“Hai orang-orang yg beriman hendaklah kamu menjadi orang-orang yg selalu menegakkan keadilan krn Allah menjadi saksi dgn adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu utk berlaku tidak adil. Berlaku adillah krn adil itu lbh dekat pada ketakwaan. Dan bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Mempertemukan keadilan dan kebencian dalam sebuah tulisan mungkin hal yg mudah krn kita hanya tinggal menulis kedua kata-kata itu. Yang sulit adl mempertemukan keadilan dgn kebencian dalam hati.

Hampir dapat dipastikan bahwa keadilan akan menguap jika kebencian menguasai hati seseorang. Mau tak mau kita juga harus mengatakan bahwa inilah salah satu penyakit penegakkan hukum di negara ini di samping hukumnya masih hukum jahiliyyah. Begitu juga sebaliknya rasa cinta pada seseorang atau suatu kaum bisa menjadi penghalang tegaknya keadilan. Ditambah lagi dgn kesaksian palsu yg semakin sering dilakukan oleh orang-orang demi kepentingan tertentu.

Sepertinya kejujuran hanya tinggal beberapa persen lagi dalam jiwa bangsa ini. Karena hampir tiap sektor kehidupannya sudah dirongrong oleh tipu-menipu dusta kepalsuan dan kebohongan. Oleh krn itu dalam mengemban tugas menegakkan hukum Allah di muka bumi ini orang-orang beriman diperintahkan oleh Allah Ta’ala utk menegakkan keadilan dan kesaksian dgn benar dan adil krn Allah semata. Karena motivasi lain selain itu akan menjerumuskan manusia ke dalam ketidakjujuran dan ketidakadilan. Akibatnya kehancuran tatanan hidup yg manusiawi penindasan dan kesewenang-wenangan akan merajalela. Otomatis kedamaian akan menjauh.

Adalah sulit memang bagi seorang hakim yg menyimpan kebencian terhadap terdakwa utk memutuskan vonis yg adil kecuali orang-orang beriman yg bertakwa kepada Allah krn bagaimanapun ia pasti akan mempertanggungjawabkan perbuatannya di akhirat kelak. Karena sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala yg dikerjakan oleh hamba-Nya. Tidak ada yg tersembunyi dari Allah sedikit pun. Maka sekecil apa pun kebaikan yg dilakukan seseorang Allah akan membalasnya dan sekecil apa pun keburukan yg dilakukan seseorang Allah pasti membalasnya. Inilah perbedaan Islam dgn demokrasi.

Demokrasi menyuarakan bahwa keadilan demi rakyat. Padahal dgn kekuasaan di tangan seorang penguasa akan dgn leluasa menelabuhi rakyat. Seorang hakim akan leluasa mempermainkan hukum krn tidak ada yg ditakutinya. Maka tak heran kalau banyak pemimpin menyuarakan demokrasi dgn penuh semangat. Dengan demokrasi seolah-olah rakyat diberi kedaulatan dan kebebasan namun hakekatnya adl hanya sekedar membesarkan hati rakyat bahwa mereka ikut terlibat dalam proses pembangunan bangsa dan negaranya walaupun dalam peranan yg sesungguhnya mereka hampir tidak bisa berbuat apa-apa.

Jangan pernah mengharapkan keadilan jika hukum kita masih hukum jahiliyyah jangan pernah mengharap keadilan jika aparat hukum kita masih orang-orang tak beriman tak bertakwa. Jangan mengharap keadilan jika mata kita masih silau melihat harta dan tahta. Selanjutnya definisi keadilan tentunya berbeda-beda menurut tiap orang. Sehingga tentunya tidak pernah memuaskan. Mereka akan terus berselisih kecuali orang yg beriman kepada Allah dan berpegang teguh pada hukum Allah.

Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Sumber Antara Keadilan dan Kebencian, Allah Maha Mengetahui Apa yang Kita Kerjakan file al_islam.chm