Al Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi LcWajibnya Shaum Ramadhan Berdasarkan Ru’yatul Hilal dan Hukum Menggunakan Ilmu Hisab Dalam Menentukan HilalSudah seharusnya bagi kaum muslimin utk membiasakan diri menghitung bulan Sya’ban dalam rangka mempersiapkan masuknya bulan Ramadhan krn hitungan hari dalam sebulan dari bulan-bulan hijriyyah 29 hari atau 30 hari sesuai dgn hadits-hadits yg shohih di antaranya : Hadits ‘Aisyah radliallahu ‘anha berkata Rasulullah ? :كَانَ رَسُولُ اللهِ ?يَتَحَفَّظُ مِنْ هِلاَلِ شَعْبَانَ مَا لاَ يَتَحَفَّظُ مِنْ غَيْرِهِ ثُمَّ يَصُومُ لِرُؤْيَةِ رَمَضَانَ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْهِ عَدَّ ثَلاَثِيْنَ يَوْمًا ثُمَّ صَامَ.Artinya:“Bahwasanya Rasulullah ? bersungguh-sungguh menghitung bulan Sya’ban dalam rangka persiapan Shaum Ramadhan melebihi kesungguhannya dari selain Sya’ban. Kemudian beliau shaum setelah melihat hilal Ramadhan. Jika hilal Ramadhan terhalangi oleh mendung maka beliau menyempurnakan hitungan Sya’ban menjadi 30 hari kemudiaan shaum.” {H.R. Abu Dawud dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud hadits no. 2325}.Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memerintahkan ummatnya utk memulai shaum Ramadhan dengan berdasarkan ru’yatul hilal dan bila terhalangi oleh mendung atau yg semisalnya maka dengan melengkapkan bilangan Sya’ban menjadi 30 hari. Hal ini sesuai dgn hadits Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berkata :صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلاَثِينَArtinya: “Bershaumlah berdasarkan ru’yatul hilal dan berharirayalah berdasarkan ru’yatul hilal.

Jika terhalangi oleh mendung maka genapkanlah bilangannya menjadi 30 hari.” (HR. Al-Bukhari)Adapun sabda Rasulullah ? dari jalan Ibnu ‘Umar :لاَ تَصُومُوا حَتَّى تَرَوا الْهِلاَلَ وَلاَ تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوهُ فَإِنْ أُغْمِيَ عَلَيْكُمْ فَاقْدِرُوا لَهُ (متفق عليه)Artinya: “Janganlah kalian bershaum kecuali setelah melihat hilal dan jangan pula berhari raya kecuali setelah melihat hilal . Jika terhalangi ‘perkirakanlah’ ” (Muttafaq ‘alaihi)maka lafadh yg secara lughowy artinya ‘perkirakanlah’. Hal ini sebagaimana telah ditafsirkan oleh riwayat sebelumnya dgn lafadh atau yg artinya: “Maka lengkapilah bilangannya menjadi 30 hari” atau “lengkapi bilangan Sya’ban menjadi 30 hari”.Dan bukanlah makna adl “persingkat ” atau penafsiran lainnya. Sebab sebaik-baik tafsir terhadap suatu hadits adl hadits yg lain.

Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hajar : Artinya: “sebaik-baik penafsiran hadits adl dgn hadits yg lain.”Dan demikianlah pendapat jumhur ‘ulama. Sebagaimana dikatakan oleh Al Maaziri: “Jumhur ulama mengartikan makna adl dgn melengkapi hitungan menjadi 30 hari berdasarkan hadits yg lainnya. Mereka menyatakan : ‘Dan tidak diartikan dgn perhitungan ahli hisab krn jika manusia dibebani utk itu justru mempersulit mereka disebabkan ilmu tersebut tidak diketahui kecuali oleh orang-orang tertentu. Sedangkan syari’at mengajarkan kepada manusia sesuai dgn yg dipahami oleh kebanyakan mereka.”Sedangkan ilmu hisab tidak boleh dan tidak bisa dijadikan sebagai sandaran untuk menentukan masuk atau keluarnya bulan Ramadhan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyatakan: “Tidak diragukan lagi ketetapan tentang dilarangnya bersandar kepada ilmu hisab dalam As Sunnah dan pandangan para shahabat. Orang yg bersandar kepadanya dia adl orang yg sesat dan orang yg berbuat bid’ah dalam agama ini juga telah melakukan kesalahan baik dari segi nalar pikiran maupun dari segi ilmu perbintangan itu sendiri. Sesungguhnya ahli ilmu perbintangan telah mengetahui bahwa ru’yah tidak bisa ditetapkan dgn hisab falaki krn adanya pengaruh perbedaan tinggi rendahnya tempat dan lain-lainnya.” (Taudiihul Ahkaam jilid 3 hal. 132 hadits no. 541)Seluruh anggota Haiah Kibarul ‘Ulama telah bersepakat tidak bolehnya bersandar kepada ilmu falaki dalam menentukan awal bulan. (Taudiihul Ahkaam jilid 3 hal. 132 hadits no. 541)Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin memberikan pernyataan yg senada dgn fatwa di atas beliau menyatakan: “Shaum tidak menjadi wajib dgn keberadaan hisab falaki krn syariat Islam mengaitkan hukum Shiyam dgn perkara yg bisa dicapai oleh indera manusia yaitu ru’yatul hilal.” (Asy-Syarhul Mumti’ jilid 6 hal 314.)Maka orang yg bersandar kepada hisab falaki adl orang yg telah menyelisihi Al Haq dan Syariat Islamiyyah. Hal ini dilihat dari beberapa segi:1. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al Quran?فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ..? (البقرة : 185)Artinya: “Karena itu barang siapa yg menyaksikan syahru Ramadhan maka bershaum lah.” (Al Baqoroh : 185).Dalam ayat ini Allah mengaitkan shiyam dgn ru’yah dan persaksian hilal.2. Hadits-hadits shahih yg menjelaskan tentang ru’yah seperi hadits Abi Hurairah:صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَ أَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلاَثِيْنَArtinya: “Bershaumlah berdasarkan ru’yatul hilal dan berharirayalah berdasarlan ru’yatul hilal. Jika terhalangi oleh mendung maka genapkanlah 30 hari.” (HR Al-Bukhari)Kemudian jika kesulitan dalam melakukan ru’yah krn awan atau yg semisalnya maka dengan cara menyempurnakan bilangan Sya’ban menjadi 30 hari dan tanpa harus menyelisihi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dgn menggunakan hisab falaki.3. Ijma’ para Shahabat Tabi’in dan para imam setelah mereka.4. Pernyataan dari para ahli ilmu perbintangan bahwa ru’yah tidak bisa ditetapkan dgn hisab falaki krn perbedaan ketinggian tempat perhitungan dan lain-lainnya.5. Kenyataan terjadinya perbedaan di kalangan ahli hisab dalam menentukan hilal. Al Hafidh Ibnu Hajar berkata :“Maka Pembuat Syariat telah menentukan hukum shiyam dan yg lainnya dgn ru’yah hal ini dalam rangka utk menghilangkan kesulitan dalam menghitung peredaran bintang. Dan hukum ini tetap berlaku dalam shiyam walaupun bermunculan setelah itu orang-orang yg menguasai ilmu perbintangan. Bahkan konteks hadits secara gamblang meniadakan kaitan hukum shiyam dengan hisab falaki. Hal ini dijelaskan dalam hadits yg telah lalu:فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلاَثِيْنَArtinya : “Jika hilal terhalangi atas kalian maka lengkapilah bilangan Sya’ban menjadi 30 hari”.Dan beliau Shalallhu ‘alahi Wasallam tidak mengatakan:“….bertanyalah kepada ahli perbintangan “.Hikmah dari hal ini bahwa hitungan bulan Sya’ban ketika terhalangi mendung atau yg semisalnya adl sama utk seluruh kaum muslimin. Sehingga dgn ketetapan ini hilanglah pertentangan di antara mereka. Di antara kelompok-kelompok yg berpegang dgn perhitungan hisab falaki adl Syiah Rafidhoh dan sebagian kecil ahli fikih yg sependapat dengan mereka.Al Baaji menerangkan bahwa Ijma’ para Shahabat dan Salafush Sholih merupakan bantahan atas mereka.Ibnu Baziizah menyatakan: ‘pendapat itu adl pendapat yg batil. Sedangkan syariah telah melarang dari mendalami ilmu bintang sebab ilmu ini hanyalah persangkaan belaka saja dan tidak ada padanya kepastian bahkan tidak pula dugaan yg mendekati kebenaran.’Jika demikian halnya maka mengaitkan hukum shiyam dgn hisab falaki akan memberatkan krn tidak ada yg mengetahuinya kecuali sedikit.” (Fathul Baari Kitabus Shiyam Bab 13 hadits no. 1913).Rubrik Tanya JawabSoal :Fenomena yg tak bisa dipungkiri bahwa kita selalu berselisih di saat ingin menentukan tanggal 1 Ramadhan atau 1 Syawal. Bagaimanakah sikap kita terutama ketika Pemerintah telah memberikan suatu keputusan dalam hal ini dgn Ru’yatul Hilal ?Jawab :Para Ulama berselisih pendapat ketika hilal terlihat di suatu negeri apakah ru’yah tersebut berlaku bagi seluruh kaum muslimin di seluruh penjuru dunia atau masing-masing negeri memiliki ru’yah sendiri.Pendapat Pertama Jumhur ulama di antara mereka Al-Imam Abu Hanifah dan Al-Imam Ahmad berpendapat bahwa ru’yah di suatu negeri berlaku utk seluruh kaum muslimin di negeri-negeri yang lain.Pendapat kedua Al-Imam Asy-Syaafi’i dan sejumlah ulama salaf berpendapat diperhitungkannya perbedaan mathla’.Setelah kita mengetahui perbedaan pendapat diantara para ulama dalam masalah penentuan awal bulan perlu diketahui pula sebuah nasehat yg penting dari Asy-Syaikh Al-Albani dalam kitabnya Tamamul Minnah utk kaum muslimin di seluruh negara Islam dan seharusnya kaum muslimin memperhatikannya dan mengamalkannya. Beliau berkata: “…Dan perkara ini adl hal yg mudah utk dicapai pada masa sekarang ini dan sudah dimaklumi namun menuntut perhatian dari negara-negara Islam sehingga bisa terwujud dikemudian hari –Insya Allah ta’ala- bersatunya negara-negara Islam. Maka saya berpendapat bahwa tiap kaum muslimin menjalankan shiyam Ramadhan bersama pemerintahnya masing-masing dan tidak mengikuti pendapatnya sendiri- sendiri sehingga ada yg menjalankan shaum bersama permerintah dan yg lain tidak baik mendahului atau membelakangi krn hal ini akan memperluas perpecahan sebagaimana telah terjadi di beberapa negara Arab sejak beberapa tahun yg lalu. وَاللهُ الْمُسْتَعَان” (Tamamul Minnah hal. 298)Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin menyebutkan pernyataan yg sama dgn pernyataan Asy-Syaikh Al-Albani di atas dalam kitab beliau Asy-Syarhul Mumti’ ketika menyebutkan pendapat yg ketiga: “Bahwa tiap warga negara hendaknya mengikuti pemerintahnya masing-masing jika pemerintahnya menjalankan ash-shaum maka mereka juga menjalankannya jika pemerintahnya berhari raya hendaklah rakyatnya berhari raya pula bersamanya. Seandainya ada khilaafah yg membawahi seluruh kaum muslimin di seluruh penjuru dunia kemudian ada yang melihat hilal di negerinya dan khalifah menetapkannya maka wajib tiap kaum muslimin di seluruh penjuru dunia utk bershaum atau berhari raya {sesuai dgn ketetapan khalifah/pemerintahnya – pen}. Hendaklah kaum muslimin mengamalkan yg demikian ini yaitu bila pemerintah menetapkan ru’yah maka seluruh kaum muslimin yg dibawah kekuasaannya mengikuti baik dalam bershaum maupun berhari raya. Dan pendapat ini merupakan pendapat yang kuat jika dipandang dari sisi keutuhan kemasyarakatan . Kalaupun kita membenarkan pendapat kedua yg berdasarkan pada perbedaan mathla’ tetap wajib utk tidak menampakkan adanya perbedaan dgn mayoritas kaum muslimin.” (Asy-Syarhul Mumti’ jilid 6 hal. 322.)Sumber : www.assalafy.org
sumber : file chm Darus Salaf 2