"Hubungan Bid'ah Dan Maslahat Mursalah" ketegori Muslim.

Hubungan Bid'ah Dan Maslahat Mursalah

Kategori Bid'ah

Selasa, 1 Maret 2005 18:49:31 WIB

HUBUNGAN BID’AH DAN MASLAHAT MURSALAH

Oleh
Muhammad bin Husain Al-Jizani

A. Kesamaan Antara Bid’ah Dan Mashlahat Mursalah

[1]. Kedua-dua (baik bid’ah ataupun maslahat mursalah) mrpk bagian dari hal-hal yg belum pernah terjadi pada masa nabi —œapalagi maslahat mursalah-. Kejadian seperti ini umum berupa bid’ah-bid’ah —œdan ini sangat sedikit- pada zaman Nabi, seperti dalam kisah tiga orang yg berta tentang ibadah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

[2]. Sesungguh masing-masing bid’ah —œbiasanya- dan maslahat mursalah kedua luput dari dalil yg spesifik, krn dalil-dalil umum yg muthlaq-lah yg paling mungkin untuk dijadikan sebagai dalil kedua hal itu.

B. Sisi Perbedaan Antara Bid’ah Dengan Mashlahat Mursalah

[1]. Bid’ah mempunyai cirri khusus yaitu bahwa bid’ah tdk terjadi, kecuali dalam hal-hal yg sifat ibadah (ta’abbudiyyah) dan hal-hal yg digolongkan ibadah dalam masalah agama. Berbeda dgn mashlahat mursalah, krn mashlahat mursalah ialah hal-hal yg dipahami makan (tujuannya) secara akal, dan seandai disodorkan pada akal tentu akal akan menerimanya, ia juga sama sekali tdk ada hubungan dgn ta’abbud (masalah yg sifat ibadah) atau dgn hal-hal yg sejalan dgn ta’abud dalam syariat.

[2]. Bid’ah mempunyai cirri khusus yaitu mrpk sesuatu yg dimaksud sejak awal oleh pelakunya. Mereka —œbiasanya- taqarrub kpd Allah dgn mengamalkan bid’ah itu dan mereka tdk berpaling darinya. Sangat jauh kemungkinan —œbagi ahli bid’ah- untuk menghilangkan amalannya, krn mereka menganggap bid’ah itu menang di atas segala yg menentangnya. Sedangkan mashlahat musrshalah mrpk maksud yg kedua bukan yg pertama dan masuk dalam cakupan sarana pendukung (wasa’il), krn sebenar mashlahat murshalah ini disyariatkan sebagai sarana pendukung dalam merealisasikan tujuan syariat-syariat yg ada. Sebagai bukti hal itu, mashlahat murshalah bisa gugur bila berhadapan dgn mafsadah (kerusakan) yg lebih besar. Maka sangat tdk mungkin untuk mendatangkan bid’ah melalui jalur mashlahat mursalah.

[3]. Bid’ah juga mempunyai ciri khusus yaitu bahwa keberadaan membawa hal yg memberatkan mukallafun (orang-orang yg dibebani untuk melaksanakan syariat) dan menambah kesusahan mereka. Sedangkan mashlahat murshalah sesungguh mendatangkan kemudahan dan menghilangkan kesulitan mukallafun atau membantu dalam menjaga hal-hal yg sangat penting bagi mereka.

[4]. Bid’ah juga mempunyai kekhususan bahwa keberadaan bertentangan dgn maqashidusysyarii’ah dan meruntuhkannya. Berbeda dgn mashlahat murshalah yg —œagar diakui keberadaan secara syariat- hrs masuk di dalam maqashidusysyariah dan membantu pelaksanaannya. Jika tdk , maka ia tdk diakui.

[5]. Mashlahat murshalah juga memiliki ciri khusus, yaitu tdk pernah ada pada masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dikrnkan tdk ada faktor pendorong utnuk melakukan atau sekalipun faktor itu ada, tapi ada hal yg menghalanginya. Sedangkan bid’ah yg tdk ada pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebenar memiliki faktor pendorong dan tuntunan yg banyak, dan tdk ada yg menghalanginya. (Ini berarti bid’ah itu tdk benar, -pent).

Jadi mashlahat murshalah itu jika dipengaruhi syaratnya, maka sangat bertentangan dan bersebarangan dgn bid’ah, sehingga tdk mungkin bid’ah bisa masuk melalui jalan mashlahat murshalah, krn jika hal ini terjadi gugurlah keabasahan maslahat tersebut dan tdk dinamakan mashlahat mursalah, tapi dinamakan mashlahat mulghah (yg dibatalkan) atau mafsadah (yg dirusak).

[Disalin dari kitab Qawaa’id Ma’rifat Al-Bida’, Penyusun Muhammad bin Husain Al-Jizani, edisi Indonesia Kaidah Memahami Bid’ah, Pustaka Azzam]

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1362&bagian=0

Sumber Hubungan Bid'ah Dan Maslahat Mursalah : http://alsofwah.or.id