JILBAB YANG SESUAI DENGAN SYARIAT

penulis Dinukilkan dari kitab Nashihati Lin Nisa karya
Ummu Abdillah Al-Wadi‘iyyah hafid
Sakinah Muslimah Berta 29 - Juni - 2003 15:08:32

Ustadzah saya mempunyai pertanyaan dan mohon utk dijawab:
Bagaimana jilbab yg sesuai dgn syariat? Mohon penjelasan jazakillah
khairan.

Halimah
asy-syauqiyyah@plasa.com

Jawab :
Jilbab yg sesuai dgn syariah apabila memenuhi syarat-syarat sebagai
berikut :

Menutupi seluruh badan

Tidak diberi hiasan-hiasan hingga mengundang pria utk
melihatnya

Allah  berfirman :
“Katakanlah kepada wanita-wanita yg beriman:
hendaklah mereka menundukkan pandangan mata dan menjaga kemaluan
mereka dan jangan menampakkan perhiasan mereka kecuali apa yg biasa
nampak darinya. Hendaklah mereka meletakkan dan menjulurkan
kerudung di atas kerah baju mereka

Tebal tdk tipis
Rasulullah  bersabda :
“Akan ada nanti di kalangan akhir umatku para
wanita yg berpakaian tapi hakikat mereka tak mengenakan busana
Kemudian beliau bersabda ;

“laknatlah mereka krn sesungguh mereka itu
terlaknatâ€.
Kata Ibnu Abdil Baar t: “Yang dimaksud Nabi
 dlm sabda adl para wanita yg mengenakan pakaian dari bahan
yg tipis yg menerawangkan bentuk badan dan tdk menutupi mk wanita
seperti ini istilah saja mereka berpakaian tapi hakikat mereka tak
mengenakan busanaâ€.

Lebar tdk sempit
Usamah bin Zaid c berkata: Rasulullah  memakaikan aku
pakaian Qibthiyah yg tebal yg dihadiahkan oleh Dihyah Al Kalbi
kepada beliau mk aku memakaikan pakaian itu kepada istriku. Suatu
ketika beliau  bertanya: “Mengapa engkau
tdk memakai pakaian Qibthiyah itu?†Aku menjawab:
“Aku berikan kepada istrikuâ€.
Beliau berkata : “Perintahkan istrimu agar ia
memakai kain penutup setelah memakai pakaian tersebut krn aku
khawatir pakaian itu akan menggambarkan bentuk
tubuhnyaâ€.

Tidak diberi wangi-wangian
Karena Rasulullah  bersabda :
“Wanita mana saja yg memakai wangi-wangian lalu
ia melewati sekelompok orang agar mereka mencium wangi mk wanita
itu pezina.â€

Tidak menyerupai pakaian laki-laki
Abu Hurairah z mengatakan: “Rasulullah 
melaknat laki2 yg memakai pakaian wanita dan wanita yg memakai
pakaian laki-lakiâ€.

Tidak menyerupai pakaian wanita kafir
Karena Rasulullah  dlm banyak sabda memerintahkan kita utk
menyelisihi orang2 kafir dan tdk menyerupai mereka baik dlm hal
ibadah hari raya/perayaan ataupun pakaian khas mereka.

Bukan merupakan pakaian utk ketenaran yakni
pakaian yg dikenakan dgn tujuan agar terkenal di kalangan manusia
sama saja apakah pakaian itu mahal/ mewah dgn maksud utk
menyombongkan diri di dunia atau pakaian yg jelek yg dikenakan dgn
maksud utk menampakkan kezuhudan dan riya.

Berkata Ibnul Atsir: Pakaian yg dikenakan itu masyhur di kalangan
manusia krn warna berbeda dgn warna-warna pakaian mereka hingga
manusia mengangkat pandangan ke arah jadilah orang tadi merasa
bangga diri dan sombong. Rasulullah  bersabda:
“Siapa yg memakai pakaian utk ketenaran di dunia
mk Allah akan memakaikan pakaian kehinaan pada hari kiamat kemudian
dinyalakan api padanyaâ€.

Demikian kami nukilkan jawaban utk saudari dari kitab
Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah
yg ditulis oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani t. Adapun
pertanyaan-pertanyaan saudari yg lain Insya Allah akan kami jawab
dlm rubrik Mutiara Kata pada edisi-edisi
mendatang. Wallahu a’lam. 

Melihat laki2 dari Balik Kerudung

Bolehkah seorang wanita melihat sekumpulan laki2 dari balik
kerudungnya? Mohon jawaban jazakumullah khairan.

Akhwat di Kroya
Jawab:
Allah  berfirman :
“Katakanlah kepada kaum mukminin hendaklah
mereka menundukkan pandangan-pandangan mereka dan menjaga kemaluan
mereka yg demikian itu lbh suci bagi mereka. Sesungguh Allah Maha
Mengabarkan terhadap apa yg mereka perbuatâ€

Rasulullah  bersabda :
“maka zina mata itu adl dgn
memandangâ€.

Ulama sepakat sebagaimana dinukilkan Imam Nawawi t dlm
Syarah Muslim bahwasa memandang laki2 dgn syhwt
(**) haram hukumnya.
Sebagian ulama membolehkan utk memandang laki2 secara mutlak.
Mereka berdalil dgn kisah Aisyah x yg melihat orang2 Habasyah yg
sedang bermain tombak di masjid sampai ia bosan dan berlalu.

Imam Nawawi t menjawab dalil mereka ini bahwasa peristiwa itu
mungkin terjadi ketika Aisyah belum baligh.

Namun Al Hafidz Ibnu Hajar t membantah dgn mengatakan ucapan Aisyah
bahwa Nabi  menutupi dgn selendang beliau menunjukkan
peristiwa ini terjadi setelah turun perintah hijab.

Imam Nawawi t memberi kemungkinan yg lain beliau mengatakan:
Dimungkinkan Aisyah hanya memandang kepada permainan tombak mereka
bukan memandang wajah-wajah dan tubuh-tubuh mereka. Dan bila
pandangan jatuh ke wajah dan tubuh mereka tanpa sengaja bisa segera
dipalingkan ke arah lain saat itu juga.

Dengan demikian hendaklah seorang wanita memiliki rasa malu dan
jangan membiarkan pandangan mata jatuh kepada sesuatu yg tdk
diperkenankan bagi termasuk memandang laki2 yg bukan mahramnya.

Wallahu ta‘ala a‘lam
bishawwab.

Demikian jawaban ini dinukilkan dari kitab Nashihati Lin
Nisa
karya Ummu Abdillah Al-Wadi‘iyyah
hafidzahallah putri Syaikh Muqbil bin Hadi
Al-Wadi‘i t.

Sumber: www.asysyariah.com