"Hubungan Antara Bid'ah Dengan Maksiat 2/2" ketegori Muslim.

Hubungan Antara Bid'ah Dengan Maksiat 2/2

Kategori Bid'ah

Rabu, 1 Desember 2004 06:47:11 WIB

HUBUNGAN ANTARA BID’AH DENGAN MAKSIAT

Oleh
Muhammad bin Husain Al-Jizani
Bagian Terakhir dari Dua Tulisan 2/2

B. Sisi Perbedaan Antara Bid’ah Dengan Maksiat

[1]. Dasar larangan maksiat biasa dalil-dalil yg khusus, baik teks wahyu (Al-Qur’an , As-Sunnah) atau ijma’ atau qiyas. Berbeda dgn bid’ah, bahwa dasar larangan —œbiasa dalil-dalil yg umum dan maqaashidusysyarii’ah serta cakupan sabda Rasulullah ‘Kullu bid’atin dhalaalah’ (setiap bida’ah itu sesat).

[2]. Bid’ah itu menyamai hal-hal yg disyari’atkan, krn bid’ah itu disandarkan dan dinisbatkan kpd agama. Berbeda dgn maksiat, ia bertentangan dgn hal yg disyariatkan, krn maksiat itu berada di luar agama, serta tdk dinisbatkan padanya, kecuali jika maksiat ini dilakukan dgn tujuan mendekatkan diri kpd Allah, maka terkumpullah dalam maksiat semacam ini, maksiat dan bid’ah dalam waktu yg sama.

[3]. Bid’ah mrpk pelanggaran yg sangat besar dari sisi melampaui batasan-batasan hukum Allah dalam memuntuk syariat, krn sangatlah jelas bahwa hal ini menyalahi dalam meyakini kesempurnaan syari’at. Menuduh bahwa syari’at ini masih kurang dan membutuhkan tambahan serta belum sempurna. Sedangkan maksiat, pada tdk ada keyakinan bahwa syari’at itu belum sempurna, bahkan pelaku maksiat meyakini dan mengakui bahwa ia melanggar dan menyalahi syariat.

[4]. Maksiat mrpk pelanggaran yg sangat besar ditinjau dai sisi melanggar batas-batas hukum Allah, krn pada dasar dalam jiwa pelaku maksiat tdk ada penghormatan terhadap Allah, terbukti dgn tdk tunduk dia pada syari’at agamanya. Sebagaimana dikatakan, “Janganlah engkau melihat kecil kesalahan, tapi lihatlah siapa yg engkau bangkang” [1].

Berbeda dgn bid’ah, sesungguh pelaku bid’ah memandang bahwa dia memuliakan Allah, mengagungkan syari’at dan agamanya. Ia meyakini bahwa ia dekat dgn tuhan dan melaksanakan perintahNya. Oleh sebab itu, ulama Salaf masih menerima riwayat ahli bid’ah, dgn syarat ia tdk mengajak orang lain untuk melakukan bid’ah tersebut dan tdk menghalalkan berbohong. Sedangkan pelaku maksiat ialah fasiq, gugur keadilannya, ditolak riwayat dgn kesepakatan ulama.

[5]. Maka sesungguh pelaku maksiat terkadang ingin taubat dan kembali, berbeda dgn ahli bid’ah, sesungguh dia meyakini bahwa amala itu ialah qurbah (ibadah yg mendekatkan kpd Allah, -pent), terutama ahli bid’ah kubra (pelaku bid’ah besar), sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Arti : Maka apakah orang yg dijadikan (syaithan) menganggap baik pekerjaan yg buruk lalu dia meyakini pekerjaan itu baik…” [Faathir : 8]

Sufyan At-Tsauri berkata : “Bid’ah itu lebih disukai Iblis daripada maksiat, krn maksiat bisa ditaubati dan bid’ah tdk (idharapkan) taubat darinya.

Dalam satu riwayat diceritakan bahwa Iblis berkata, “Saya mencelakakan Bani Adam dgn dosa dan mereka membinasakanku dgn istighfar dan Laailaha illalah.

Tatkala saya melihat itu, maka saya menebar hwa nfsu (**) di antara mereka. Maka mereka beruntuk dosa dan tdk bertaubat, krn mereka beranggapan bahwa mereka beruntuk baik. [2].

[6]. Jenis bid’ah besar dari maksiat, krn fitnah ahli bid’ah (mubtadi) terfdpt dalam dasar agama, sedangkan fitnah pelaku dosa terdpt dalam syhwt (**) . [3]. Dan ini bisa dijadikan sebuah kaidah bahwa jika salah satu dari bid’ah atau maksiat itu tdk dibarengi qarinah-qarinah (bukti atau tanda) dan keadaan yg bisa memindahkan hal itu dari kedudukan asalnya.

Diantara contoh bukti-bukti dan keadaan tersebut ialah : Pelanggaran —œbaik maksiat atau bid’ah- bisa membesar jika diiringi praktek terus menerus, meremehkannya, terang-terangan, menghalkan atau mengajak orang lain untuk melakukannya. Ia juga bisa mengecil bahaya jika dibarengi dgn pelaksanaan yg sembunyi-sembunyi, terselubung tdk terus menerus, menyesal (setelahnya, -pen) dan berusaha untuk taubat.

Contoh lain : Pelanggaran itu dgn sendiri bisa membesar dgn besar kerusakan yg ditimbulkan. Jika bahaya kembali kpd dasar-dasar pokok agama, maka hal ini lebih besar daripada penyimpangan yg bahaya ha kembali kpd hal-hal parsial dalam agama. Begitu pula pelanggaran yg bahaya berhubungan dgn agama lebih besar daripada pelanggaran yg bahaya berhubungan dengna jiwa.

Jadi sebenar untuk mengkomparasikan antara bid’ah dgn maksiat kita hrs memperhatikan situasi dan kondisi, maslahat dan bahayanya, serta akibat yg dtimbulkan sesudahnya, krn memperingatkan bahaya bid’ah atau berlebih-lebihan dalam menilai keberadaan tdk seyogya menimbulkan —œsekarang atau sesudahnya- sikap meremehkan dan menganggap enteng keberadaan maksiat itu sendiri, sebagaimana ketika kita memperingatkan bahawa maksiat atau berlebih-lebihan dalam menilai keberadaannya, tdk seyogya mengakibatkan —œsekarang atau sesudahnya-sikap meremehkan dan menganggap enteng keberadaan bid’ah itu sendiri.

[Disalin dari kitab Qawaa’id Ma’rifat Al-Bida’, Penyusun Muhammad bin Husain Al-Jizani, edisi Indonesia Kaidah Memahami Bid’ah, Pustaka Azzam]
_________
Foote Note
[1]. Lihat Ajwaabul Kaafi : 58, 149-150, Al-I’tisham 2/62
[2]. Lihat kedua rujukan diatas yg sama
[3]. Lihat Al-Jawwabul Kaafi : 58, dan Majmu Fatawa 20/103.

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1203&bagian=0

Sumber Hubungan Antara Bid'ah Dengan Maksiat 2/2 : http://alsofwah.or.id