"Kedudukan As-Sunnah Dalam Syari'at Islam 4/4" ketegori Muslim.

Kedudukan As-Sunnah Dalam Syari'at Islam 4/4

Kategori As-Sunnah

Kamis, 19 Februari 2004 08:11:05 WIB

KEDUDUKAN AS-SUNNAH DALAM SYARIAT ISLAM

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Bagian Terakhir dari Empat Tulisan [4/4]

D. Dalil-Dalil Ijma' Yang Memerintahkan Untuk Mengikuti Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam.

Umat Islam telah sepakat tentang wajib beramal dgn sunnah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yg shahih, bahkan yg demikian termasuk memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya. Kaum muslimin menerima As-Sunnah sebagaimana mereka menerima Al-Qur'an, krn As-Sunnah mrpk sumber tasyri' yg disaksikan Allah. Sebagaimana tersebut dalam firman-Nya.

"Arti : Katakanlah : "Aku tdk mengatakan kpdmu, dan tdk (pula) aku mengetahui yg ghaib dan tdk (pula) aku mengatakan kpdmu bahwa aku seorang malaikat. Aku tdk mengikuti kecuali apa yg diwahyukan kpdku. Katakanlah : "Apakah sama orang yg buta dgn orang yg melihat ?". Maka apakah kamu tdk memikirkan (nya) ?". [Al-An'aam : 50]

Kaum muslimin sejak masa sahabat Rasulullah, tabi'in, tabi'it-tabi'in, dan generasi sesudah sampai hari ini mereka selalu mengembalikan setiap persoalan agama kpd Al-Qur'an dan As-Sunnah, berpegang dgn serta menjaganya.

Diantara dalil-dalil yg menyatakan bahwa para sahabat dan tabi'in berpegang kpd As-Sunnah, yaitu :

[1]. Hadits Riwayat Ahmad 1: 160

"Arti : Tatkala Abu Bakar memegang tampuk khalifah, datang Fatimah binti Muhammad Rasulullah menemui untuk menanyakan bagian ayahnya, kemudian ia (Abu Bakar) berkata kpd : "Sesungguh aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : 'Sesunguh Allah apabila memberi makan seorang Nabi lalu ia wafat, maka ia menjadikan sebagai warisan bagi orang sesudahnya. Karena itulah aku memandang bagian ayahmu (Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam) hrs dikembalikan kpd kaum muslimin'. Kemudian Fatimah berkata : 'Engkau lebih mengetahui dari aku tentang apa-apa yg telah engkau dengar dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam".

"Dalam riwayat lain ia (Abu Bakar) berkata : 'Aku tdk akan meninggalkan sesuatupun yg diamalkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam krn aku khawatir bila aku meninggalkan perintah aku akan sesat".

[2]. Hadits Riwayat Darimy 1 : 72

"Arti : Umar berkata : 'Sesunguh aku mengutus mereka (para qadhi) agar mereka mengajarkan Al-Qur'an dan Sunnah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam kpd ummat agar mereka membagi rampasan perang dgn adil, dan barangsiapa ragu-ragu hendaklah ia datang menemuiku".

[3]. Hadits Riwayat Ahmad 1 : 197-213

"Arti : Umar bin Khaththab berdiri di hadapan Hajar Aswad seraya berkata : 'Sesungguh aku tahu bahwa engkau ialah batu, seandai aku tdk melihat kekasihku (Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam) menciummu atau menyentuhmu, niscaya aku tdk akan menyentuh dan menciummu".

[4]. "Kata Sa'id bin Al-Musayyab : 'Aku berwudhu seperti wudhu Rasulullah dan aku shalat sebagaimana shalat Rasulullah".

[5]. Hadits Riwayat Ahmad 2 : 52

"Arti : Ali berkata tentang berdiri ketika jenazah lewat :'Aku pernah melihat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berdiri, maka kami berdiri, dan beliau duduk, kamipun duduk".

[6]. Hadits Riwayat Ahmad dan Hakim

"Arti : Ada orang berkata kpd Abdullah bin Umar : 'Kami tdk mendpti dalam Al-Qur'an tentang cara shalat safar ?'. Ibnu Umar berkata : 'Sesunguh Allah 'Azza wa Jalla telah mengutus Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam kpd kita yg tadi kita tdk mengetahui sesuatu, krn hendaklah kita beruntuk (beramal) sebagaimana kita melihat Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam peruntuk'. Dalam riwayat lain ia berkata : 'Tadi kita sesat, lalu Allah menunjukkan kita dgn beliau, krn kita wajib mengikuti jejak beliau".

[7]. Hadits Riwayat Ahmad

"Arti : Datang seorang wanita kpd Abdullah bin Mas'ud, ia berkata : 'Aku diberi kabar bahwa engkau melarang wanita menyambung rambut ?' Abdullah bin Mas'ud menjawab : 'Ya'. Si wanita berta : 'Apakah larangan itu ada dalam Kitabullah atau engkau mendengar (langsung) dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.? Abdullah bin Mas'ud menjawab :'Aku dpti (larangan itu) dalam Kitabullah dan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam'. Si wanita berkata lagi :'Demi Allah, aku sudah baca mushaf Al-Qur'an dari awal sampai akhir, tetapi tdk aku dpti larangan itu'. Ibnu Mas'ud berkata :'Bukankah ada di dalam : "Apa-apa yg datang dari Rasulullah, da apa-apa yg dilarang tinggalkanlah". 'Ya' jawab wanita itu. Selanjut Ibnu Mas'ud berkata : 'Sesungguh aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melarang mencabut bulu dahi, mengikir gigi, menyambung rambut dan mencacah kecuali sakit".

[8]. Al-Maruuzy As-Sunnah hal. 14

Mu'awiyah pernah berkhutbah di atas mimbar, sesudah memuji Allah dan menyanjung-Nya, ia berkata : 'Wahai orang-orang Arab, demi Allah seandai kalian tdk melaksanakan Sunnah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, maka selain kalian juga tdk akan melaksanakannya".

[9]. Al-Jami' Bayannil 'Ilmi wa Fadhlihi

Abu Nadhrah meriwayatkan dari sahabat Imran bin Husein, ada seorang datang kpd berta tentang sesuatu, lalu Imran bin Husein menjawab dari Sunnah Nabi, lalu orang yg berta tadi berkata : "Jawablah dari Kitabullah, jangan engkau sampaikan dari selainnya". Imran berkata : "Kamu ini orang bodoh… Apakah kamu dpti dalam Al-Qur'an shalat zhuhur empat rakaat tdk dijaharkan bacaannya, bilangan rakaat-rakaat shalat, ukuran zakat .. Kemudian ia berkata lagi : "Apakah kamu dpti semua itu diterangkan dalam Al-Qur'an ?. Ketahuilah Al-Qur'an yg memerintahkan, dan As-Sunnah yg menafsirkan atau menjelaskannya".

Sebenar masih banyak lagi contoh-contoh tentang berpegang para sahabat dan tabi'in terhadap sunnah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, yg kemudian di ikuti oleh orang-orang sesudahnya. Dari kalangan tabi'in yg bernama Mutharrif bin Abdullah bin Syakhir pernah dita oleh seseorang : "Janganlah engkau sampaikan kpd kami selain Al-Qur'an saja". Mutharrif berkata : "Demi Allah kami tdk menghendaki ganti dari Al-Qur'an, tetapi kami ingin (menyampaikan) penjelasan dari orang yg lebih mengetahui tentang Al-Qur'an daripada kami, yaitu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau yg menjelaskan Al-Qur'an, menerapkan dalam taklimnya, menerangkan maksud dan tujuan firman Allah, serta merinci hukum-hukum dgn sunnah beliau yg suci. Beliau ialah qudwah bagi kaum muslimin (sampai hari kiamat), oleh krn itu berpeganglah kalian dgn As-Sunnah ini sebagaimana kalian berpegang kpd Al-Qur'anul karim, dan jangalah As-Sunnah ini sebagaimana kalian menjaga Al-Qur'an".

[Disalin dari Buku Kedudukan As-Sunnah Dalam Syariat Islam oleh Yazid Abdul Qadir Jawas, hal 47-51 terbitan Pustaka Al-Kautsar]

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=244&bagian=0

Sumber Kedudukan As-Sunnah Dalam Syari'at Islam 4/4 : http://alsofwah.or.id