"Hizbiyyah Bukan Hizbullah" ketegori Muslim.

Hizbiyyah Bukan Hizbullah

Kategori Bahaya Hizbiyyah

Selasa, 27 Januari 2004 07:16:20 WIB

HIZBIYYAH BUKAN HIZBULLAH

DEFINISI HIZBIYYAH
Al-Hizbu secara bahasa ialah kelompok atau kumpulan manusia. (Al-Qomus Al-Muhith, Fairuz Abadi hal. 94). Dia berkata dalam Bashoir Dzawi Tamyiz 2/457: “Bashirotun fi Hizbi ialah kumpulan yg di dalam ada permusuhan”.Dan dikatakan bahwa Al-Hizbu ialah kelompok-kelompok yg berkumpul untuk memerangi para Nabi.

Dan firman Allah Ta’ala:

"Arti : Maka sesungguh pengikut (agama) Allah itulah yg pasti menang". [Al-Maidah:56]

Sedangkan firman Allah Ta’ala:

"Arti : Dan orang-orang yg beriman itu berkata: “Hai kaumku, sesungguh aku khawatir kamu akan ditimpa (bencana) seperti peristiwa kehancuran golongan yg bersekutu"[Al-Mukmin :30]

Al-Ahzab disini ialah kaum Nuh, ‘Ad, Tsamud dan orang-orang yg dihancurkan Allah setelah mereka [1]. Berkata Syaikh Ustadz Shofiyur Rohman Mubarokfuri : “Al-Hizbu secara bahasa ialah sekelompok manusia yg berkumpul krn kesamaan sifat, keuntungan atauikatan keyakinan dan iman. Karena kukufuran, kefasikan dan kemaksiatan. Terikatoleh daerah, tanah air, suku bangsa, bahasa, nasab, profesi atau perkara-perkara yg semisalnya, yg biasa menyebabkan manusia berkumpul atau berkelompok”.[2]

Sedangkan dalam Al-Qur’an, lafadz hizbi mengandung beberapa makna:

[1]. Bermakna kumpulan orang yg masing-masing berbeda mahzab, ajaran dan alirannya.

"Arti : Tiap-tiap golongan merasa bangga dgn apa yg ada pada golongan mereka". [Ar-Ruum : 32]

[2]. Bermakna laskar syaitan:

"Arti : Mereka itulah ialah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa sesungguh golongansyaitan itulah golongan yg merugi" [Al-Mujadilah : 19]

[3]. Bermakna tentara Ar-Rohman:

"Arti : Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguh hizbullah itu ialah golongan yg beruntung" [Al-Mujadilah : 22]

Tidak samar lagi bagi siapapun yg memiliki pengetahuan bahwa masing-masing hizbi memiliki dasar-dasar dan pemikiran atau aturan-aturan yg menjadi undang-undang bagi hizbi tersebut, sekalipun mereka tdk menamai demikian.

Dan undang-undang ini sama dgn azas yg menjadi sumber bagi aturan-aturan hizbi (kelompok) tersebut, dan dibangun diatasnya. Maka siapa saja yg mau mengakui dan menjadikan sebagai dasar dalam beraktivitas, tergabunglah dia di dalam hizbi tersebut. Dia menjadi salah satu dari anggota-anggotanya,bahkan menjadi tokoh dari sekian tokoh-tokohnya. Sedang siapa saja yg tdk setuju, berarti bukan kelompok mereka. Jadi, undang-undang inilah yg menjadi dasar dalam wala’ (kasih sayg), bara’(membenci/bermusuhan), dalam bersatu dan berpecah, memuji dan menghina…[3]

Dari sini kita pahami bahwa di dunia ini ha ada dua hizbi (kelompok) :
Hizbullah dan Hizbu Syaithan ; orang-orang yg beruntung dan orang-orang yg merugi ; Muslimin dan Kafirin,….Maka barangsiapa yg memasukkan kelompok-kelompok yg bermacam-macam di dalam Hizbullah ini, berarti dia telah berandil besar dalam memecah belah Hizbullah ini, memecah kalimat mereka yg satu.

FENOMENA HIZBIYYAH
Merupakan kewajiban setiap muslim untuk mencabut system hizbiyyah yg sempit dan dibenci, yg melemahkan Hizbullah. Dan tdk perlu memberikan secuil cinta pun terhadapnya, agar agama ini seluruh ha untuk Allah.
Adapun sekedar lari dari lafadz hizbi kpd nama-nama lain yg dirasa pantas dan lebih enak didengar ialah menjerumuskan diri ke dalam kebodohan. Sebab lafadz hizbi pada hakekat —œbaik secara bahasa ataupun secara syar’i- tdklah tercela. Namun pada prakteknya, di balik lafadz ini hanyalah perselisihan, ikatan-ikatan yg tdk jelas, perpecahan dan sebagainya. Oleh krn itu merubah nama dgn hakekat yg semacam itu ialah peruntukan yg tdk pantas serta menipu orang lain dan diri sendiri. Karena nama tdk dpt merubah hakekat.

Seseorang yg berwajah buruk tdk bisa menjadi bagus dan tampan ha dgn kita beri nama Jamil, Hasan, atau Mas Bagus. Ini suatu misal. Demikian juga hizbiyyah (kelompok-kelompok) yg penuh dgn penyimpangan dari jalan agama yg lurus ini, baik dalam masalah i’tiqod, manhaj, mu’amalah dan lain-lain. Atau mengkonsumsi hasil pikiran sesat dari orang-orang yg kurang puas terhadap Sunnah Rosul dan manhaj salafi, menjadikan adat-istiadat —œyg jelas-jelas mengotori agama ini- sebagai dasar gerakannya, juga tdk memiliki nyali untuk ingkarul mungkar krn takut miskin dan celaan manusia, menjadikan kebodohan dan prasangka sebagai dalil dalam dakwah dan sejenisnya, sekalipun diberi label atau nama : “Jama’atul Muslimin”, “JamaahTabligh”, “Islam Jamaah”, “Darul Hadist”, “Ikhwanul Muslimin”, “Darul Islam”, “Harokah Sunniyah”, “Salamullah” atau nama-nama antik dan indah lainnya, tdk akan secuilpun merubah hakekat sebenarnya. PerhatikanHadistberikut:

Dari Jabir bin Abdullah dia berkata : Kami berperang bersama Nabi dan sekelompok kaum Muhajirin berkumpul bersama beliau. Di antara kaum Muhajirin ada seorang yg suka bercanda sehingga memukul pantat orang Anshor. Maka sangat marahlah sahabat Anshor tersebut. Sehingga masing-masing kubu saling berseru. Orang Anshor tersebut berkata: “Wahai orang-orang Anshor,….”.Orang Muhajirin berkata: “Wahai orang-orang Muhajirin,…”.Mendengar hal tersebut Nabi keluar seraya berkata: “Ada apa dgn seruan Jahiliyyah itu?” Kemudian bertanya: “Apa yg terjadi kpd mereka?” Kemudian beliau dikabarkan bahwasan ada seorang Muhajirin memukul pantat seorang Anshor. Selanjut Nabi bersabda ; “Tinggalkanlah, krn itu sangat buruk”.[HR. Bukhori : 3518, 4905, 4907].

Dua nama “Muhajirin” dan “Anshor” mrpk dua nama syar’i yg disebut dalam Al-Qur’an dan Sunnah, bernasab dgn kedua ialah baik, bukan sekedar nisbah seperti bernasab kpd suku dan daerah asal. Dan juga bukan suatu yg makruh atau bahkan harom seperti bernasab kpd hal-hal yg mengarah kpd bid’ah dan maksiat. Tapi nama syar’i yg baik ini tdk bisa memuntuk hakekat-hakekat yg buruk (hizbiyyah) menjadi baik. Bahkan krn hakekat ini Rasul mengingkari dgn menyatakan sebagai panggilan Jahiliyyah. Karena sekedar mendakwahkan nasab atau menyatakan ada hubungan dgn sesuatu, semisal manhaj, atau nama-nama baik yg syar’i tdklah cukup, bahkan bisa jadi bertepuk sebelah tangan jika hakekat tdk seperti namanya.

Penyair arab berkata:
"Setiap Orang mengaku pu hubungan dgn Laila, padahal Laila tdk mengakuinya".

Kalau demikian, perbedaan keyakinan atau perkara-perkara pokok yg lain tdk bisa dijadikan dalil untuk boleh berkelompok-kelompok sesuai dgn keyakinanmasing-masing.

HIZBIYYAH PEMECAH BELAH UMAT
Kita bisa saksikan masih banyak orang-orang yg kurang berfungsi atau memang sudah tdk berfungsi mata, telinga dan hatinya. Sehingga berceloteh dgn menyebarkan hadits yg tdk ada asal untuk melegitimasi keinginannya. Perselisihan umatku mrpk rahmat. Mereka buta, tuli serta tdk bisa memahami nash-nash yg shohih dan gamblang seperti firman Allah Ta’ala:

"Arti : Dan perpeganglah kamu semua kpd tali (Agama) Allah dan janganlah kamu bercerai berai" [Ali-Imron : 103]

Dan firman Allah Ta’ala:

"Arti : Dan Janganlah kamu menyerupai orang-orang yg bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yg jelas kpd mereka. Mereka itulah orang-orang yg mendpt siksa yg berat" [Ali-Imron :105]

Dan firmanNya:

"Arti : Janganlah kamu termasuk orang-orang yg mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yg memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan.Tiap-tiap golongan merasa bangga dgn apa yg ada pada golongan mereka" [Ar-Rum : 31-32]

Dan firmanNya:

"Arti : Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yg telah diwasiatkan-Nya kpd Nuh dan apa yg telah Kam wahyukan kpdmu dan apa yg telah Kami wasiatkan kpd Ibrahim, Musa dan Isa, yaitu : Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya" [As-Syuro : 13]

Nabi Shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Arti : Karena orang yg hidup di antara kalian sesudahku nanti, dia akan menyaksikan perselisihan yg sangat banyak sekali. Maka wajib bagi kalian berpegang teguh dgn sunnahku dan sunnah para Khulafa’ Rosyidin setelahku. Gigitlah sunnahku dgn gigi geraham [HR. Abu Dawud dan Tirmidzi]

Sabda pula:

"Arti : Sesungguh agama ini akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Tujuh puluh dua di neraka, dan satu di surga. Dialah Al-Jama’ah" [Lihatlah Shohihul Jami’ : 638]

Dan hadist-hadist lain yg semisal.

Demikianlah…..hizbiyyah menjadi sangat identik dgn perpecahan. Ibarat dua sahabat karib yg memiliki hubungan yg kokoh. Dimana ada hizbiyyah, disitu pula terletak perpecahan. Di mana terjadi perpecahan, di sana pula ditegakkan prinsip-prinsip hizbiyyah. Hal ini tdk samar lagi bagi ahli ilmu dan tholabul ilmi. Perhatikan kembali hadist diatas (tentang Muhajirin dan Anshor). Disitu Rasulullah telah memerangi benih-benih perpecahan dan hizbiyyah ketika beliau melihat gelagat akan tumbuh sifat-sifat hizbiyyah yg sangat erat dgn perpecahan. Padahal seruan yg mereka nasabkan ialah seruan yg terpuji lagi baik, yaitu seruan yg bernasab kpd Muhajirin dan Anshor. Bukankah Allah telah memuji mereka, Muhajirin dan Anshor?

Perhatikan firman Allah berikut:

"Arti : Orang-orang yg terdahulu lagi yg pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yg mengikuti mereka dgn baik" [At-Taubah : 100]

Ketika nama-nama yg mulia ini dijadikan seruan-seruan untuk menganggap
diri lebih baik dari yg lain atau memenangkan/menolong seseorang krn dia termasuk kelompoknya, Rasulullah mengingkari dan

menyebut sebagai seruan jahiliyyah. Dan semakna pula dgn seruan jahiliyyah ini ialah seruan atau bernasab kpd suatu qabilah, ta’asub (fanatik) kpd seseorang, kpd suatu mahzab atau kelompok, kpd syaikh, ‘alim dan ulama’, mengunggulkan sebagian atas sebagian yg lain sekedar berdasarkan hwa nfsu (**) dan fanatik buta. Lalu membangun wala’ (cinta) dan permusuhan di atas sifat dan sikap yg semacam itu tadi dan mengukur manusia ini di atas neraca tersebut, maka semua ini ialah seruan dan sitem jahiliyyah.

Kesimpulan bahwa perpecahan dan perselisihan serta bentuk hizbiyyah, apapun jenis dan dasarnya, tdklah selaras dgn tabiat Islam sama sekali. Dan bentuk hizbiyyah ini pasti ha mendatangkan mudhorot dan kejelakan yg jauhlebih banyak dan berbahaya daripada manfaat dan kebaikan kalaulah ada manfaat dan kebaikan bagi kaum Muslimin. Dan agama kita pun telah melarang perpecahan dan perselisihan ini secara mutlak dan menjadikan sebagai sebab kelemahan dan kehinaan kaummuslimin.

"Arti : Janganlah kamu berbantah-bantahan, yg menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu" [Al-Anfal : 46]

Allah tdk membatasi larangan perselisihan ini, bahkan memutlakkan agar mencakup segala macamnya. Bahkan Allah tdk ha sekedar melarang saja, tapi Allah mewajibkan kaum muslimin untuk bersungguh-sungguh dalam meraih kebenaran ketika terjadi perselisihan.

Firman-Nya:

"Arti : Hai orang-orang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul(Nya), dan Ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendpt tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kpd Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnah)". [An-Nisa’ : 59]

Jadi perpecahan dan hizbiyyah ibarat dua sisi mata uang yg tdk terpisahkan. Kita hrs benar-benar memahami dan mengambil sikap yg benar. Sekalipun hal ini dianggap kecil dan remeh oleh semantara orang yg memandang. [4]

Mudah-mudahan Allah mengokohkan langkah dan hati di atas jalan sunnah.

[Sumber : Buletin Al-Furqon Edisi 10 Tahun 1]
_________
Foote Note
[1]. Lihat Lisanul ‘Arob:I/308-309.
[2]. Al-Ahzab As-Siyasiyyah fil Islam,hal.7.
[3]. Lihat Al-Ahzab As-Siyasiyyah fil Islam, hal.13
[4]. Lihat kitab Ad-Da’wah ila Allah, Syaikh Ali Hasan, hal. 53-74

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=81&bagian=0

Sumber Hizbiyyah Bukan Hizbullah : http://alsofwah.or.id