Edisi Baru

penulis Al Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Lc
headline Manhaji 14 - Juli - 2004 19:03:53

Sejarah Muncul Fitnah Takfir Bila menengok sejarah ternyata fitnah bermudah-mudahan mengkafirkan seorang muslim ini telah lama ada seiring dgn muncul Khawarij kelompok sesat pertama dlm Islam. Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah berkata: “Ia merupakan fitnah yg telah lama ada yg diprakarsai oleh kelompok dari kelompok-kelompok Islam pertama yg dikenal dgn Khawarij.” Mereka telah berani mengkafirkan Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan dan orang2 yg bersama mengkafirkan orang2 yg memerangi ‘Ali bin Abi Thalib dlm perang Jamal dan Shiffin kemudian mengkafirkan semua yg terlibat dlm peristiwa Tahkim dan akhir mengkafirkan siapa saja yg tdk sepaham dgn mereka. Sebab Muncul Fitnah Takfir Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah berkata: “Sejauh apa yg aku pahami sebab kembali kepada dua perkara: - Dangkal ilmu dan kurang pemahaman tentang agama
- memahami agama tdk dgn kaidah syar’iyyah
Siapa saja menyimpang dari Jamaah yg dipuji oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dlm banyak sabda dan telah disebut oleh Allah ‘Azza wa Jalla mk ia telah menentang Allah dan Rasul-Nya. Yang saya maksud adl firman-Nya: وَمَنْ يُشَاقِِقِ الرَّسُوْلَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّه مَا تَوَلَّـى وَنُصْلِهِ جـَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيْرًا “Dan barangsiapa menentang Rasul setelah jelas bagi kebenaran dan mengikuti selain jalan orang2 mukmin kami biarkan ia leluasa bergelimang dlm kesesatan dan Kami masukkan ia ke dlm Jahannam dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” Kemudian beliau berkata: “Dari sinilah banyak sekali kelompok-kelompok yg tersesat sejak dahulu hingga kini krn mereka tdk mengikuti jalan orang2 mukmin dan semata-mata mengandalkan akal bahkan mengikuti hwa nfsu (**) di dlm menafsirkan Al-Qur’an dan As-Sunnah yg kemudian membuahkan kesimpulan-kesimpulan yg sangat berbahaya dan akhir menyimpang dari jalan As-Salafush Shalih.” Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin menambahkan sebab ketiga yaitu jelek pemahaman yg dibangun di atas jelek niat. Demikian pula Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan menambahkan sebab yg lain yaitu ada kecemburuan terhadap agama yg berlebihan atau semangat yg tdk pada tempatnya. Kehati-hatian Ahlus Sunnah Wal Jamaah dlm Masalah Takfir Adapun Ahlus Sunnah Wal Jamaah As-Salafiyyun adl orang2 yg sangat berhati-hati dlm masalah takfir. Merekalah yg sejak dahulu hingga kini memerangi fitnah dan pemikiran tersebut. Kitab-kitab dan fatwa-fatwa para ulama cukup sebagai bukti dan saksi sehingga sangat ironis apa yg diopinikan oleh musuh-musuh Islam bahwa motor dari fitnah takfir ini adl As-Salafiyyun. Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata: “Ringkas kata wajib bagi yg ingin mengintrospeksi diri agar tdk berbicara dlm masalah ini kecuali dgn ilmu dan keterangan dari Allah. Dan hendak berhati-hati dari perbuatan mengeluarkan seseorang dari Islam semata-mata dgn pemahaman dan anggapan baik akalnya. Karena mengeluarkan seseorang dari Islam atau memasukkan seseorang ke dlm termasuk perkara besar dari perkara-perkara agama ini.” Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata: “Pemberian vonis kafir dan fasiq bukan urusan kita namun ia dikembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya. Karena ia termasuk hukum syariah yg referensi adl Al-Qur’an dan As-Sunnah. mk wajib utk ekstra hati-hati dan teliti dlm permasalahan ini sehingga tidaklah seseorang dikafirkan dan dihukumi fasiq kecuali bila Al-Qur’an dan As-Sunnah telah menunjukkan kekafiran dan kefasikannya. Dan hukum asal bagi seorang muslim yg secara dzahir nampak ciri-ciri keislaman adl tetap berada di atas keislaman sampai benar-benar terbukti dgn dalil syar’i ada sesuatu yg menghapusnya. Tidak boleh bermudah-mudahan dlm mengkafirkan seorang muslim atau menghukumi sebagai fasiq.” Oleh krn itu Ahlus Sunnah Wal Jamaah sangat berbeda dgn orang2 Khawarij . Namun hal ini tdk menjadikan mereka seperti Murji’ah yg menyatakan bahwa kemaksiatan tdk berpengaruh sama sekali terhadap keimanan seseorang. Ahlus Sunnah wal Jamaah akan menjatuhkan vonis kafir tersebut kepada seseorang setelah benar-benar terpenuhi syarat-syarat dan tdk ada lagi sesuatu yg dapat menghalangi dari vonis tersebut
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata: “Ada dua syarat utk memvonis kafir seorang muslim
Pertama: Ada dalil yg menjelaskan bahwa perbuatan tersebut merupakan bentuk kekafiran
Kedua: Vonis ini harus diberikan kepada yg berhak mendapatkan yaitu seseorang yg benar-benar mengerti bahwa apa yg ia kerjakan merupakan suatu kekafiran dan ia sengaja dlm mengerjakannya. Jika seseorang tdk mengerti bahwa itu adl suatu kekafiran mk ia tdk berhak divonis kafir. Dasar adl firman Allah taala: وَمَنْ يُشَاقِِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَ يَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّه مَا تَوَلَّى وَنُصْلِه جَهَنَّمَ وَسَآءَتْ مَصِيرًا “Barangsiapa menentang Rasul setelah jelas bagi kebenaran dan mengikuti selain jalan orang2 mukmin kami biarkan ia leluasa bergelimang dlm kesesatan dan Kami masukkan ia ke dlm Jahannam dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” وَمَا كَانَ اللهُ لِيُضِلَّ قَوْمًا بَعْدَ إِذْ هَدَاهُمْ حَتَّى يُبَيِّنَ لَهُمْ مَا يَتَّقُوْنَ “Dan Allah sekali-kali tdk akan menyesatkan suatu kaum sesudah Allah memberi petunjuk kepada mereka hingga dijelaskan-Nya kepada mereka apa yg harus mereka jauhi.” وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِيْنَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُوْلاً “Dan Kami tdk akan mengadzab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” Namun jika seseorang sangat berlebihan di dlm meninggalkan thalabul ilmi dan mencari kejelasan mk ia tdk diberi udzur. Contoh ketika disampaikan kepada seseorang bahwa ia telah mengerjakan sebuah perbuatan kekafiran namun ia tdk mau peduli dan tdk mau mencari kejelasan tentang permasalahan mk sungguh ketika itu ia tdk mendapat udzur. Namun jika seseorang tdk bermaksud utk mengerjakan perbuatan kekafiran mk ia tdk divonis kafir. Contohnya: - Seseorang yg dipaksa utk mengerjakan kekafiran namun hati tetap kokoh di atas keimanan. - Juga seseorang yg tdk sadar atas apa yg diucapkan baik disebabkan sesuatu yg sangat menggembirakan ataupun yg lain sebagaimana ucapan seseorang yg kehilangan unta kemudian ia berbaring di bawah pohon sambil menunggu kematian ternyata unta telah berada di dekat pohon tersebut. Lalu ia pun memeluk seraya berkata: “Ya Allah Engkau hambaku dan aku Rabb-Mu.” Orang ini salah mengucap krn sangat gembira
Namun bila seseorang mengerjakan kekafiran utk gurauan mk ia dikafirkan krn ada unsur kesengajaan di dlm mengerjakan sebagaimana yg dinyatakan oleh ahlul ilmi . Kafirkah Berhukum dgn Selain Hukum Allah? Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah berkata: “Yang benar adl bahwa berhukum dgn selain hukum Allah taala mencakup dua jenis kekafiran kecil dan besar sesuai dgn keadaan pelakunya. Jika ia yakin akan wajib berhukum dgn hukum Allah namun ia condong kepada selain hukum Allah dgn suatu keyakinan bahwa ?? karena ia berhak mendapatkan hukuman dari Allah mk kafir adl kafir kecil . Jika ia berkeyakinan bahwa berhukum dgn hukum Allah itu tdk wajib -dalam keadaan ia mengetahui bahwa itu adl hukum Allah- dan ia merasa bebas utk memilih mk kafir adl kafir besar . Dan jika ia sebagai seorang yg buta tentang hukum Allah lalu ia salah dlm memutuskan mk ia dihukumi sebagai seorang yg bersalah .”
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata tentang tafsir Surat Al-Maidah ayat 44: “Berhukum dgn selain hukum Allah termasuk perbuatan Ahlul Kufur terkadang ia sebagai bentuk kekafiran yg dapat mengeluarkan pelaku dari Islam bila ia berkeyakinan akan halal dan boleh berhukum dgn selain hukum Allah tersebut dan terkadang termasuk dosa besar dan bentuk kekafiran namun ia berhak mendapatkan adzab yg pedih.”
Beliau juga berkata tentang tafsir Surat Al-Maidah ayat 45: “Ibnu ‘Abbas berkata: Kufrun duna kufrin zhulmun duna zhulmin dan fisqun duna fisqin . Disebut dgn zhulmun akbar di saat ada unsur pembolehan berhukum dgn selain hukum Allah dan termasuk dari dosa besar ketika tdk ada keyakinan halal dan boleh perbuatan tersebut.” Asy-Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi rahimahulah berkata: “Ketahuilah kesimpulan dari pembahasan ini adl bahwa kekafiran kedzaliman dan kefasikan dlm syariat ini terkadang maksud kemaksiatan dan terkadang pula maksud kekafiran yg dapat mengeluarkan dari keislaman. Barangsiapa tdk berhukum dgn hukum Allah sebagai wujud penentangan terhadap Rasul dan peniadaan terhadap hukum-hukum Allah mk kedzaliman kefasikan dan kekafiran merupakan kekafiran yg dapat mengeluarkan dari keislaman. Dan barangsiapa tdk berhukum dgn hukum Allah dgn berkeyakinan bahwa ia telah melakukan sesuatu yg haram lagi jelek mk kekafiran kedzaliman dan kefasikan tdk mengeluarkan dari keislaman.”
Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah berkata: “Barangsiapa berhukum dgn selain hukum Allah mk tdk keluar dari empat keadaan: 1. Seseorang yg mengatakan: “Aku berhukum dgn hukum ini krn ia lbh utama dari syariat Islam” mk dia kafir dgn kekafiran yg besar
2. Seseorang yg mengatakan: “Aku berhukum dgn hukum ini krn ia sama dgn syariat Islam sehingga boleh berhukum dengan dan boleh juga berhukum dgn syariat Islam” mk dia kafir dgn kekafiran yg besar
3. Seseorang yg mengatakan: “Aku berhukum dgn hukum ini namun berhukum dgn syariat Islam lbh utama akan tetapi boleh-boleh saja utk berhukum dgn selain hukum Allah” mk ia kafir dgn kekafiran yg besar
4. Seseorang yg mengatakan: “Aku berhukum dgn hukum ini” namun dia dlm keadaan yakin bahwa berhukum dgn selain hukum Allah tdk diperbolehkan. Dia juga mengatakan bahwa berhukum dgn syariat Islam lbh utama dan tdk boleh berhukum dgn selainnya. Tetapi dia seorang yg bermudah-mudahan atau dia kerjakan krn perintah dari atasan mk dia kafir dgn kekafiran yg kecil yg tdk mengeluarkan dari keislaman dan teranggap sebagai dosa besar. Refleksi Terhadap Fenomena Takfir Fenomena takfir pun ternyata masih berlanjut hingga kini. Ia tdk hanya menimpa para “aktivis” bahkan orang2 awam sekalipun tdk luput darinya. Sampai-sampai tertanam suatu paradigma yg salah bahwa siapa saja yg tdk berani mengkafirkan pemerintah-pemerintah kaum muslimin yg ada atau tokoh fulan dan fulan mk masih diragukan kualitas militansinya. Bahkan fitnah ini pun dijadikan sebagai media utk memberontak terhadap pemerintah kaum muslimin dan sebagai landasan boleh mengadakan peledakan-peledakan di negeri-negeri kaum muslimin. Wallahul Musta’an
Betapa ngeri fitnah ini padahal Rasulullah  jauh-jauh hari telah memperingatkan dgn sabdanya: إِذَا قَالَ الرَّجُلُ لِصَاحِبِهِ: يَا كَافِرُ فَإِنَّهَا تَجِبُ عَلَى أَحَدِ هِمَا فَإِنْ كَانَ الَّذِي قِيْلَ لَهُ كَافِرًا فَهُوَ كَافِرٌ وَإِلاَّ رَجَعَ إِلَيْهِ مَا قَالَ “Jika seorang lelaki berkata kepada kawannya: Wahai Kafir mk sungguh perkataan itu mengenai salah satu dari keduanya. Bila yg disebut kafir itu memang kafir mk jatuhlah hukuman kafir itu kepada namun bila tdk hukuman kafir itu kembali kepada yg mengatakannya.” Buku-buku para tokoh Ikhwanul Muslimin dan Sururiyyah pun ternyata sangat berperan di dlm memicu berkembang fitnah ini. Asy-Syaikh Muhammad bin Nashir Al-’Uraini berkata: “Sesungguh di antara media terkuat yg mereka gunakan utk menyebarkan pemikiran menyimpang lagi menyesatkan hamba-hamba Allah ini adl buku-buku yg dihiasi dgn judul-judul yg menarik utk mengesankan kepada para pembaca bahwa buku itu baik padahal isi racun yg mematikan.” . Di antara Sayyid Quthub dlm Ma’alim Fith-Thariq Fii Zhilalil Qur’an Al-‘Adalah Al-Ijtima’iyyah ataupun Al-Islam Wamusykilatul Hadharah dsb. Sebagaimana yg disaksikan oleh tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin sendiri seperti: - Yusuf Al-Qardhawi ia berkata: “Pada fase ini telah muncul buku-buku tulisan Sayyid Quthub yg merupakan pemikiran terakhir yaitu pengkafiran masyarakat dan yg demikian itu nampak jelas dlm Tafsir Fii Zhilalil Qur’an cetakan ke-2 Ma’alim Fith Thariq yg kebanyakan diambil dari Azh-Zhilal dan Al-Islam Wamusykilatul Hadharah dsb.” - Farid Abdul Khaliq ia berkata: “Telah kami singgung dlm pernyataan yg lalu bahwa pemikiran takfir bermula dari sebagian pemuda-pemuda Ikhwanul Muslimin yg meringkuk di LP Al-Qanathir di akhir-akhir tahun limapuluhan dan awal-awal tahun enampuluhan yg mana mereka terpengaruh dgn pemikiran Sayyid Quthub dan karya-karya tulisnya. Mereka menimba dari karya-karya tulis tersebut bahwa masyarakat ini berada dlm kejahiliyyahan dan pemerintah-pemerintah yg ada ini kafir krn tdk berhukum dgn hukum Allah. Demikian pula rakyat krn kerelaan mereka terhadap selain hukum Allah itu.” Demikian pula tulisan-tulisan Abul A’la Al-Maududi dlm Al-Usus Al-Akhlaqiyyah Lil Harakah Al-Islamiyyah Muhammad Surur Zainal Abidin dlm Majalah As-Sunnah dan Manhajul Anbiya Fid Da’wati Ilallah Safar Al-Hawali dlm Wa’d Kasenjer Salman Al-’Audah dlm kaset Limadza Yakhafuna minal Islam? Humum Fataat Multazimah MinhunaWahunaka dan lain sebagainya
Oleh krn itu sudah seharus bagi kaum muslimin utk menjauhkan diri dari buku-buku dan kaset-kaset tersebut dan berusaha utk menimba ilmu dari buku-buku dan kaset-kaset para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah yg bersih dari berbagai macam syubhat dan pemikiran menyimpang. Demikian pula toko-toko buku hendak tdk lagi menjual buku-buku tersebut sebagaimana yg telah diserukan oleh Asy-Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al-Madkhali di dlm kitab Al-Irhab Wa Atsaruhu ‘Alal Afrad Wal Umam hal. 128-142
Di antara hal lain yg perlu dijadikan refleksi adl tdk dipahami perbedaan antara takfir secara mutlak dgn takfir mu’ayyan yg berakibat tiap ada yg mengatakan atau melakukan perbuatan kekafiran langsung divonis sebagai orang non muslim dan dinyatakan telah keluar dari Islam
Para ulama rahimahumullah membedakan antara takfir secara mutlak dan takfir mu’ayyan. Mereka seringkali menyatakan takfir secara mutlak seperti: “Barangsiapa mengatakan atau melakukan perbuatan demikian dan demikian mk ia kafir .”Namun ketika masuk kepada takfir mu’ayyan mk mereka sangat berhati-hati. Karena tdk semua yg mengatakan atau melakukan perbuatan kekafiran berhak divonis kafir. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Suatu perkataan kadangkala termasuk dari bentuk kekafiran mk pelaku boleh dikafirkan secara umum dgn dikatakan: ‘Barangsiapa mengatakan demikian mk ia kafir .’ Namun utk pribadi orang yg mengatakan tidaklah langsung divonis kafir sampai benar-benar tegak kepada hujjah.” . Beliau juga berkata: “Dan tidaklah tiap yg mengatakan kekafiran harus divonis kafir sampai benar-benar terpenuhi syarat-syarat pengkafiran dan tdk ada lagi sesuatu yg menghalangi vonis tersebut. Misal seorang yg menyatakan: ‘Sesungguh khamr atau riba itu halal’ dikarenakan ia baru masuk Islam atau dikarenakan hidup di daerah yg sangat terpencil . Atau mengingkari suatu perkataan dlm keadaan ia tdk tahu bahwa itu dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.. mk tdk dikafirkan sampai benar-benar tegak kepada mereka hujjah tentang risalah yg dibawa oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebagaimana firman Allah taala: لِـئَلاَّ يـَكُـوْنَ لِلنَّا سِ عَلَى اللهِ حُجَّـةٌ بـَعْدَ الرُسُلِ “Agar tdk ada alasan bagi manusia utk membantah Allah sesudah diutus rasul-rasul itu.” . Dan Allah telah mengampuni segala kekeliruan dan kealpaan umat ini. . Wallahul a’lam bish shawab
Penutup Demikianlah apa yg bisa kami sampaikan tentang fitnah takfir dan bahaya berikut pula manhaj Ahlussunnah Wal Jamaah dlm masalah ini serta beberapa refleksi dari fenomena takfir. Semoga Allah taala senantiasa menganugerahkan hidayah dan taufiq-Nya kepada kita serta melindungi kita semua dari berbagai macam fitnah baik yg tampak maupun tdk tampak. Amiin Ya Mujiibas Sailiin

Sumber: www.asysyariah.com