Haji ke Baitullah penulis Al-Ustadz
Ruwaifi’ bin Sulaimi Lc. Syariah Kajian Utama
18 - Desember - 2006 08:32:00 Mencari gelar haji/hajjah menaikkan
status sosial atau unjuk kekayaan adl niatan-niatan yg semesti
dikubur dalam-dalam saat hendak menunaikan ibadah haji. Karena tiap
amalan sekecil apapun hanya pantas ditujukan kepada Allah Subhanahu
wa Ta’ala. Terlebih ibadah haji merupakan
amalan mulia yg memiliki kedudukan tinggi di dlm Islam. Haji ke
Baitullah merupakan ibadah yg sangat mulia dlm Islam. Kemuliaan nan
tinggi memposisikan sebagai salah satu dari lima rukun Islam. Ini
mengingatkan kita akan sabda baginda Rasul shallallahu
‘alaihi wa sallam:
بÙÙ†ÙÙŠÙŽ
اْلإÙسْلاَمÙ
عَلَى
خَمْسÙ:
شَهَادَةÙ
أَنْ
لاَ
Ø¥Ùلهَ
Ø¥Ùلاَّ
اللهÙ
وَأَنَّ
Ù…Ùحَمَّدًا
رَسÙوْلÙ
اللهÙØŒ
ÙˆÙŽØ¥ÙقَامÙ
الصَّلاَةÙØŒ
ÙˆÙŽØ¥ÙيْتَاءÙ
الزَّكَاةÙØŒ
وَصÙيَامÙ
رَمَضَانَ،
وَحَجÙÙ‘
الْبَيْتÙ
“Agama Islam dibangun di atas lima perkara;
bersyahadat bahwasa tdk ada yg berhak diibadahi kecuali Allah dan
Nabi Muhammad itu utusan Allah mendirikan shalat menunaikan zakat
shaum di bulan Ramadhan dan berhaji ke Baitullah.â€
Seorang muslim sejati pasti mendambakan diri bisa berhaji ke
Baitullah. Lebih-lebih bila merenung dan memerhatikan hadits-hadits
Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam yg merinci
berbagai keutamaannya. Seperti sabda Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam:
مَنْ
حَجَّ
Ù„ÙلَّهÙ
Ùَلَمْ
يَرْÙÙثْ
وَلَمْ
ÙŠÙŽÙْسÙقْ
رَجَعَ
كَيَوْمÙ
وَلَدَتْهÙ
Ø£ÙمّÙÙ‡Ù
“Barangsiapa berhaji krn Allah lalu tdk berbuat
keji dan kefasikan niscaya dia pulang dari ibadah tersebut seperti
di hari ketika dilahirkan oleh ibu .â€
الْعÙمْرَةÙ
Ø¥ÙÙ„ÙŽÙ‰
الْعÙمْرَةÙ
ÙƒÙŽÙَّارَةٌ
Ù„Ùمَا
بَيْنَهÙمَا،
وَالْحَجّÙ
الْمَبْرÙورÙ
لَيْسَ
Ù„ÙŽÙ‡Ù
جَزَاءٌ
Ø¥Ùلاَّ
الْجَنَّةَ
“Antara satu umrah dgn umrah berikut merupakan
penebus dosa-dosa yg ada di antara kedua dan haji mabrur itu tdk
ada balasan bagi kecuali Al-Jannah.†Berangkat dari
sinilah tdk sedikit dari saudara-saudara kita kaum muslimin yg
tergugah utk berlomba menunaikan ibadah haji tiap tahun meski harus
berkorban harta waktu dan tenaga. Bahkan berpisah dgn keluarga atau
meninggalkan kampung halaman pun tdk menjadi penghalang demi
menunaikan ibadah yg mulia tersebut. Semangat beribadah yg tinggi
ini semesti senantiasa dipertahankan dan kemudian ditingkatkan dgn
mempelajari ilmu serta menunaikan sesuai dgn tuntunan baginda Rasul
shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini tiada
lain sebagai realisasi dari apa yg pernah dipesankan oleh baginda
Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam:
Ø®ÙØ°Ùوا
عَنّÙÙŠ
مَنَاسÙÙƒÙŽÙƒÙمْ
“Ambillah dariku tuntunan manasik haji
kalian.†Tahukah Anda Apa Haji dan
‘Umrah Itu? Haji dlm bahasa Arab bermakna:
maksud atau tujuan. Al-Khalil bin Ahmad Al-Farahidi salah seorang
pakar bahasa Arab berpendapat bahwasa kata haji sering digunakan
utk suatu maksud yg mulia dan ditujukan kepada zat/sesuatu yg mulia
pula. Dalam terminologi syariat haji bermakna: Beribadah kepada
Allah Subhanahu wa Ta’ala dgn menjalankan
manasik yg dituntunkan Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam. Adapun umrah dlm bahasa Arab
bermakna: kunjungan . Sedangkan dlm terminologi syariat adalah:
Beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dgn
berthawaf di Ka’bah lalu
bersa’i di antara Shafa dan Marwah kemudian
gundul atau mencukur rambut . Rangkaian ibadah haji haruslah
dilakukan dlm bulan-bulan haji . Adapun ibadah umrah tdk terkait
dgn waktu tertentu bisa dilakukan di bulan-bulan haji atau pun di
luar itu. Kapan Ibadah Haji Disyariatkan? Syariat haji
–secara umum– telah ada di
masa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Sebagaimana
firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yg ditujukan
kepada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam:
وَأَذّÙنْ
ÙÙÙŠ
النَّاسÙ
بÙالْحَجّÙ
يَأْتÙوْكَ
رÙجَالاً
وَعَلَىكÙلّÙ
ضَامÙرÙ
يَأْتÙيْنَ
Ù…Ùنْ
ÙƒÙÙ„ÙÙ‘
ÙَجّÙ
عَمÙيْقÙ
Ù„ÙÙيَشْهَدÙوا
مَنَاÙÙعَ
Ù„ÙŽÙ‡Ùمْ
“Dan umumkanlah kepada manusia utk berhaji
niscaya mereka akan mendatangimu dgn berjalan kaki atau mengendarai
unta kurus dari segala penjuru yg jauh utk menyaksikan segala yg
bermanfaat bagi mereka.†Kemudian syariat tersebut
dikukuhkan kembali secara lbh sempurna di masa Nabi Muhammad
shallallahu ‘alaihi wa sallam tepat pada tahun 9
Hijriyah. Sebagaimana yg dikatakan Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih
Al-Utsaimin rahimahullah: “Syariat haji
–menurut pendapat yg benar–
terjadi pada tahun 9 Hijriyah… Dalil bahwa
ayat tentang wajib haji merupakan ayat-ayat pertama dari surat Ali
‘Imran. Dan ayat-ayat pertama dari surat Ali
‘Imran ini diturunkan pada tahun berdatangan
para utusan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam .†Hukum Menunaikan Ibadah Haji dan Umrah
Menunaikan ibadah haji hukum wajib bagi yg mampu. Dalil adl
Al-Qur`an As-Sunnah dan Al-Ijma’. Asy-Syaikh
Abdul Aziz bin Baz berkata: “Sesungguh Allah
Subhanahu wa Ta’ala telah mewajibkan kepada
seluruh hamba-Nya utk menunaikan ibadah haji ke Baitullah dan
menjadikan sebagai salah satu dari rukun Islam. Allah Subhanahu wa
Ta’ala berfirman:
ÙˆÙŽÙ„ÙلَّهÙ
عَلَى
النَّاسÙ
Ø­ÙجّÙ
البَيْتÙ
Ù…ÙŽÙ†Ù
اسْتَطَاعَ
Ø¥ÙلَيْهÙ
سَبÙيْلاً
وَمَنْ
ÙƒÙŽÙَرَ
ÙÙŽØ¥Ùنَّ
اللهَ
غَنÙيٌّ
عَنÙ
الْعَالَمÙيْنَ
“Dan hanya krn Allah lah haji ke Baitullah itu
diwajibkan bagi manusia yg mampu mengadakan perjalanan ke sana.
Barangsiapa yg kafir mk sesungguh Allah tdk butuh terhadap seluruh
alam semesta.†Di dlm Shahih Al-Bukhari dan Muslim
dari shahabat Abdullah bin ‘Umar diriwayatkan
bahwasa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
بÙÙ†ÙÙŠÙŽ
اْلإÙسْلاَمÙ
عَلَى
خَمْسÙ:
شَهَادَةÙ
أَنْ
لاَ
Ø¥ÙÙ„ÙŽÙ‡ÙŽ
Ø¥Ùلاَّ
اللهÙ
وَأَنَّ
Ù…Ùحَمَّدًا
رَسÙوْلÙ
اللهÙØŒ
ÙˆÙŽØ¥ÙقَامÙ
الصَّلاَةÙØŒ
ÙˆÙŽØ¥ÙيْتَاءÙ
الزَّكَاةÙØŒ
وَصÙيَامÙ
رَمَضَانَ،
وَحَجّÙ
الْبَيْتÙ
“Agama Islam dibangun di atas lima perkara:
bersyahadat bahwasa tdk ada yg berhak diibadahi kecuali Allah dan
Nabi Muhammad itu utusan Allah mendirikan shalat menunaikan zakat
shaum di bulan Ramadhan dan berhaji ke Baitullah.â€
Diriwayatkan oleh Al-Imam Sa’id bin Manshur dlm
Sunan- dari shahabat Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu
‘anhu beliau berkata:
“Sungguh aku bertekad mengirim pasukan ke
penjuru dunia utk memantau orang2 yg mempunyai kelapangan harta
namun tdk mau berhaji dan menarik upeti dari mereka. Mereka bukan
orang Islam mereka bukan orang Islam.†Diriwayatkan
pula dari shahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu
‘anhu beliau berkata:
“Barangsiapa yg mampu berhaji namun tdk mau
menunaikan mk tidaklah ia meninggal dunia melainkan dlm keadaan
Yahudi atau Nashrani.†Al-Wazir dan yg lain berkata:
“Para ulama telah berijma’
bahwasa ibadah haji itu diwajibkan bagi tiap muslim dan muslimah yg
baligh lagi mampu dan dilakukan sekali seumur hidup.â€
Adapun ibadah ‘umrah hukum juga wajib menurut
salah satu pendapat para ulama. Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz
berkata: “Ada sekian hadits Nabi yg menunjukkan
wajib ibadah umrah. Di antara adl sabda beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam ketika dita oleh malaikat
Jibril tentang Islam:
اْلإÙسْلاَمÙ
أَنْ
تَشْهَدَ
أنْ
لاَ
Ø¥ÙÙ„ÙŽÙ‡ÙŽ
Ø¥Ùلاَّ
اللهÙ
وَأَنَّ
Ù…Ùحَمَّدًا
رَسÙوْلÙ
اللهÙØŒ
وَتÙÙ‚Ùيْمَ
الصَّلاَةَ،
وَتÙؤْتÙÙŠÙŽ
الزَّكَاةَ،
وَتَحÙجَّ
الْبَيْتَ
وَتَعْتَمÙرَ
وَتَغْتَسÙÙ„ÙŽ
Ù…ÙÙ†ÙŽ
الْجَنَابَةÙ
وَتÙتÙمَّ
الْوÙضÙوْءَ
وَتَصÙوْمَ
رَمَضَانَ
“Islam adl engkau bersyahadat bahwasa tdk ada yg
berhak diibadahi kecuali Allah dan Nabi Muhammad itu utusan Allah
mendirikan shalat menunaikan zakat berhaji ke Baitullah menunaikan
ibadah umrah mandi dari janabat menyempurnakan wudhu dan shaum di
bulan Ramadhan.†Kapan Seseorang Berkewajiban
Menunaikan Ibadah Haji? Al-Imam Ibnu Qudamah di dlm Al-Mughni
mengatakan: “Sesungguh ibadah haji itu wajib
ditunaikan bila telah terpenuhi lima syarat: 1. Beragama Islam. 2.
Berakal sehat. 3. Mencapai usia baligh. 4. Merdeka . 5. Mempunyai
kemampuan.†Bagaimanakah kriteria mempunyai kemampuan
tersebut? Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata:
“Mempunyai kemampuan dlm bentuk harta dan fisik
. Yakni bila seseorang memiliki harta yg dapat mencukupi utk
berangkat haji berikut kepulangan serta segala kebutuhan dlm
perjalanan haji tersebut. harta yg dimiliki itu adl harta yg
tersisa setelah dikurangi pembayaran hutang nafkah yg bersifat
wajib segala kebutuhan makan minum nikah tempat tinggal dgn perabot
dan apa yg dibutuhkan berupa kendaraan buku-buku agama dan lain
sebagainya. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa
Ta’ala:
ÙˆÙŽÙ„ÙلَّهÙ
عَلَى
النَّاسÙ
Ø­ÙجّÙ
البَيْتÙ
Ù…ÙŽÙ†Ù
اسْتَطَاعَ
Ø¥ÙلَيْهÙ
سَبÙيْلاً
وَمَنْ
ÙƒÙŽÙَرَ
ÙÙŽØ¥Ùنَّ
اللهَ
غَنÙيٌّ
عَنÙ
الْعَالَمÙيْنَ
“Dan hanya krn Allahlah haji ke Baitullah itu
diwajibkan bagi manusia yg mampu mengadakan perjalanan ke sana.
Barangsiapa yg kafir mk sesungguh Allah tdk butuh terhadap seluruh
alam semesta.†Bagi kaum wanita ada mahram termasuk
bagian dari kemampuan. mk dari itu wanita yg tdk mempunyai mahram
tdk wajib utk berhaji krn tdk boleh bagi secara
syar’i utk safar tanpa mahram. Kaum wanita tdk
boleh melakukan safar tanpa disertai mahram baik utk haji atau pun
selain baik safar dlm waktu yg lama atau pun sebentar bersama
rombongan kaum wanita atau pun sendirian masih muda dan cantik atau
pun telah renta naik pesawat terbang atau pun yg lainnya. Hal ini
berdasarkan hadits Abdullah bin ‘Abbas
radhiyallahu ‘anhuma:
أَنَّهÙ
سَمÙعَ
النَّبÙيَّ
صَلىَّ
اللهÙ
عَلَيْهÙ
وَسَلَّمَ
يَخْطÙبÙ
ÙŠÙŽÙ‚ÙولÙ:
لاَ
يَخْلÙوَنَّ
رَجÙÙ„ÙŒ
بÙامْرَأَةÙ
Ø¥Ùلاَّ
وَمَعَهَا
Ø°ÙÙˆ
مَحْرَمÙØŒ
وَلاَ
تÙسَاÙÙرÙ
الْمَرْأَةÙ
Ø¥Ùلاَّ
مَعَ
Ø°ÙÙŠ
مَحْرَمÙ.
Ùَقَامَ
رَجÙÙ„ÙŒ
Ùَقَالَ:
يَا
رَسÙوْلَ
اللهÙØŒ
Ø¥Ùنَّ
امْرَأَتÙÙŠ
خَرَجَتْ
حَاجَّةً،
ÙˆÙŽØ¥ÙÙ†Ùّي
اكْتÙتÙبْتÙ
ÙÙÙŠ
غَزْوَةÙ
كَذَا
وَكَذَا.
Ùَقَالَ
النَّبÙيّÙ
صَلىَّ
اللهÙ
عَلَيْهÙ
وَسَلَّمَ:
انْطَلÙقْ
ÙÙŽØ­Ùجَّ
مَعَ
امْرَأَتÙÙƒÙŽ
“Bahwasa beliau pernah mendengar Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah seraya
berkata: ‘Janganlah sekali-kali seorang lelaki
bersendirian dgn seorang wanita kecuali bila disertai mahram dan
jangan pula seorang wanita bersafar kecuali bersama
mahramnya.’ mk berdirilah seorang lelaki seraya
berkata: ‘Wahai Rasulullah sesungguh istriku
pergi berhaji sementara aku ditugaskan utk
berjihad.’ mk beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:
‘Pergilah engkau utk berhaji bersama
istrimu!†Dalam hadits tersebut Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam tdk menanyakan terlebih dahulu
apakah si wanita itu pergi bersama rombongan kaum wanita ataukah
sendirian?! Apakah dia masih muda dan cantik ataukah sudah tua?!
Apakah perjalanan aman ataukah tidak?! Adapun hikmah dari
pelarangan tersebut adl utk melindungi kaum wanita dari tindak
kriminal krn mereka adl kaum yg lemah akal dan fisiknya. Mereka
sering dijadikan sasaran tindak kejahatan dikarenakan betapa mudah
mereka utk ditipu atau pun dipaksa melakukan sesuatu.
–Hingga perkataan beliau–
Jika seseorang tdk mampu dari sisi harta mk dia tdk wajib berhaji.
Dan jika berkemampuan dari sisi harta namun kondisi kesehatan lemah
mk perlu utk ditinjau terlebih dahulu. Jika rasa lemah itu
dimungkinkan bisa hilang seperti sakit yg dimungkinkan kesembuhan
mk hendak dia bersabar hingga mendapatkan kesembuhan lalu
menunaikan ibadah haji. Dan jika rasa lemah itu dimungkinkan tdk
bisa hilang dikarenakan faktor ketuaan dan penyakit menahun yg
sulit utk disembuhkan misal mk hendak mewakilkan haji kepada orang
lain.†Berapa Kalikah Kewajiban Menunaikan Ibadah Haji
dan Umrah? Ibadah haji dan umrah wajib ditunaikan sekali saja
seumur hidup bagi tiap muslim dan muslimah yg telah memenuhi syarat
wajibnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda: يَا
أَيّÙهَا
النَّاسÙØŒ
Ø¥Ùنَّ
اللهَ
كَتَبَ
عَلَيْكÙÙ…Ù
الْحَجَّ.
Ùَقَامَ
اْلأَقْرَعÙ
بْنÙ
حَابÙسÙ
Ùَقَالَ:
Ø£ÙŽÙÙÙŠ
ÙƒÙلّÙ
عَامÙ
يَارَسÙوْلَ
اللهÙØŸ
قَالَ:
لَوْ
Ù‚ÙلْتÙهَا
لَوَجَبَتْ،
وَلَوْ
ÙˆÙجÙبَتْ
لَمْ
تَعْمَلÙوا
بÙهَا
وَلَمْ
تَسْتَطÙيْعÙوا
أَنْ
تَعْمَلÙوا
بÙهَا،
الْحَجّÙ
مَرَّةً،
Ùَمَنْ
زَادَ
Ùَتَطَوَّعَ
“Wahai sekalian manusia sesungguh Allah
Subhanahu wa Ta’ala telah mewajibkan kepada
kalian ibadah haji!†mk berdirilah
Al-Aqra’ bin Habis seraya mengatakan:
“Apakah haji itu wajib ditunaikan tiap tahun
wahai Rasulullah?†mk beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam pun menjawab:
“Kalau aku katakan; ya niscaya akan menjadi
kewajiban tiap tahun dan bila diwajibkan tiap tahun niscaya kalian
tdk akan menunaikan bahkan tdk akan mampu utk menunaikannya.
Kewajiban haji itu hanya sekali . Barangsiapa menunaikan lbh dari
sekali mk dia telah bertathawwu’
.†Di antara Hikmah Ibadah Haji Asy-Syaikh Abdullah
Al-Bassam berkata: “Ibadah haji mempunyai hikmah
yg besar mengandung rahasia yg tinggi dan tujuan yg mulia berupa
kebaikan duniawi dan ukhrawi. Sebagaimana yg dikandung firman Allah
Subhanahu wa Ta’ala:
Ù„ÙÙيَشْهَدÙوا
مَنَاÙÙعَ
Ù„ÙŽÙ‡Ùمْ
“Untuk menyaksikan segala yg bermanfaat bagi
mereka.†Haji merupakan momen pertemuan akbar bagi
umat Islam seluruh dunia. Allah Subhanahu wa
Ta’ala pertemukan mereka semua di waktu dan
tempat yg sama. Sehingga terjalinlah suatu interaksi kedekatan dan
saling merasakan satu dgn sesama yg dapat membuahkan kuat tali
persatuan umat Islam dan terwujud kemanfaatan bagi urusan agama dan
dunia mereka. Seseorang yg berupaya menggali rahasia di balik
ibadah haji mk dia akan memperoleh banyak pelajaran penting baik yg
berkaitan dgn keimanan ibadah muamalah dan akhlak yg mulia. Di
antara pelajaran tersebut adalah: 1. Perwujudan tauhid yg murni
dari noda-noda kesyirikan dlm hati sanubari ketika para jamaah haji
bertalbiyah. 2. Pendidikan hati utk senantiasa
khusyu’ tawadhu’ dan
penghambaan diri kepada Rabbul ‘Alamin ketika
melakukan thawaf wukuf di Arafah dan amalan haji lainnya. 3.
Pembersihan jiwa utk senantiasa ikhlas dan bersyukur kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala ketika menyembelih hewan
kurban di hari-hari haji. 4. Ketulusan dlm menerima bimbingan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa
diiringi rasa berat hati ketika mencium Hajar Aswad dan mengusap
Rukun Yamani. 5. Tumbuh kebersamaan hati dan jiwa ketika berada di
tengah-tengah saudara-saudara seiman dari seluruh penjuru dunia dgn
pakaian yg sama berada di tempat yg sama dan menunaikan amalan yg
sama pula . Sumber: www.asysyariah.com