Hilangnya Departemen Penerangan dari peredaran dan percaturan pemerintahan Republik Indonesia ternyata telah memberi dampak yg sangat signifikan bagi dunia pers. Dampak yg paling nyata dan sangat dini’mati oleh banyak kalangan adl kebebasan. Kebebasan dgn segala definisi dan penafsirannya juga segala keuntungan dan kerugiaannya. Hal mana kebebasan ini sangat sulit didapatkan pada masa pemerintahan sebelumnya. Mengharapkannya pada masa itu ibarat mimpi dan angan-angan. Maka tidaklah heran jika banyak jatuh korban akibat mencari kebebasan yg mereka inginkan. Namun kalau kita mau jujur sebenarnya ada beberapa keuntungan dan kebaikan dalam membatasi kebebasan pers pada masa lalu. Disamping banyak juga kerugian dan keburukannya. Kesalahannya sebenarnya terletak pada pengekangan atas kebebasan dalam hal-hal yg sebenarnya tidak perlu dikekang. Justru jika dikekang akan menimbulkan efek negatif yg merugikan. Sementara kebebasan diberikan kepada hal-hal yg seharusnya tidak diberi kebebasan. Di samping akibat buruk yg ditimbullkannya pihak yg berlawanan yg seharusnya diberi kebebasan akan bangkit memberontak dari ketidakberesan ini.

Sebaliknya sekarang kebebasan pers sudah sangat melampaui batas kewajaran. Banyak kalangan pers yg tidak lagi menjaga kode etiknya. Mereka kebanyakan hanya ingin mengambil haknya tanpa menghiraukan hak orang lain tentu saja dgn dalih kebebasan pers. Hal ini justru merusak citra para tokoh pers yg telah memperjuangkan kebebasan pers itu sendiri. Perjuangan mereka yg ingin memberikan kebebasan kepada pihak yg berhak dan pantas diberi kebebasan itu krn memang tidak semua orang pantas diberi kebebasan yg tidak pantas untuknya. Lihatlah sekarang dunia pers kita. Mayoritas media kita baik cetak maupun elektronik tidak lagi memperhatikan hal-hal yg merupakan esensi dan prinsip serta inti kehidupan masyarakat sebagai manusia.

Keuntungan yg besar sudah menjadi tujuan utama sehingga apa pun cara dan bentuknya asal bisa mendatangkan keuntungan langsung sikat saja. Kejujuran sangat kurang sedangkan fitnah dan gosip lbh banyak. Tentu saja hal itu dgn dalih kebebasan pers. Provokasi kebencian dan kemarahan menjadi bumbu penyedap demi larisnya sebuah media. Hak-hak privasi seseorang juga merupakan hal yg paling banyak dilanggar dan dilangkahi oleh kalangan pers.

Hanya krn merasa sebagai orang pers apakah seseorang merasa boleh-boleh saja melanggar privasi orang lain? Mungkin bisa saja seseorang mengingkari hal ini tapi kenyataan di kehidupan nyata sehari-harilah yg menjadi bukti dan saksi nyata dari semua gambaran itu. Apalagi dampak dan akibat negatif yg banyak ditimbulkan oleh orang-orang rusak dari kalangan pers ini sangat luar biasa baik langsung maupun tidak langsung.

Seseorang bisa belajar kejahatan dari bacaan atau tontonan yg disuguhkan pers. Penyuguhan berita dgn bahasa yg justru memancing keingiinan utk melakukan hal serupa menjadi suatu kesenangan tersendiri bagi orang-orang ini. Intinya jika kalangan pers ingin memperoleh kebebasannya maka tempatkanlah kebebasan itu pada tempatnya. Serta tutup pintu kebebasan bagi hal-hal dan orang-orang yg tidak berhak dan pantas diberi kebebasan.

Jangan menggiring dan membiarkan bangsa ini kebablasan dalam kebebasannya.

Dalam sebuah pepatah Arab dikatakan “kebebasan seseorang itu dibatasi oleh kebebasan orang lain.” Benar sekali seseorang bebas utk berkata apapun yg disukainya tapi telinga orang lain pun punya kebebasan utk bebas dari kata-kata yg tidak disukainya. Adalah bijak jika anda ingin berkata bebas dgn membiarkan telinga orang bebas dari kata-kata yg tidak baik dari lidah anda.

Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia.
Sumber file al_islam.chm