Hal-Hal yg Dianggap Membatalkan Puasa

penulis Al-Ustadz Saifudin Zuhri Lc.
Syariah Kajian Khusus Ramadhan 14 - September - 2005 04:48:27

Ada sejumlah persoalan yg sering menjadi perselisihan di antara
kaum muslimin seputar pembatal-pembatal puasa. Di antara memang ada
yg menjadi permasalahan yg diperselisihkan di antara para ulama
namun ada pula hanya sekedar anggapan yg berlebih-lebihan dan tdk
dibangun di atas dalil.
Melalui tulisan ini akan dikupas beberapa permasalahan yg oleh
sebagian umat dianggap sebagai pembatal puasa namun sesungguh tdk
demikian. Keterangan-keterangan yg dibawakan nanti sebagian besar
diambilkan dari kitab Fatawa Ramadhan -cetakan pertama dari
penerbit Adhwaa’ As-salaf- yg berisi kumpulan
fatwa para ulama seperti Asy-Syaikh Ibnu Baz Asy-Syaikh
Al-‘Utsaimin Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan dan
lain-lain rahimahumullahu ajma’in.
Di antara faidah yg bisa kita ambil dari kitab tersebut adalah:
1. Bahwa orang yg melakukan pembatal-pembatal puasa dlm keadaan
lupa dipaksa dan tdk tahu dari sisi hukum mk tidaklah batal
puasanya. Begitu pula orang yg tdk tahu dari sisi waktu seperti
orang yg menjalankan sahur setelah terbit fajar dlm keadaan yakin
bahwa waktu fajar belum tiba. Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih
Al-‘Utsaimin t
setelah menjelaskan tentang pembatal-pembatal puasa berkata:
“Dan pembatal-pembatal ini akan merusak puasa
namun tdk merusak kecuali memenuhi tiga syarat: mengetahui hukum
ingat dan bermaksud melakukan .†Kemudian beliau t
membawakan beberapa dalil di antara hadits yg menjelaskan bahwa
Allah k
telah mengabulkan doa yg tersebut dlm firman-Nya:

رَبَّنَا
لاَ
تُؤَاخِذْنَا
إِنْ
نَسِيْنَا
أَوْ
أَخْطَأْنَا

“Ya Allah janganlah Engkau hukum kami jika kami
lupa atau kalau kami salah .â€
.
Begitu pula ayat ke-106 di dlm surat An-Nahl yg menjelaskan tdk
berlaku hukum kekafiran terhadap orang yg melakukan kekafiran krn
dipaksa. mk hal ini tentu lbh berlaku pada permasalahan yg
berhubungan dgn pembatal-pembatal puasa.

Dan yg dimaksud oleh Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin
t
adl apabila orang tersebut benar-benar tdk tahu dan bukan orang yg
tdk mau tahu wallahu a’lam. Sehingga orang yg
merasa diri teledor atau lalai krn tdk mau berta tentu yg lbh
selamat bagi adl mengganti puasa atau ditambah dgn membayar
kaffarah bagi yg terkena kewajiban tersebut.
2. Orang yg muntah bukan krn keinginan tidaklah batal puasanya. Hal
ini sebagaimana tersebut dlm hadits:

مَنْ
ذَرَعَهُ
قَيْءٌ
وَهُوَ
صَائِمٌ
فَلَيْسَ
عَلَيْهِ
قَضَاءٌ
وَإِنِ
اسْتَقَاءَ
فَلْيَقْضِ

“Barang siapa yg muntah krn tdk disengaja mk tdk
ada kewajiban bagi dia utk mengganti puasanya. Dan barang siapa yg
muntah dgn sengaja mk wajib bagi utk mengganti
puasanya.â€
Oleh krn itu orang yg merasa mual ketika dia menjalankan puasa
sebaik tdk berusaha memuntahkan apa yg ada dlm perut dgn sengaja
krn hal ini akan membatalkan puasanya. Dan jangan pula dia menahan
muntah krn inipun akan berakibat negatif bagi dirinya. mk biarkan
muntahan itu keluar dgn sendiri krn hal tersebut tdk membatalkan
puasa.
3. Menelan ludah tidaklah membatalkan puasa. Berkata Asy-Syaikh
Ibnu Baz t
:
“Tidak mengapa utk menelan ludah dan saya tdk
melihat ada perselisihan ulama dlm hal ini krn hal ini tdk mungkin
utk dihindari dan akan sangat memberatkan. Adapun dahak mk wajib
utk diludahkan apabila telah berada di rongga mulut dan tdk boleh
bagi orang yg berpuasa utk menelan krn hal itu memungkinkan utk
dilakukan dan tdk sama dgn ludah.â€
4. Keluar darah bukan krn keinginan seperti luka atau krn keinginan
namun dlm jumlah yg sedikit tidaklah membatalkan puasa. Berkata
Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin t
dalam beberapa fatwanya:
a. “Keluar darah di gigi tidaklah mempengaruhi
puasa selama menjaga agar darah tdk ditelanâ€.
b. “Pengetesan darah tidaklah mengapa bagi orang
yg berpuasa yaitu pengambilan darah utk diperiksa jenis golongan
darah dan dilakukan krn keinginan mk tdk apa-apaâ€.
c. “Pengambilan darah dlm jumlah yg banyak
apabila berakibat dgn akibat yg sama dgn melakukan berbekam seperti
menyebabkan lemah badan dan membutuhkan zat makanan mk hukum sama
dgn berbekam †.
Maka orang yg keluar darah akibat luka di gigi baik krn dicabut
atau krn terluka gigi tidaklah batal puasanya. Namun dia tdk boleh
menelan darah yg keluar itu dgn sengaja. Begitu pula orang yg
dikeluarkan sedikit darah utk diperiksa golongan darah tidaklah
batal puasanya. Kecuali bila darah yg dikeluarkan dlm jumlah yg
banyak sehingga membuat badan lemah mk hal tersebut membatalkan
puasa sebagaimana orang yg berbekam .
Meskipun terjadi perbedaan pendapat yg cukup kuat dlm masalah ini
namun yg menenangkan tentu adl keluar dari perbedaan pendapat. mk
bagi orang yg ingin melakukan donor darah sebaik dilakukan di malam
hari krn pada umum darah yg dikeluarkan jumlah besar. Kecuali dlm
keadaan yg sangat dibutuhkan mk dia boleh melakukan di siang hari
dan yg lbh hati-hati adl agar dia mengganti puasa di luar bulan
Ramadhan.
5. Pengobatan yg dilakukan melalui suntik tidaklah membatalkan
puasa krn obat suntik tdk tergolong makanan atau minuman. Berbeda
hal dgn infus mk hal itu membatalkan puasa krn dia berfungsi
sebagai zat makanan. Begitu pula pengobatan melalui tetes mata atau
telinga tidaklah membatalkan puasa kecuali bila dia yakin bahwa
obat tersebut mengalir ke kerongkongan. Terdapat perbedaan pendapat
apakah mata dan telinga merupakan saluran ke kerongkongan
sebagaimana mulut dan hidung ataukah bukan. Namun wallahu
a’lam yg benar adl bahwa kedua bukanlah saluran
yg akan mengalirkan obat ke kerongkongan. mk obat yg diteteskan
melalui mata atau telinga tidaklah membatalkan puasa. Meskipun bagi
yg merasakan masuk obat ke kerongkongan tdk mengapa bagi utk
mengganti puasa agar keluar dari perselisihan.
6. Mencium dan memeluk istri tidaklah membatalkan puasa apabila tdk
sampai keluar air mani meskipun mengakibatkan keluar madzi.
Rasulullah n
bersabda dlm sebuah hadits shahih yg artinya:
“Dahulu Rasulullah n
mencium dlm keadaan beliau berpuasa dan memeluk dlm keadaan beliau
puasa akan tetapi beliau adl orang yg paling mampu menahan syhwt
(**) di antara kalian.â€
Akan tetapi bagi orang yg khawatir akan keluar mani dan terjatuh
pada perbuatan jima’ krn syhwt (**) yg kuat mk
yg terbaik bagi adl menghindari perbuatan tersebut. Karena puasa
bukanlah sekedar meninggalkan makan atau minum tetapi juga
meninggalkan syhwt (**) nya. Rasulullah n
bersabda:

.. يَدَعُ
شَهْوَتَهُ
وَطَعَامَهُ
مِنْ
أَجْلِي ..

“ meninggalkan syhwt (**) dan makan krn
Aku.â€

Dan juga beliau n
bersabda:

دَعْ مَا
يُرِيْبُكَ
إِلَى مَا
لاَ
يُرِيْبُكَ

“Tinggalkan hal-hal yg meragukan kepada yg tdk
meragukan.â€

7. Bagi laki2 yg sedang berpuasa diperbolehkan utk keluar rumah dgn
memakai wewangian. Namun bila wewangian itu berasal dari suatu asap
atau semisal mk tdk boleh utk menghirup atau menghisapnya. Juga
diperbolehkan bagi utk menggosok gigi dgn pasta gigi kalau
dibutuhkan. Namun dia harus menjaga agar tdk ada yg tertelan ke dlm
tenggorokan sebagaimana diperbolehkan bagi diri utk berkumur dan
memasukkan air ke hidung dgn tdk terlalu kuat agar tdk ada air yg
tertelan atau terhisap. Namun seandai ada yg tertelan atau terhisap
dgn tdk sengaja mk tdk membatalkan puasa. Hal ini sebagaimana
disebutkan dlm hadits:
“Bersungguh-sungguhlah dlm istinsyaq kecuali
jika engkau sedang berpuasa .â€
8. Diperbolehkan bagi orang yg berpuasa utk menyiram kepala dan
badan dgn air utk mengurangi rasa panas atau haus. Bahkan boleh
pula utk berenang di air dgn selalu menjaga agar tdk ada air yg
tertelan ke tenggorokan.
9. Mencicipi masakan tidaklah membatalkan puasa dgn menjaga jangan
sampai ada yg masuk ke kerongkongan. Hal ini sebagaimana disebutkan
oleh Ibnu Abbas c
dalam sebuah atsar:

لاَ بَأْسَ
أَنْ
يَذُوْقَ
الْخَلَّ
وَالشَّيْءَ
يُرِيْدُ
شَرَاءَهُ

“Tidak apa-apa bagi seseorang utk mencicipi cuka
dan lain yg dia akan membelinya.â€

Demikian beberapa hal yg bisa kami ringkaskan dari penjelasan para
ulama. Yang paling penting bagi tiap muslim adl meyakini bahwa
Rasulullah n
tentu telah menjelaskan seluruh hukum-hukum yg ada dlm syariat
Islam ini. mk kita tdk boleh menentukan sesuatu itu membatalkan
puasa atau tdk dgn perasaan semata. Bahkan harus mengembalikan
kepada dalil dari Al Qur`an dan As Sunnah dan penjelasan para
ulama.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Sumber: www.asysyariah.com