Firqah-firqah yg menyalahi Ahlu Sunnah wal Jama’ah adl Murji’ah Khawarij Rafidhah Qadariyah dan Jahmiyah.

Murji’ah. Golongan ini yg pertama kali berpendapat bahwa amal perbuatan tidak termasuk iman. Pada umumnya perselisihan mereka dalam masalah lafazh bukan masalah hukum. Kemudian pendapat-pendapat mereka meningkat lbh berat hingga menyepakati pengabaian nilai-nilai amalan. Sebagian mereka tidak wajib melaksanakan faraidh dan tidak perlu menjauhi hal-hal yg diharamkan. Mereka menganggap cukup dgn mengatakan beriman.

Khawarij. Prinsip mazhab mereka adl mengagungkan Alquran dan menuntut utk diikutinya tetapi mereka keliru dalam memahaminya dan keluar dari Sunnah dan Jama’ah. Di samping itu mereka membenarkan bahwa Nabi berbuat dzalim. Mereka tidak mematuhi hukum-hukumnya dan tidak pula hukum-hukum para imam sesudahnya. Mereka tidak mengikuti Sunnah yg mereka anggap bertentangan dgn Alquran seperti hukum rajam menolak kadar nishab utk hukuman potongan tangan bagi si pencuri dan lainnya. Mereka juga mengafirkan orang yg menyalahi pendapat mereka. Karena menurut mereka barangsiapa yg menyalahi Alquran patut dikafirkan meskipun ia hanya keliru atau merasa berbuat dosa padahal ia meyakini kewajiban dan keharamannya. Mereka juga menghalalkan darah penentangnya krn dianggap murtad. Akan tetapi mereka justru tidak menghalalkan darah orang non muslim. Bid’ah mereka dalam mengafirkan kaum muslimin krn dosa-dosa dan kekeliruannya merupakan bid’ah pertama yg muncul dalam Islam.

Rafidhah atau Syi’ah. Pokok pendapat mereka adl bahwa sesungguhnya Nabi telah mengangkat Ali dgn pengangkatan yg tak terbantahkan. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa Ali ra lbh utama daripada Abu Bakar dan Umar. Golongan Sabah membolehkan mencaci maki Abu Bakar dan Umar sedangkan golongan ekstrim berkeyakinan secara berlebihan hingga mempertuhankan Ali ra. Rafidhah berpendapat bahwa Ali itu ma’shum dan menganggap kafir orang yg menentangnya. Mereka menganggap bahwa para sahabat Muhajirin dan Anshar telah menyembunyikan nash tentang pengangkatan Ali mengingkari keimamannya yg ma’shum mengikuti hwa nfsu (**) mereka mengganti agama mengubah syariat berlaku aniaya dan melampui batas. Mereka menganggap bahwa para sahabat itu kafir kecuali sedikit dari mereka. Mereka juga berpendapat bahwa para imam mereka ma’shum mengetahui segala sesuatu dan merupakan sumber kebenaran dan ilmu bukan Alquran dan as-Sunnah. Mereka termasuk golongan yg paling berdusta dan yg paling banyak mengidap banyak kedengkian terhadap Ahlu Sunnah wal Jama’ah. Jumhur mereka menyebut dan memvonis Ahlu Sunnah lbh kafir dari Yahudi dan Nashrani sebab menurut mereka Ahli Sunnah itu murtad. Oleh krn itu mereka bersekongkol dgn orang-orang non muslim orang-orang musyrik dan Ahli Kitab utk melawan Ahlu Sunnah wal Jama’ah. Mereka merupakan golongan bid’ah yg jauh dari Alquran dan Sunnah mereka sangat berbahaya bagi Islam dan pemeluknya. Dari merekalah lahir induk-induk zindik dan munafik seperti al-Qaramithah al-Bathiniyah dan sejenisnya. Sebagian besar imam mereka juga adl zindiq yg menampakkan sikap penolakan terhadap Islam krn ini merupakan cara utk menjatuhkan Islam.

Qadariyah atau Mu’tazilah. Akal mereka tak berdaya menyatukan iman dgn takdir iman dgn perintah serta larangan janji serta ancaman dan mereka menyangka bahwa hal demikian tidak mungkin. Oleh sebab itu mereka berkeyakinan bahwa Allah SWT tidak menghendaki kecuali apa yg diperintahkan dan tidak menciptakan amalan para hamba sama sekali sehingga menafikan kekuasaan kehendak serta ilmu Allah. Mereka menyerupai Majusi dalam berbuat syirik rububiyah dgn menjadikan selain Allah sebagai Pencipta. Mereka menamakan Jama’ah dan as-Sawaadul A’dzam dari Ahlu Sunnah wal Jama’ah sebagai orang awam atau rakyat jelata.

Prinsip-prinsip ajaran mereka ada lima

  • Tauhid Prinsip ini menurut mereka mencakup pengingkaran dan penolakan tentang sifat-sifat Allah.
  • Adil Menurut mereka adil ini mencakup pengingkaran terhadap takdir Allah bahkan golongan ekstrim dari mereka menafikan ilmu Allah yg qadim.
  • Manzilah bainal Manzilatain Menurut mereka orang fasik tidak bisa disebut orang beriman pada satu aspek dan tidak pula disebut orang non muslim maka mereka menempatkannya pada posisi di antara dua kedudukan.
  • Pelaksanaan ancaman siksa Menurut mereka orang Islam yg berbuat fasik kekal di dalam neraka dan tidak akan dikeluarkan krn syafaat atau lainnya sama dgn pendapat kaum khawarij.
  • Amar ma’ruf nahi munkar Menurut mereka prinsip ini meliputi diperbolehkannya keluar menentang para Imam dan memerangi mereka dgn pedang.
  • Jahmiyah. Mereka menganggap bahwa qadar itu menyalahi syari’at sehingga mereka menolak kebijaksanaan dan keadilan Allah. Mereka mengatakan bahwa sesungguhnya seorang hamba tidak memiliki perbuatan dan kekuatan sama sekali yg berbuat dan berkuasa hanyalah Allah semata-mata. Oleh krn itu Allah hanya mempunyai sifat kuasa tanpa sifat-sifat lainnya.Mereka berkata “Tidak ada perbedan antara yg diperintahkan dan yg dilarang Allah. Seluruhnya sama. Demikian juga antara para wali dan musuh-musuh-Nya serta antara yg dicintai dan yg dibenci-Nya. Dia hanya membedakan antara dua hal yg serupa semata-mata berdasarkan masyi’ah . Dia memerintahkan ini dan melarang ini.” Mereka mengingkari perbedaan dan pembagian antara tauhid dan syirik antara iman dan kufur antara ketaatan dan kemaksiatan serta antara halal dan haram. Mereka menjadikan iman hanya sebagai pengetahuan semata-mata. Menurut mereka tidak ada perbedaan antara beribadah kepada Allah dan beribadah kepada selain-Nya. Bahkan mereka membolehkan beribadah kepada selain-Nya sebagaimana halnya mereka membolehkan beribadah kepada-Nya. Sehingga puncak tauhid mereka adl ketauhidan orang musyrik. Orang arif menurut mereka adl orang yg tidak menganggap buruk sesuatu yg buruk mereka juga mengingkari syariat dan nubuwwah . Secara batin mereka adl munafik dan musyrik lahir dan batin.

Macam-macam Bid’ah

Ahli Sunnah membedakan antara bid’ah yg ringan dan perselisihan yg lafdziyah dgn bid’ah berat dan perselisihan mengenai hakikat makna serta prinsip-prinsip besar. Oleh krn itu mereka membagi bid’ah menjadi bermacam-macam

  1. Bid’ah yg pelakunya tidak dikafirkan seperti Murji’ah dan Syiah Mufadhilah.
  2. Bid’ah yg pelakunya masih diperselisihkan kekafirannya seperti Khawaij dan Rafidhah.
  3. Bid’ah yg pelakunya dikafirkan secara umum bukan terhadap kelompok tertentu seperti Jahmiyah murni.

Akan tetapi selain itu mereka juga membedakan antara hukum umum atas pelaku-pelaku bid’ah dgn tuduhan maksiat fasik atau kafir dgn hukum terhadap pribadi tertentu -bagi orang yg menetapkan Islamnya secara yakin- yg melakukan salah satu dari bid’ah-bid’ah tersebut dgn tuduhan maksiat fasik atau kafir. Dengan demikian terhadap pribadi-pribadi tertentu mereka tidak menghukuminya sampai pendapatnya jelas bertentangan dgn Sunnah berdasarkan hujjah yg kuat tanpa keraguan. Sebagaimana mereka membedakan antara nash-nash ancaman yg bersifat umum dgn patut atau tidaknya seseorang dikenai ancaman tersebut di akhirat. Karena ada kalanya hukum ancaman itu tidak dikenakan kepada orang-orang tertentu disebabkan ia telah bertaubat atau mempunyai kebaikan-kebaikan yg dapat menghapus dosa-dosanya atau ditimpa musibah yg dapat menutupi dosa-dosanya atau krn mendapat syafaat. Oleh krn itu seseorang tidak bisa ditetapkan apakah ia masuk sorga atau neraka kecuali disertai dalil-dali khusus.

Pengafiran termasuk hukuman. Oleh sebab itu perkataan atau pendapat pelaku bid’ah yg mendustakan sabda Nabi bisa diampuni. Karena boleh jadi orang tersebut baru masuk Islam atau ia dibesarkan di kampung yg terpencil atau ia tidak mendapatkan nash-nash yg jelas atau ia menghadapi kesulitan sehingga ia harus menakwilkannya tetapi keliru. Maka orang yg berijtihad dan melakukan takwil dalam rangka mengikuti Rasul serta orang awam yg bertaklid demi mengikuti qudwah Nabi diampuni kesalahan-kesalahannya. Ahlu Sunnah tidak mengafirkan seorang pun dari kaum muslimin sekalipun ia melakukan kesalahan sampai diperoleh hujjah risaliyah yg menjelaskan bahwa ia menentang Rasul. Karena menentukan hukum itu diperlukan syarat-syarat yg kuat dan tidak ada sesuatu yg menghalangi. Barangsiapa telah jelas keislamannya maka tidaklah dapat digugurkan dgn alasan yg meragukan. Dia tetap muslim kecuali diperoleh hujjah yg kuat dan tidak ada kesamaran yg menunjukkan ketidakislamannya. Ahlu Sunnah tidak membolehkan mengafirkan atau menganggap fasik seseorang bahkan mereka tidak menganggap berdosa ulama yg keliru dalam melakukan ijtihad atau melakukan takwil terlalu jauh lebih-lebih masalah dzanniyah yg diperselisihkan. Mereka membedakan antara pelaku bid’ah dari ahli kiblat -sekalipun bid’ah mereka berat- dgn orang yg diketahui kekafirannya melalui kacamata Dinul Islam seperti kaum musyrikin dan ahli kitab. Maka mereka terapkan hukum Islam yg dzahir kepada pelaku bid’ah itu meskipun mereka tahu bahwa diantara mereka terdapat orang-orang munafik yg berada di dasar neraka dan kafir di dalam batin. Dan jika diketahui keadaannya maka ia pun kafir secara lahiriyah.

Bid’ah-bid’ah pengikut hwa nfsu (**) dikenal menyalahi Alquran dan Sunnah seperti bid’ah yg dilakukan kaum Khawarij Rafidhah Qadariyah Murji’ah dan Jahamiyah. Barangsiapa menentang Kitabullah Sunnah dan Ijma’ ulama salaf maka ia diperlakukan sebagai ahli bid’ah. Tujuan utama Ahlu Sunnah terhadap ahli bid’ah ialah menjelaskan perihal mereka dan memperingatkan umat agar berhati-hati terhadap pendapat-pendapat mereka yg merusak disamping menjelaskan Sunnah dan memperkenalkannya. Kemudian memerangi bid’ah dan menolak kezaliman serta pelanggaran pelakunya. Para Imam Sunnah sepakat bahwa bid’ah yg berat lbh buruk daripada dosa-dosa yg diakui oleh pelakunya. Untuk itulah wajib menghentikan ahli bid’ah dan menolak kejahatan mereka meskipun dgn memerangi dan membunuh mereka jika kejahatannya tidak dapat dihentikan kecuali dgn cara seperti itu. Ulama salaf memerintahkan membunuh penyeru bid’ah yg dapat menyesatkan umat manusia mengingat bahayanya terhadap Islam baik mereka yg dianggap kafir maupun tidak. Sebab disyariatkannya hukum di dunia ini utk menolak atau menghentikan tindak kedzaliman dan pelanggaran sekalipun menghilangkan madharat dan kerusakan. Hukuman duniawi tidaklah mengharuskan adanya hukuman akhirat bahkan sebaliknya.

Terkadang seseoang yg melakukan bid’ah krn keliru dalam melakukan ijtihad atau krn melakukan takwil yg jauh lalu mencampuradukkan Sunnah dgn bid’ah dgn kebaikan dan keburukan. Perbuatan Sunnah dan kebaikan yg dilakukannya patut mendapat dukungan dan pahala sedangkan perbuatan bid’ah dan kejelekannya patut dibenci dan dihukum. Adakalanya Imam dan ahli ilmu serta Ahli Din tidak menyalati jenazahnya utk memperingatkan orang lain agar tidak melakukan bid’ah seperti yg dilakukannya. Tetapi mereka membolehkan orang lain menyalatkannya dan memohonkan ampun secara rahasia . Barangsiapa yg diketahui kemunafikannya seperti kaum Rafidhah yg ekstrem dari golongan Nushairiyah Ismailiyah dan yg lainnya dan seperti orang-orang yg melampui batas terhadap guru-gurunya yg menyembah orang hidup dan yg sudah mati orang yg menyembah kuburan-kuburan dan kubah-kubah serta seperti pengikut faham wahdatul wujud hulul dan ittihad. Mereka adl orang-orang murtad yg lbh buruk daripada orang murtad biasa dan lbh kafir dibandingkan dgn orang non muslim asli dan ahli kitab. Oleh krn itu tidak dihalalkan menikahi wanita mereka dan memakan sembelihan mereka.

Mereka juga tidak boleh tinggal tetap di tengah-tengah kaum muslimin tidak dipungut jizyah dan tidak dilindungi. Jika mereka tidak mau kembali ke jalan yg benar mereka wajib diperangi sebagaimana halnya kaum murtad. Ahlu Sunnah membedakan antara ahli bid’ah yg aktif menyerukan bid’ahnya dan yg pasif. Ahli bid’ah yg menyeru kepada bid’ah dan menampakkan perbuatannya kepada khalayak maka ia patut dihukum dgn hukuman pengasingan ditolak kesaksiannya dilarang salat dibelakangnya tidak boleh mengambil darinya dan tidak boleh mengawinkan muslimah dengannya. Ini merupakan hukuman baginya hingga ia menghentikan seruannya. Sedangkan bagi yg menyembunyikan dan menutupi bid’ahnya -yang tidak dikafirkan- maka paling jauh ia ditempatkan pada kedudukan seperti orang munafik yg sikap lahiriyahnya diterima oleh Nabi dan isi hatinya beliau serahkan kepada Allah. Ia diingkari secara diam-diam jika bahayanya tidak menimpa orang lain dan tidak dikhawatirkan menyesatkan manusia. Meskipun begitu keadaan mereka perlu dijelaskan kepada umat agar hati -hati dan mewaspadainya. Dalam menyingkap perihal ahli bid’ah mengingatkan manusia agar mewaspadainya termasuk usaha mengingkari dgn lisan memutuskan hubungan dgn mereka bahkan dgn kekerasan Ahlu Sunnah menggunakan dua pedoman yg bersifat syar’i

Pertama Landasan mereka adl keikhlasan kepada Allah Rasul-Nya dan kaum muslimin demi menaati Allah mengharap kebaikan menolak kemudharatan kasih sayang dan kemashlahatan bersama. Selain itu tidak bercampur dgn sentimen pribadi permusuhan duniawi kebencian kedengkian dan persaingan jabatan. Karena adakalanya manusia pada lahirnya menampakkan kejujuran namun sebenarnya memendam kebencian di dalam hatinya. Kemudian ia merusak kehormatan harta dan darah orang lain tanpa mendasarkan tindakannya pada aturan Allah serta tanpa tujuan yg benar. Tetapi semata-mata demi kepentingan pribadinya bukan demi menegakkan syariat.

Kedua Tindakan pengingkaran dgn pemutusan hubungan dgn tangan atau dgn lisan sesuai dgn perintah syara’ adl utk kemaslahatan dan menolak mafsadat sesuai dgn situasi dan kondisi. Jika tidak demikian maka amalan-amalan tersebut tidak disyariatkan. Pemutusan hubungan misalnya jika tidak menjadikan pelaku bid’ah jera bahkan semakin bertambah keadaannya terutama terhadap orang yg lemah dan kerusakan yg ditimbulkan lbh besar daripada kemaslahatan yg diharapkan maka pemutusan hubungan seperti itu tidak disyariatkan. Dengan demikian menyatukan hati sesama pelaku bid’ah akan menjadi lbh baik daripada pemutusan hubungan. Prinsip syara’ sebenarnya bertujuan melindungi darah harta dan kehormatan orang muslmin. Maka jika pelaku bid’ah bercampur dgn yg lainnya hendaklah diperlakukan sesuai kenyataan lahiriyah dan dipenuhi haknya. Tidak boleh membunuh seseorang krn kesalahan orang lain dan tidak boleh menolak bid’ah dgn bid’ah lainnya.

Pada prinsipnya jika seorang muslim berdiam di suatu tempat yg menjunjung tinggi syi’ar Sunnah hendaklah ia melakukan salat berjama’ah dan salat jum’ah bersama kaum muslimin lainnya mendukung mereka dan tidak memusuhi mereka. Jika melihat sebagian dari mereka menyimpang hendaklah menunjukkan dan meluruskannya jika mampu. Tetapi jika tidak mampu melaksanakannya maka Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dgn kemampuannya. Dan tidak boleh mengafirkan seorang muslim disebabkan dosa yg diperbuatnya seperti dalam perkara-perkara yg diperselisihkan ahli kiblat. Apabila hwa nfsu (**) telah merajalela dan orang muslim tidak menyukai salat di belakang orang yg tidak dikenalnya maka boleh saja ia berbuat demikian dgn tidak mengingkari orang yg berbeda pendapat dengannya dan tidak menyia-nyiakan kewajibannya seperti salat berjama’ah dan salat jum’at bagi yg berpendapat bahwa salat jama’ah itu wajib. Sebab salat di belakang orang yg tidak diketahui keadaannya diperbolehkan menurut Ahlu Sunnah. Dan barangsiapa yg melarang atau menganggap batal salat di belakang orang yg tidak diketahui keadaannya maka ia telah menyalahi Ahlu Sunnah wal Jama’ah. Seorang muslim tidak diperbolehkan menyalatkan dan mendoakan orang yg jelas-jelas diketahui kemunafikannya. Maka bagi tiap orang yg tidak di ketahui kekufuran dan kemunafikannya diperbolehkan menyalatkan dan memohonkan ampunan baginya sekalipun ia berbuat bid’ah dan pelanggaran .

Sumber Ahlus Sunnah wal Jama’ah Ma’alimul Inthilaaqah al-Kubraa Muhammad Abdul Hadi al-Mishri Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia. sumber file al_islam.chm