya pimpinan dan penguasa bagi kaum muslimin {di daerah
kekuasaan masing-masing -pen}. Dan wajib bagi penduduk negeri yg
terlaksana padanya perintah dan larangan pimpinan tersebut utk
menaatinya.” Demikian pula yg dijelaskan
Al-Imam Ash-Shan’ani sebagaimana dalam Subulus Salam cet.
Darul Hadits.Kapan HT Didirikan?Kelompok sempalan ini didirikan di
kota Al-Quds pada tahun 1372 H oleh seorang alumnus Universitas
Al-Azhar Kairo yg berakidah Maturidiyyah1 dalam masalah asma` dan
sifat Allah dan berpandangan Mu’tazilah dalam sekian
permasalahan agama. Dia adl Taqiyuddin An-Nabhani warga Palestina
yg dilahirkan di Ijzim Qadha Haifa pada tahun 1909. Markas tertua
mereka berada di Yordania Syiria dan Lebanon {Lihat Mengenal HT
hal. 22 Al-Mausu’ah Al-Muyassarah hal. 135 dan Membongkar
Selubung Hizbut Tahrir hal. 2 Asy-Syaikh Abdurrahman Ad-Dimasyqi}.
Bila demikian akidah dan pandangan keagamaan pendirinya lalu
bagaimana keadaan HT itu sendiri?! Wallahul musta’an.Landasan
Berpikir Hizbut TahrirLandasan berpikir HT adl Al Qur‘an dan
As Sunnah namun dgn pemahaman kelompok sesat Mu’tazilah bukan
dgn pemahaman Rasulullah n dan para shahabatnya. Mengedepankan akal
dalam memahami agama dan menolak hadits ahad dalam masalah akidah
merupakan ciri khas keagamaan mereka. Oleh krn itu tidaklah
berlebihan bila ahli hadits zaman ini Asy-Syaikh Al-Albani t
menjuluki mereka dgn Al-Mu’tazilah Al-Judud {Mu’tazilah
Gaya Baru}.Padahal jauh-jauh hari shahabat ‘Ali bin Abi
Thalib z telah berkata: “Kalaulah agama ini tolok ukurnya adl
akal niscaya bagian bawah khuf lbh pantas utk diusap daripada
bagian atasnya.”2 Demikian pula menolak hadits ahad dalam
masalah akidah berarti telah menolak sekian banyak akidah Islam yg
telah ditetapkan oleh ulama kaum muslimin. Di antaranya adalah:
Keistimewaan Nabi Muhammad n atas para nabi syafaat Rasulullah n
utk umat manusia dan untuk para pelaku dosa besar dari umatnya di
hari kiamat adanya siksa kubur adanya jembatan telaga dan timbangan
amal di hari kiamat munculnya Dajjal munculnya Al-Imam Mahdi
turunnya Nabi ‘Isa q di akhir zaman dan lain
sebagainya.Adapun dalam masalah fiqih akal dan rasiolah yg menjadi
landasan. Maka dari itu HT mempunyai sekian banyak fatwa nyeleneh.
Di antaranya adalah: boleh mencium wanita non muslim boleh melihat
gambar porno boleh berjabat tangan dgn wanita yg bukan mahram boleh
bagi wanita menjadi anggota dewan syura mereka boleh mengeluarkan
jizyah utk negeri kafir dan lain sebagainya. Langkah Operasional
utk Meraih KhilafahBagi HT khilafah adl segala-galanya. Untuk
meraih khilafah tersebut HT menetapkan tiga langkah operasional
berikut ini:1. Mendirikan Partai PolitikDengan merujuk Surat Ali
‘Imran ayat 104 HT berkeyakinan wajibnya mendirikan partai
politik. Untuk mendirikannya maka harus ditempuh tahapan pembinaan
dan pengkaderan {Marhalah At- Tatsqif} . Pada tahapan ini perhatian
HT tidaklah dipusatkan kepada pembinaan tauhid dan akhlak mulia.
Akan tetapi mereka memusatkannya kepada pembinaan kerangka Hizb
memperbanyak pendukung dan pengikut serta membina para pengikutnya
dalam halaqah-halaqah dgn tsaqafah Hizb secara intensif hingga
akhirnya berhasil membentuk partai. Adapun pendalilan mereka dgn
Surat Ali ‘Imran ayat 104 tentang wajibnya mendirikan partai
politik maka merupakan pendalilan yg jauh dari kebenaran. Adakah di
antara para shahabat Rasulullah n para tabi’in para
tabi’ut tabi’in dan para imam setelah mereka yg
berpendapat demikian?! Kalaulah itu benar pasti mereka telah
mengatakannya dan saling berlomba utk mendirikan parpol! Namun
kenyataannya mereka tidak seperti itu. Apakah HT lbh mengerti
tentang ayat tersebut dari mereka?!Cukup menunjukkan batilnya
pendalilan ini adl bahwa parpol terbangun di atas asas demokrasi yg
amat bertolak belakang dgn Islam. Bagaimana ayat ini dipakai utk
melegitimasi sesuatu yg bertolak belakang dgn makna yg dikandung
ayat? Wallahu a’lam.2. Berinteraksi dgn Umat Berinteraksi dgn
umat merupakan tahapan yg harus ditempuh setelah berdirinya partai
politik dan berhasil dalam tahapan pembinaan dan pengkaderan. Pada
tahapan ini sasaran interaksinya ada empat:- Pertama: Pengikut Hizb
dgn mengadakan pembinaan intensif agar mampu mengemban dakwah
mengarungi medan kehidupan dgn pergolakan pemikiran dan perjuangan
politik . Pembinaan intensif di sini tidak lain adl doktrin
‘ashabiyyah dan loyalitas terhadap HT.-Kedua: Masyarakat dgn
mengadakan pembinaan kolektif/umum yg disampaikan kepada umat Islam
secara umum berupa ide-ide dan hukum-hukum Islam yg diadopsi oleh
Hizb. Dan menyerang sekuat-kuatnya seluruh bentuk interaksi antar
anggota masyarakat tak luput pula interaksi antara masyarakat dgn
penguasanya. Taqiyuddin An-Nabhani berkata: “Oleh krn itu
menyerang seluruh bentuk interaksi yg berlangsung antar sesama
anggota masyarakat dalam rangka mempengaruhi masyarakat tidaklah
cukup kecuali dgn menyerang seluruh bentuk interaksi yg berlangsung
antara penguasa dgn rakyatnya dan harus digoyang dengan kekuatan
penuh dgn cara diserang sekuat-kuatnya dgn penuh keberanian.”
{Lihat Mengenal HT hal. 24 Terjun ke Masyarakat hal. 7}Betapa
ironisnya Rasulullah n memerintahkan kita agar menjadi masyarakat
yg bersaudara dan taat kepada penguasa sementara HT justru
sebaliknya. Mereka memecah belah umat dan memporakporandakan
kekuatannya. Lebih parah lagi bila hal itu dijadikan tolok ukur
keberhasilan suatu gerakan sebagaimana yg dinyatakan pendiri
mereka: “Keberhasilan gerakan diukur dgn kemampuannya utk
membangkitkan rasa ketidakpuasan rakyat dan kemampuannya utk
mendorong mereka menampakkan kemarahannya itu tiap kali mereka
melihat penguasa atau rezim yg ada menyinggung ideologi atau
mempermainkan ideologi itu sesuai dgn kepentingan dan hwa nfsu (**)
penguasa.” {Pembentukan Partai Politik Islam hal. 35-36}-
Ketiga: Negara-negara kafir imperialis yg menguasai dan mendominasi
negeri-negeri Islam dengan berjuang menghadapi segala bentuk makar
mereka .Demikianlah yg mereka munculkan. Namun kenyataannya di
dalam upaya penggulingan para penguasa kaum muslimin tak
segan-segan mereka meminta bantuan kepada orang-orang non muslim
dan meminta perlindungan dari negara-negara kafir. {Lihat
Membongkar Selubung Hizbut Tahrir hal. 5}- Keempat: Para penguasa
di negeri-negeri Arab dan negeri-negeri Islam lainnya dgn menyerang
seluruh bentuk interaksi yg berlangsung antara penguasa dgn
rakyatnya dan harus digoyang dgn kekuatan penuh dgn cara diserang
sekuat-kuatnya dgn penuh keberanian. Menentang mereka mengungkapkan
pengkhianatan dan persekongkolan mereka terhadap umat melancarkan
kritik kontrol dan koreksi terhadap mereka serta berusaha
menggantinya apabila hak-hak umat dilanggar atau tidak menjalankan
kewajibannya terhadap umat yaitu bila melalaikan salah satu urusan
umat atau mereka menyalahi hukum-hukum islam. .Para pembaca inilah
hakikat manhaj Khawarij yg diperingatkan Rasulullah n. Tidakkah
diketahui bahwa Rasulullah n menjuluki mereka dgn
“Sejahat-jahat makhluk” dan “Anjing- anjing
penduduk neraka”! Semakin parah lagi di saat mereka tambah
berkomentar: “Bahkan inilah bagian terpenting dalam aktivitas
amar ma’ruf nahi munkar.” Tidakkah mereka merenungkan
sabda Rasulullah n: “Akan ada sepeninggalku para penguasa
yang mereka itu tidak berpegang dgn petunjukku dan tidak mengikuti
cara/jalanku. Dan akan ada di antara para penguasa tersebut
orang-orang yg berhati setan dalam bentuk manusia.” Hudzaifah
berkata: “Apa yg kuperbuat bila aku mendapatinya?”
Rasulullah bersabda : “Hendaknya engkau mendengar dan menaati
penguasa tersebut! Walaupun dicambuk punggungmu dan dirampas
hartamu maka dengarkanlah dan taatilah .” ?!Demikian pula
tidakkah mereka renungkan sabda Rasulullah n: “Barangsiapa
ingin menasehati penguasa tentang suatu perkara maka janganlah
secara terang-terangan. Sampaikanlah kepadanya secara pribadi jika
ia menerima nasehat tersebut maka itulah yg diharapkan. Namun jika
tidak menerimanya maka berarti ia telah menunaikan kewajibannya
.” {HR. Ahmad dan Ibnu Abi ‘Ashim dari shahabat
‘Iyadh bin Ghunmin z dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam
Zhilalul Jannah hadits no. 1096}?!Namun sangat disayangkan HT tetap
menunjukkan sikap kepala batunya sebagaimana yg mereka nyatakan:
“Sikap HT dalam menentang para penguasa adl menyampaikan
pendapatnya secara terang-terangan menyerang dan menentang. Tidak
dgn cara nifaq menjilat bermanis muka dgn mereka simpang siur
ataupun berbelok-belok dan tidak pula dgn cara mengutamakan jalan
yg lbh selamat. Hizb juga berjuang secara politik tanpa melihat
lagi hasil yg akan dicapai dan tidak terpengaruh oleh kondisi yg
ada.” Mereka gembar-gemborkan slogan “Jihad yg paling
utama adl mengucapkan kata-kata haq di hadapan penguasa yg
zalim.” Namun sayang sekali mereka tidak bisa memahaminya
dengan baik. Buktinya mereka mencerca para penguasa di
mimbar-mimbar dan tulisan-tulisan. Padahal kandungan kata-kata
tersebut adl menyampaikan nasehat “di hadapan” sang
penguasa bukan di mimbar-mimbar dan lain sebagainya. Tidakkah
mereka mengamalkan wasiat Rasulullah n yg diriwayatkan shahabat
‘Iyadh bin Ghunmin di atas?! Dan jangan terkecoh dengan
ucapan mereka “Meskipun demikian Hizb telah membatasi
aktivitasnya dalam aspek politik tanpa menempuh cara-cara kekerasan
dalam menentang para penguasa maupun orang-orang yg menghalangi
dakwahnya.” . Karena mereka pun akan menempuh cara tersebut
pada tahapannya .3. Pengambilalihan Kekuasaan Tahapan ini merupakan
puncak dan tujuan akhir dari segala aktivitas HT. Dengan tegasnya
Taqiyuddin An-Nabhani menyatakan: “Hanya saja tiap orang
maupun syabab Hizb harus mengetahui bahwasanya Hizb bertujuan utk
mengambil alih kekuasaan secara praktis dari tangan seluruh
kelompok yg berkuasa bukan dari tangan para penguasa yg ada
sekarang saja. Hizb bertujuan utk mengambil kekuasaan yg ada dalam
negara dgn menyerang seluruh bentuk interaksi penguasa dgn umat
kemudian dijadikannya kekuasaan tadi sebagai Daulah
Islamiyyah.” Dalam tahapan ini ada dua cara yg harus
ditempuh:1} Apabila negara itu termasuk kategori Darul Islam di
mana sistem hukum Islam ditegakkan tetapi penguasanya menerapkan
hukum-hukum kufur maka caranya adl melawan penguasa tersebut dgn
mengangkat senjata.2} Apabila negara itu termasuk kategori Darul
Kufur di mana sistem hukum Islam tidak diterapkan maka caranya adl
dgn Thalabun Nushrah kepada mereka yang memiliki kemampuan .
Subhanallah! Lagi-lagi prinsip Khawarij si “Sejahat-jahat
makhluk” dan “Anjing-anjing penduduk neraka” yg
mereka tempuh. Wahai HT ambillah pelajaran dari perkataan Al-Imam
Ibnul Qayyim t berikut ini: “Bahwasanya Nabi n mensyariatkan
kepada umatnya kewajiban mengingkari kemungkaran agar terwujud
melalui pengingkaran tersebut suatu kebaikan yg dicintai Allah k
dan Rasul-Nya. Jika ingkarul mungkar mengakibatkan terjadinya
kemungkaran yg lbh besar darinya dan lbh dibenci oleh Allah k dan
Rasul-Nya maka tidak boleh dilakukan walaupun Allah k membenci
kemungkaran tersebut dan pelakunya. Hal ini seperti pengingkaran
terhadap para raja dan penguasa dgn cara memberontak sungguh yg
demikian itu adl sumber segala kejahatan dan fitnah hingga akhir
masa… Dan barangsiapa merenungkan apa yg terjadi pada Islam
dalam berbagai fitnah yg besar maupun yg kecil niscaya akan melihat
bahwa penyebabnya adl mengabaikan prinsip ini dan tidak sabar atas
kemungkaran sehingga berusaha utk menghilangkannya namun akhirnya
justru muncul kemungkaran yg lebih besar darinya.” Mungkin HT
berdalih bahwa semua penguasa itu kafir krn menerapkan hukum selain
hukum Allah. Kita katakan bahwa tidaklah semua yg berhukum dgn
selain hukum Allah itu kafir. Sebagaimana yg dijelaskan oleh
Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz t: “Barangsiapa berhukum
dengan selain hukum Allah maka tidak keluar dari empat keadaan:1.
Seseorang yg mengatakan: “Aku berhukum dgn hukum ini krn ia
lbh utama dari syariat Islam” maka dia kafir dgn kekafiran yg
besar.2. Seseorang yg mengatakan: “Aku berhukum dgn hukum ini
krn ia sama/sederajat dengan syariat Islam sehingga boleh berhukum
dengannya dan boleh juga berhukum dgn syariat Islam” maka dia
kafir dgn kekafiran yg besar.3. Seseorang yg mengatakan: “Aku
berhukum dgn hukum ini dan berhukum dgn syariat Islam lbh utama
akan tetapi boleh-boleh saja utk berhukum dgn selain hukum
Allah” maka ia kafir dgn kekafiran yg besar.4. Seseorang yg
mengatakan: “ Aku berhukum dgn hukum ini” namun dia
dalam keadaan yakin bahwa berhukum dgn selain hukum Allah tidak
diperbolehkan. Dia juga mengatakan bahwasanya berhukum dgn syariat
Islam lbh utama dan tidak boleh berhukum dgn selainnya tetapi dia
seorang yg bermudah-mudahan atau dia kerjakan karena perintah dari
atasannya maka dia kafir dgn kekafiran yg kecil yg tidak
mengeluarkannya dari keislaman dan teranggap sebagai dosa besar.
{At-Tahdzir Minattasarru’ Fittakfir Muhammad Al-’Uraini
hal. 21-22}Demikian pula kalaulah sang penguasa itu terbukti
melakukan kekufuran maka yg harus ditempuh terlebih dahulu adl
penegakan hujjah dan nasehat kepadanya bukan pemberontakan.Adapun
dalih mereka dgn hadits Auf bin Malik
z:قِيْلَ: يَا
رَسُولَ
اللهُ!
أَفَلاَ
نُنَابِذُهُمْ
بِالسَّيْفِ؟
فَقَالَ:
لا، مَا
أَقَامُوا
فِيْكُمُ
الصَّلاَةَ.Lalu
dikatakan kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah! Bolehkah kami
memerangi mereka dengan pedang ?” Beliau bersabda:
“Jangan selama mereka masih mendirikan shalat di
tengah-tengah kalian!” bahwa “mendirikan shalat di
tengah-tengah kalian” adl kinayah dari menegakkan hukum-
hukum Islam secara keseluruhan sehingga –menurut HT–
walaupun seorang penguasa mendirikan shalat namun dinilai belum
menegakkan hukum-hukum Islam secara keseluruhan maka dianggap kafir
dan boleh utk digulingkan! Ini adl pemahaman sesat dan
menyesatkan.Para pembaca tahukah anda dari mana ta‘wil
semacam itu? Masih ingatkah dgn landasan berpikir mereka? Ya ta`wil
itu tidak lain dari akal mereka semata… Bukan dari bimbingan
para ulama. Wallahul musta’an.Akhir kata demikianlah gambaran
ringkas tentang HT dan selubung sesatnya tentang khilafah. Semoga
menjadi titian jalan utk meraih petunjuk Ilahi. Amin.1 Menolak
sifat-sifat Allah k dgn ta`wil kecuali beberapa sifat saja. 2
Lanjutan riwayat tersebut: “Dan sungguh aku telah melihat
Nabi n mengusap pungggung khufnya.”
http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=287 sumber : file chm
Darus Salaf 2