Popularitas ekonomi dan perbankan syariah semakin melambung khususnya setelah teruji tangguh melewati badai krisis. Syaraf-syaraf syariah yg bersendikan keadilan dan kebersamaan saling membangkitkan dan tetap memegang asas jual beli yg saling menguntungkan telah terbukti mampu menghindar dari jebakan-jebakan kapitalis berupa bunga dan riba serta penggunaan jebakan utang utk melemahkan satu pihak. Sendi ekonomi syariah apakah itu perbankan ataupun jual beli terbukti bukan hanya tangguh melainkan juga memberikan keuntungan yg lbh besar dan halal daripada ekonomi kapitalistik yg paling modern sekalipun. Fakta demikian ini cenderung ditutupi oleh mereka yg tidak setuju atau menentang ekonomi syariah krn khawatir akan tersaing minimal memakan market share yg selama ini mereka ni’mati. Ekonomi kapitalis saat ini terus melakukan propaganda utk menguatkan citra mereka yg kedodoran.

Simak bagaimana upaya bank konvesional mengangkat citranya dgn promosi hadiah jor-joran sementara kondisi internalnya sudah sangat keropos dimakan karat korupsi dan kolusi. Simak juga ada bank terus menggelar berbagai acara TV dgn biaya yg tidak sedikit sementara penjualan sahamnya terus dibelit masalah. Ada juga bank dgn program hadiah ratusan mobil mewah dgn iklan yg sangat gencar sementara kinerjanya tidak kunjung membaik.

Hanya ada satu pertanyaan dasar utk itu dari pos mana dana besar utk hadiah itu diambil? Sejauh ini belum ada kabar menggembirakan dari bank besar mana pun yg menunjukkan penyaluran kredit mereka ke dunia sektor riil berjalan lancar seiring dgn kebangkitan sektor riil yg dibiayainya. Kalaupun ada satu atau dua usaha di sektor riil nampak bangkit apakah penghasilan bank dari kredit yg disalurkannya sudah demikian besar sehingga mampu mendanai hadiah miliaran rupiah itu.

Tak ada jawaban akurat utk itu kecuali adanya indikasi penggembosan pemborosan dan pembiusan nasabah. Dengan iming-iming hadiah besar diharapkan nasabah mau menyimpan uangnya di bank. Membodohi Membius dan Menipu Memang nampak sekilas tidak ada kegiatan menipu membodohi atau membius dalam kegencaran iklan hadiah jor-joran itu. Kenyataannya nasabah “dibius” dgn hadiah yg aduhai yg sebenarnya hanya memiliki kemungkinan sangat kecil utk dimenangkan. Jelas tidak mungkin semua nasabah akan mendapatkan hadiah menggiurkan itu. Memang ada yg menang tetapi jauh lbh banyak lagi yg kalah. Sangat kental aroma untung-untungan dalam memenangkan hadiah itu.

Sebuah proses pembodohan yg sangat tak mengenakan busana. Iklan hadiah jor-joran seperti ini seolah ingin membangun sebuah citra hebat sehat kuat dan kayanya sebuah bank. Sekarang harap dicatat saja iklan-iklan heboh seperti ini kemudian ikuti berita seputar merger pailit kolapsnya sejumlah bank besar yg mayoritasnya memasang iklah heboh itu. Apa maksudnya jika tidak hendak menipu nasabah atau paling tidak melecehkan intelektualitas nasabah. Dikiranya nasabah tidak tahu bahwa bank itu sedang kolaps. Inilah keseluruhan jalan yg ditempuh oleh bank kapitalis dalam mempertahankan nafasnya yg sudah tersengal itu .

Multi Level Marketing

Gejala kebangkitan suatu trend jual-beli yg unik dan lain dari yg lain. Itulah Multi Level Marketing . MLM yg dimaksud di sini suatu penjualan barang eksklusif tanpa menggunakan jalur distribusi biasa melainkan melalui agen atau distributor yg merupakan anggota jaring pemasaran eksklusif dan umumnya bertingkat . Karakter khas bisnis MLM ini adl memasarkan produk hanya kepada anggota saja. Masyarakat yg bukan anggota hanya dapat membeli produknya dari anggota . Untuk menjadi anggota harus membayar uang masuk dan biasanya ada iuran tahunan utk memperpanjang keanggotaan.

Para distributor ini biasanya dibina utk melebarkan dan memperbanyak anggotanya sehingga terciptalah sebuah jaringan pemasaran yg luas. Umumnya produk yg dipasarkan melalui MLM adl produk yg memiliki harga di atas rata-rata. Jika para anggota menjual produknya kepada non anggota terdapat keuntungan yg lumayan besar sekitar 30 persen. Bukan hanya itu saja yg diharapkan oleh anggota tetapi ada penghasilan besar lainnya berupa bonus poin kumulatif penjualan dalam jaringan seorang anggota. Dengan sistem poin seperti ini maka seorang anggota yg memiliki jaringan pemasaran luas dan aktif dalam penjualan akan mendapatkan kumulatif poin yg besar.

Semakin besar poin kumulatif semakin besar dan banyak pula bonus yg dapat diraih. Sehingga sangat lazim dalam bisnis MLM ini ada seorang yg memiliki jaringan sangat luas mendapatkan penghasilan sangat besar jauh di atas keuntungan margin penjualan yg dia lakukan. Posisi seperti inilah yg dikejar oleh para pelaku bisnis MLM. Berbagai variasi memang dilakukan oleh bisnis MLM yg berbeda baik dalam menentukan besarnya poin bonus posisi pemasaran dan cara pembinaan tetapi prinsip pokok MLM adl tetap berpedoman pada prinsip yg diuraikan di atas.

Prinsip MLM seperti ini sekilas nampak wajar memberikan kesempatan kepada banyak orang utk ikut menjual dan meni’mati keuntungan . Tetapi kenyataan bahwa produk yg dijual dgn sistem MLM selalu memiliki harga yg lbh mahal dari produk non MLM.

Prinsip memperluas jaringan pemasaran pada kenyataannya adl memperpanjang jalur distribusi dgn konsekuensi harga produk menjadi lbh mahal. Harga mahal jalur distribusi yg panjang dan posisi tertentu dgn bonus poin kumulatif agaknya berseberangan dgn prinsip ekonomi konvensional apalagi syariah. Syariah Kapitalis dan MLM Panjangnya jalur distribusi merupakan komponen utama penambah harga produk. Setiap titik distribusi pasti memerlukan margin tertentu dan konsekuensinya adl bertambahnya harga.

Berseberangan dgn ini usaha ‘toko gudang’ seperti Makro, Indo Mart, Club Store ataupun Maju Bersama berupaya memperpendek jalur distribusi sehingga mereka dapat menjual produk lbh murah dari harga. Dalam aspek ini konsumen diuntungkan dgn harga produk yg relatif lbh murah. Walaupun kecil dalam aspek ini masyarakat diberdayakan. Sedangkan dalam MLM yg diberdayakan hanya distributornya saja. Masyarakat atau pembeli biasa tidak meni’mati apa-apa kecuali bertambah mahalnya harga produk. Dalam satu aspek pemendekan jalur distribusi dan penekanan harga memiliki potensi memberdayakan masyarakat.

Hal lain yg juga perlu dicermati adl adanya posisi level strategis dalam jalur pemasaran MLM yaitu seseorang mendapatkan penghasilan dari kerja keras jaringannya. Boleh jadi sistem ini akan menyejahterakan seseorang yg utk itu dibutuhkan ratusan atau ribuan pembeli dgn harga mahal. Posisi ini apa pun namanya merupakan impian yg dikejar oleh semua pebisnis MLM. Keberadaan posisi ini sewajar apa pun sebenarnya tidak adil krn memberikan kesempatan kepada seseorang utk mendapat hasil dari pekerjaan yg dilakukan oleh orang lain.

Terlepas dari jenis produk apa pun yg dijual sistem MLM seperti ini jelas tidak selaras dgn prinsip syariah baik dari aspek bagi hasil ataupun efek memberdayakan umat. Bagaimanapun reformasi yg dilakukan ekonomi syariah telah terbukti unggul menghadapi berbagai ekses kapitalistik. Hanya ekonomi syariah saja yg dapat mengeluarkan siapa pun dari krisis ekonomi.

Hadiah besar yg ditawarkan melalui iklan heboh hadiah ataupun pemasaran produk melalui jaringan Multi Level Marketing tetap saja tidak akan mampu mengentaskan kemiskinan akibat ekonomi kapitalistik. Memang MLM mungkin dapat memperkaya beberapa gelintir ‘diamond’ dalam kerja keras ribuan distributor dan lbh banyak lagi pembeli yg bukan anggota. Kita tunggu saja mana yg lbh unggul hadiah menggiurkan dari bank kapitalis MLM atau syariah.

Oleh Drs. Djoko Sugiarno Sumber Waspada Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Sumber file al_islam.chm